Apa Sebenarnya yang Bisa Membuat Kita Bahagia?

Kekayaan harta benda, ketenaran, kesuksesan karir pekerjaan hingga kekuasaan politik, memberikan kontribusi dalam hal kebahagiaan.

Senin, 20 Februari 2023 | 14:56 WIB
0
87
Apa Sebenarnya yang Bisa Membuat Kita Bahagia?
Ilustrasi bahagia (Foto: cermin.com)

Manusia yang kejiwaannya normal atau sehat, tentunya menginginkan kebahagiaan dalam kehidupan yang sedang dijalaninya. Apa sebenarnya yang benar-benar terbukti valid bisa membuat kita bahagia? Kekayaan harta benda?! Ketenaran?! Kesuksesan dalam karir pekerjaan?! Kekuasaan politik?!  

Beberapa tahun yang lalu, sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80% dari milenial yang disurvei mengatakan bahwa tujuan hidupnya adalah menjadi kaya raya, dan 50%-nya mengatakan ingin jadi orang yang terkenal.

Benarkah demikian? Bukan, bukan. Banyak sekali bukti-bukti dari lembaran-lembaran masa lalu yang menunjukkan bahwa kekayaan, ketenaran, kesuksesan dalam karir pekerjaan  atau kekuasaan, tidak berhubungan langsung dengan kebahagian.

Banyak contoh orang yang kaya raya, tenar, terkenal sukses dalam suatu bisnis, dan memiliki kekuasaan publik yang sangat berpengaruh, namun kehidupan pribadinya berantakan. Mulai dari Firaun hingga Chester Bennington. Ada yang jadi gila, bahkan sampai membunuh seluruh keluarga dan dirinya sendiri. Kemungkinan besar para pembaca sudah mengetahui bahwa ada satu contoh nyata yang sedang berlangsung di depan mata kita, kasus Sambo dan istrinya.

Di sisi lain, saya sendiri pernah menyaksikan langsung beberapa pasutri yang bahagia, padahal bisa dikatakan mereka tidak memiliki apa-apa, apalagi yang namanya kekuasaan. Samasekali tidak tenar, pekerjaannya memulung sampah, buruh kasar atau jualan es campur di tepi jalan di atas gerobak butut.

Beberapa waktu yang lalu, Iqbal Aji Daryono, seorang penulis profesional dari Yogya, menyarankan buku The Geography of Bliss karya Eric Weiner dalam sebuah postingannya di Facebook. Dia sangat merekomendasikan buku dari penulis favoritnya itu sebagai bahan pembelajaran dalam dunia kepenulisan. Hal utama yang membuat saya tertarik untuk membacanya, walaupun gak gitu tau isi bukunya tentang apa.

Seminggu kemudian, buku itu berada di tanganku, kubaca dengan santai. Yap, gaya kepenulisan Eric memang sangat bagus, sangat menarik, ngebacanya asyik. Setelah membacanya beberapa bab, sayapun memahami bahwa buku tersebut bercerita tentang misinya dalam mencari kebahagiaan di berbagai belahan dunia. Mulai dari Belanda negeri kebebasan cimeng dan prostitusinya, Swiss dengan ketenangan, kerapian, kebersihan dan alamnya yang sangat indah, hingga Amerika dengan keadidayaan dan kebebasan berpikirnya. Dia penasaran hal apa yang membuat negara-negara tersebut berada dalam daftar negara yang paling berbahagia di dunia pada masa buku itu dibuat, tahun 2008.

Saya jadi tertarik dengan topik kebahagiaan dan tergerak untuk ngebahasnya. Mula-mula mengingatkanku pada filem The Pursuit of Happynes, filem yang menceritakan bagaimana Chris Gardner bisa melalui fase kehidupannya yang sangat berat bersama putranya yang masih kecil, hingga akhirnya bisa mencapai kebahagiaan yang diinginkannya. Selanjutnya teringat dengan buku “Kimia Kebahagiaan” karya Imam Al-Ghaali.

Imam Al-Ghazali membagi dua jenis kebahagiaan, kebahagiaan semu, duniawi dan kebahagian hakiki, akhirat. Beliau memaparkan cara memperoleh kebahagiaan yang hakiki dengan cara mengenal diri sendiri, mengenal Allah Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta, mengenal dunia dan mengenal akhirat.

Terakhir, saya menemukan sebuah penelitian ilmiah tentang kebahagiaan yang sangat menarik. Penelitian terbesar dan terlama yang pernah dilakukan manusia terkait tumbuh kembang manusia. Harvard Study of Adult Development. Penelitian tersebut dimulai dari tahun 1938, 85 tahun yang lalu.

Mereka meneliti pertumbuhan dan perkembangan 724 orang yang menjadi objek penelitian. Setiap dua tahun mereka mencatat kondisi pekerjaan, kehidupan pribadi hingga kondisi kesehatannya.

Sekitar 60 orang masih hidup hingga tahun 2016, usia mereka sudah mencapai 90an. Tahap kedua dari penelitian tersebut sedang berlangsung, meneliti kehidupan sebanyak lebih dari 2000 orang keturunan dari objek penelitian tahap pertama.

Melalui TEDx, Robert Waldinger, direktur ke-empat dari penelitian tersebut, mengatakan bahwa satu hal yang sangat jelas dari hasil penelitian mereka adalah, “Good relationships keep us happier and healthier.”

Selanjutnya dia memaparkan tiga pelajaran besar yang sangat berharga terkait hubungan sosial. Pertama, jaringan sosial sangat baik bagi kita dan kesepian atau kesendirian bersifat toksik.

Orang-orang yang secara sosial terkoneksi dengan istri, anak-anak, keluarga, teman-teman dan komunitas, lebih bahagia, lebih sehat dan usianya lebih panjang. Kedua, kualitas hubungan sosial jauh lebih penting daripada kuantitasnya.

Terakhir, hubungan sosial yang baik bukan hanya melindungi kesehatan tubuh, tetapi juga melindungi fungsi otak, menjaga memori dan jauh dari kepikunan.

Ketika saya menelaah penelitian tersebut, sebagai seorang muslim, muncul sebuah ingatan yang sangat familiar. Muhammad Rasulullah telah menyampaikan sekitar 15 abad yang lalu bahwa menjaga hubungan baik dengan lingkungan sosial (silaturrahmi/silaturrahim) melapangkan rezeki dan memanjangkan umur.

Sampai disini, sebenarnya sudah sangat jelas apa yang benar-benar bisa membuat kita bahagia. Jelas saya tidak memungkiri bahwa kekayaan harta benda, ketenaran, kesuksesan karir pekerjaan hingga kekuasaan politik, memberikan kontribusi dalam hal kebahagiaan.

Hanya saja bukan faktor yang utama. Darisini kita juga memperoleh hikmah mengenai letak keadilan Tuhan terhadap seluruh manusia, apapun latar belakangnya. Semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kebahagiaan yang hakiki.

 ***