Saatnya negara yang mayoritasnya Muslim kembali hijrah. Kembali ikut menjadi mercu suar kemajuan ilmu. Bukankah kini ilmu pengetahuan yang menjadi fondasi peradaban modern?
Sesuatu telah terjadi pada berbagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Untuk kasus Covid-19, dua data dunia ini dapat menjadi renungan.
Pertama adalah list negara yang paling banyak terpapar virus corona. Worldometer menyediakan data itu.
Hingga esai ini ditulis, 15 Febuari 2021, dalam rangking 50 negara yang paling banyak terpapar virus corona, terdapat banyak negara yang mayoriitasnya Muslim. (1)
Yaitu Turki (rangking 9), Iran (15), Indonesia (19), Irak (28), Pakistan (30), Bangladesh (33), Maroko (34), Saudi Arabia (39), Jordania (41), Lebanon (42), dan Malaysia (49).
Dalam rangking 50 negara paling banyak terpapar virus corona, terdapat 11 negara yang mayoritas penduduknya Muslim.
Kini kita lihat data kedua. Ini list vaksin covid 19 dan asal negara yang diotorisasi oleh WHO.
Terdapat 10 vaksin yang sudah diotorisasi (vassice otorized for emergency use or approved for full used).
Sepuluh vaksin covid 19 itu dan asal negaranya sebagai berikut. BBIBP-Corv (Cina), Sputnik V (Rusia), Pfizer (USA, Germany), Moderna (USA), Oxford-Aztrazenaca (United Kingdom), Coronavac (Cina), Ad5-Ncov (Cina), EpiVac Corona (Rusia), BBV152 (India), Ad26. Cov2.S (Netherland, United States). (2)
Tiga vaksin berasal dari Cina. Dua vaksin dari Rusia. Dua vaksin dari Amerika Serikat. Lalu Jerman, United Kingdom, India, dan Netherland masing masing menyumbang satu vaksin.
Muncul pertanyaan. Mengapa tak satupun negara mayoritas Muslim menyumbangkan penemuan vaksin 19 yang sudah diotorisasi oleh WHO?
Dilihat asal negara, dan agama populasinya, negara yang mayoritas Kristen, Hindu, bahkan tak beragama, berhasil menyediakan vaksin untuk covid 19.
Bukankah banyak negara yang mayoritas Muslim ikut terpapar Virus Corona? Bukankah menyediakan vaksin itu bagian dari menolong kemanusiaan yang merupakan inti ajaran agama, termasuk agama Islam?
Data itu menjadi pengantar untuk masuk pada tema yang lebih besar.Tak adanya vaksin covid 19 yang sudah diotorisasi berasal dari negara mayoritas Muslim pastilah bukan tak ada niat baik.
Ini yang terjadi. Lebih dari 50 negara yang mayoritasnya Muslim tak punya kemampuan ilmiah sebaiknya negara non- Muslim. Ini fakta. Ini data. Ini realitas.
Ketidak mampuan ilmiah negara Muslim itu tak ada hubungan dengan doktrin agama. Apalagi ada banyak pula tafsir dalam satu agama.
Kawasan Muslim, dengan kitab suci dan Nabi yang sama, pernah paling menonjol dalam ilmu pengetahuan, dibandingkan kawasan lain, yang non-Muslim.
Itu di era golden age of Islam, tahun 786-1258. Aneka jenis ilmu pengetahuan tumbuh paling pesat justru di kawasan Muslim, dibawah
the Umayyads of Córdoba, the Abbadids of Seville, the Samanids, the Ziyarids, the Buyids in Persia, the Abbasid Caliphate. (3)
Ilmu berkembang di kawasan Muslim mulai dari astronomi, matematik, medicine, kimia, botani, agronomi, geography hingga zoologi.
Dua kesimpulan dapat ditarik dari data itu.
Pertama, telah terjadi kemerosotan peradaban ilmu di kawasan Muslim sejak 1258- 2021. Selama kurang lebih 763 tahun, kawasan Muslim semakin redup, sementara kawasan non- Muslim justru semakin bersinar.
Kedua, perkembangan ilmu, setidaknya soal vaksin di atas, tak ada hubungan dengan agama.
Apapun agamanya, bahkan negara yang mayoritasnya tak beragama sekalipun, bisa mundur atau maju dalam ilmu pengetahuan, tergantung bukan pada kitab suci yang diyakini. Tapi itu tergantung dari kegiatan di labolatoriumnya.
Bukan kitab suci tapi labolatorium, universitas, komunitas ilmiah, komitmen pemerintah dan pengusaha untuk menyediakan dana riset. Itulah kunci kemajuan ilmu pengetahuan.
Mengapa bahkan negara yang mayoritasnya tak percaya agama seperti Cina lebih menyumbangkan vaksin covid-19?
Itu karena instink survival sudah tertanam dalam gen, DNA, homo sapiens sejak 300 ribu tahun lalu. Sementara agama yang kini dominan baru lahir paling lama 3000 tahun lalu.
Baru satu persen dari usia homo sapiens (3000 tahun dari 300.000 tahun) yang dihadiri oleh agama yang kini dominan. Selama 99 persen sejarah homo sapiens, mereka bisa survive, bekerja sama, membuat kemajuan, mengerjakan kebaikan, dengan caranya sendiri.
Adalah instink itu yang bekerja, walaupun mereka tak beragama seperti agama yang dominan sekarang.
Jika sebuah negara ingin maju dalam ilmu pengetahuan, ini rekomendasinya. Bukan penuhi ruang publik dengan jargon agama, tapi majukan universitas, komunitas ilmu dan labolatorium.
Saatnya negara yang mayoritasnya Muslim kembali hijrah. Kembali ikut menjadi mercu suar kemajuan ilmu. Bukankah kini ilmu pengetahuan yang menjadi fondasi peradaban modern?
Kasus vaksin covid-19 dapat menjadi pemicu.
Febuari 2021
Denny JA
1. List negara yang paling banyak terpapar virus corona
2. List 10 vaksin yang sudah diotorisasi WHO untuk emergency use dan full use
3. Kawasan Muslim pernah menjadi pusat peradaban ilmu dunia di era golden age, 786-1289
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews