Tak Ada Paksaan dalam Beragama

Tapi jangan paksa siapa pun untuk beriman dan mengimani apa yang kita imani karena itu dilarang oleh Tuhan yang kita imani.

Rabu, 11 Mei 2022 | 07:09 WIB
0
119
Tak Ada Paksaan dalam Beragama
Ilustrasi beribadah (Foto: hidayatullah.or.id)

Saya mau mengomentari postingan dari teman FB saya Mustafa Husin Baabad tentang kedalaman dalam beragama dalam postingnya sebagai berikut:

“Kedalaman Dalam Beragama”

Itulah sebabnya saya giat menulis, meskipun dianggap sebagai Agnostik, Munafiq, Kafiruun bahkan Ateis sekalipun.

Dalam masalah keimanan, saya akan bertanggung jawab secara pribadi dan langsung kepada Tuhan. Kewajiban kita adalah mempertahankan kemerdekaan bagi kita sendiri dan anak cucu kita semua. Beragama sambil tetap menghormati hukum positif kita sebagai bangsa. Tugas kita kita untuk menyadarkan.

Kita, paling tidak saya sendiri, tetap mau berislam, bertauhid, menjaga akhlak yg bagus, berbuat baik kepada sesama manusia, beribadah sedapat mungkin yg saya bisa, menghindari maksiat, menjaga amanah dan hidup secara bertanggung jawab. Semua okay.

Tetapi, kalau terus mau di "bebleskan" habis habisan, itu yang saya tidak mau dan tidak akan pernah mau.
Saya tetap menjaga kebebasan saya, karena saya yakin bahwa jauh lebih berharga di mata Tuhan dan di mata manusia kalau saya menjaga diri agar tetap baik adalah karena kesadaran dan keinginan bebas saya sendiri. Melakukan kebaikan karena kesadaran dan kehendak bebas jauh lebih berharga dari menutup akal dan dikuasai ketakutan.

Memang dalam mengungkapkan hal ini, saya terpaksa harus menunjukkan keraguan yang beralasan (reasonable doubt) dari agama, sekedar menjaga jarak dengan mereka yang mau habis habisan menjalankan agama dengan penuh ketakutan. Tanpa memberikan "keraguan yg beralasan" maka mereka yang akan menjajah fikiran saya akan mempunyai amunisi dalam mengintimidasi.

Saya tidak bisa menerima hukuman-hukuman yang sangat keras dan berlebihan, dari manapun diklaim asalnya, bagi mereka yang tidak menghadirkan bahaya bagi masyarakat. Sangat tidak fair misalnya seorang yang tidak mau sholat (dengan alasan apapun) harus dibunuh? Apa bahaya dia bagi masyarakat sekitar? Bagaimana kalau dia seorang kepala keluarga? Apakah karena dia tidak mau sholat terus anak istrinya harus jadi jembel?

Demikian juga dengan kesilapan mencuri misalnya. Seseorang bisa saja khilaf dan melakukan kejahatan mencuri, tetapi apakah itu artinya kita di bolehkan memutus sama sekali peluang dia untuk bekerja secara terhormat? Apakah kita juga layak menghukum seluruh keluarganya seumur hidup?

Begitu juga dengan perzinahan, apakah sesuatu kesilapan kecil harus di putus semua peluangnya untuk memperbaiki diri dan menebus kesalahannya?Bagaimana kalau dia seoarng kepala keluarga? Apakah itu artinya anak istrinya harus terbengkalai karena kesilapan sesaat yg dia lakukan? Bagaimana kalau dia seorang pengusaha yg mempunyai banyak tanggungan karyawan dan keluarganya?

Inilah yang harus di sesuaikan!

Saya tidak percaya bahwa Tuhan akan ikut campur sedetail itu. Apakah artinya saya mendukung perzinahan?
Tidak! Perzinahan merusakkan nilai-nilai berkeluarga, menggerus ikatan cinta suami dan istri, bisa merusakkan rahim dan “scortum” tempat asal anak-anak kita di bentuk. Apalagi kalau agama sudah digunakan untuk meraih kekuasaan, maka semua yang berseberangan di beri label penjahat, kafir dan layak di bunuh.

Agama, dengan embel embel apapun, Agama Langit yang penuh Cinta Kasih, Agama Langit yang penuh kedamaian, Agama Langit Bunga Mawar, Agama Langit yang begini dan Agama Langit yang begitu, semuanya tetap saja sebuah agama, yang kalau kita tidak berhati hati sangat mudah diselewengkan untuk menguasai kita dan anak anak kita.

Melihat begitu mudahnya agama diselewengkan dan sangat berbahaya kalau agama sudah dikuasai oleh para penjahat yang memperalat orang-orang bodoh, yang fanatik yang selalu bersedia melakuan segala kekerasan dan kebengisan hanya untuk sebuah janji. Itulah yang harus kita cegah!

Dari sejarah, dan dari dunia politik saat ini, baik di dalam negeri dan di luar negeri kita telah melihat begitu mudahnya memanipulasi manusia dan menjadikan orang-orang bodoh menjadi fanatik yang bisa sangat berbahaya yang selalu siap bertindak, baik atas nama agama maupun isme-isme ideologi politik yang lain yang terus terusan dikumandangnya dan menguasai akal fikiran. Meskipun demikian, atas alasan agama bisa lebih mendasar.

Kita tidak mungkin bisa memberi jarak dan menolak doktrin tanpa memberikan alasan yang meragukan keutuhan konsepnya terlebih dahulu.

Siapa anda?

Kalau Tuhan tidak senang dengan sikap saya, maka biarkan Tuhan yang Maha Pengasih sendiri yang menegur saya, dan bukan anda!

Kita tidak bisa mengemukakan posisi kita, sebelum mendudukkan persoalan pada tempatnya terlebih dahulu bahwa beragama dan menerima kehadiran Tuhan dalam hati kita adalah pilihan bebas kita sendiri. Sayang sekali, banyak orang sangat ketakutan untuk mengungkapkan hal ini. Padahal, keimanan kita hanya Tuhan sendiri yang bisa menilai. Bukan orang lain!

Posisi saya adalah: “Meragukan semuanya, kemudian saya pilih yang bermanfaat bagi kehidupan saya. Bukan orang lain yg mengatur!”

(Dudukkan dahulu posisi sejelas jelasnya, meragukan agar mendapat ruang yang bebas mengekspresikan diri tanpa dijebak dengan segala macam prekonsepsi, baru kita menentukan posisi dimana kita ingin berada).

Kalau terjadi benturan antara agama dan kemanusiaan, posisi saya jelas harus kemanusiaan kita dahulukan. Bukankah Tuhan mengirim agama untuk manusia?

Saya heran sekali, kalau ini dibilang sesat mengapa hati saya terasa sangat tenang. Jauuuh lebih tenang daripada ketika saya memaksa diri menelan semua semua yang tertulis. Bukannya tenang justru perang bathin dan ketika saya melihat mereka yang bebas hati saya penuh rasa benci. Alhamdulillah saat saya sudah lebih terbuka saya tidak lagi melihat orang lain dengan kebencian dan kecemburuan.

Selama saya tidak membahayakan orang, tidak mengganggu kepentingan umum, tidak merampas hak orang lain, tidak menganiaya orang lain, maka saya bebas melakukannya.

Kalau kita biarkam orang lain berkuasa atas diri kita, dengan mudah kita akan di hadapkan: "Ini hukum Tuhan! Kamu mau menolak? Maka hukumannya harus mati!"

Dalam menghadapi mereka-mereka ini, begitu anda terlihat lemah dan ragu, maka mereka akan mengkerubuti anda dan mendominasi fikiran anda dan tidak memberikan kesempatan berfikir lagi. Anda tidak bisa punya pendapat lagi setelah itu. Anda, keluarga anda dan seluruh anak cucu anda akan terjajah hanya karena keengganan dan keraguan anda saat ini.

Ingat, bagi mereka “satu-satunya aturan adalah tidak ada aturan”. Para sahabat dan keluarga Nabi sendiri banyak yang jadi korban keganasan mereka.

Saiyidina Usman bin Affan (yang merupakan sahabat dan menantu dari 2 anak Nabi) di bunuh ketika sedang mengaji di dalam rumahnya sendiri. Dia dipancung ketika sedang membaca Al-Qur’an. Adakah mereka menghargai “mus-haff?”

Tidak!!!

Tidak ada yang lebih penting dari kebencian dan kecemburuan mereka.

Saiyidina Ali bin Abi Thalib (yang merupakan sepupu dan juga menantu dari anak kesayangan Nabi) ketika akan shalat shubuh didalam masjid sementara pembunuhnya adalah Ibnu Muljam, seorang yg hafal Al-Qur’an.

Jadi, ketika berbeda dengan mereka, apakah anda berfikir akan ada tempat atau tindakan yang aman di mata mereka?

Tidak ada!

Kita bisa mempercayai Tuhan, tetapi tidak kelanjutanya. Kita tidak menerima hawa nafsu seseorang yang dipaksakan sebagai dari Tuhan.

Kalau ada yang bertanya lagi: “Oh, jadi kamu tidak percaya sama Nabi?”

Saya akan jawab: “Sejujur-jujurnya, saya tidak tahu. Lha wong saya tidak pernah ketemu dan berhubungan dengan beliau? Yang sampai ke saya ini kan hanya kata-kata dari mulut kemulut. Tergantung yang menyampaikannya. Lha video saja bisa diedit, apalagi cuma cerita dari mulut kemulut selama beberapa ratus tahun dan kemudian berubah jadi tulisan sekian ratus tahun kemudian.”

Bukankah tugas utama Nabi adalah menyampaikan bahwa Tuhan kita satu? Dan itupun sudah kita terima.
”Yang jelas, saya punya filter dan kehendak bebas yg harus juga saya hormati!

Sekali lagi filter dan akal sehat dan hati nurani yang sudah melekat dalam diri saya yang wajib saya hormati dalam menjalani hidup ini.”

Cilakanya, bagi mereka yang ingin menggunakan agama sebagai alat kekuasaan, sikap ini sama sekali tidak bisa diterima. Mereka sangat membenci orang yang kritis dan berfikir. Bahkan harus dimusnahkan, karena mereka menghendaki kepercayaan mutlak yang bisa di benturkan kesana kemari. Sementara orang-orang yang berfikir sulit dimanipulasi dan digerakkan. Sasaran mereka memang bukan pencerahan dan memerdekakan, tetapi sebagai kekuatan politik.

Pasti ada yang beranggapan: "Lho, tapi kan tidak mungkin dibentur-benturkan kesana kemari, lha wo wong orangnya kan baik-baik?"

"Ya mereka baik-baik saat ini sebelum berkuasa. Tetapi, apakah mereka akan tetap baik setelah berkuasa?"

"Atau pengganti mereka nantinya juga tetap orang-orang yg baik?"

Saya lebih memilih tetap memiliki kendali atas hidup saya sendiri.

Tuhan jauh lebih suci dan lebih Mulya dan lebih indah ketika dilihat oleh hati yang bebas dan ikhlas. Tuhan jauh lebih Mulya dari itu semua.

Kita tidak ingin menguasai dan menghabiskan waktu anak-anak kita, kecuali untuk kegembiraan dan kebahagiaan mereka sambil memberi kesempatan kepada mereka membangun masa depan yang baik yang menjadikan mereka berharga di mata dunia.

Semoga bangsa ini bisa selalu mawas diri, diberkati dengan banyaknya manusia manusia yang mau berfikir dan ikhlas membagikan fikirannya agar kita semua selamat dari penguasaan orang-orang jahat yang di dukung oleh orang-orang yang bodoh.

Selalu ajarkan sikap kritis dan berfikir logis kepada anak-anak anda. Itulah yang Insya Allah akan menyelamatkan mereka dari manipulasi manusia-manusia jahat yang bisa memperalat segala bentuk doktrin; baik agama, nasionalisme dan isme-isme yang lain.

Segala kebaikan berasal dari Tuhan dan Tuhan selalu memberikan kedamaian bagi mereka yang selalu mengingatnya. Tuhan jauh lebih suci dan lebih Mulya dari semua yang mereka sangkakan.

**

Tampaknya ada kegelisahan dari banyak umat Islam sendiri pada masalah keberagamaan yang dipaksakan oleh umat Islam itu sendiri, baik kepada sesama muslim dan bahkan kepada non-muslim. Lha wong pakai jilbab aja dipaksakan bahkan kepada siswa yang non-muslim di sekolah-sekolah umum. Sungguh kekonyolan yang kebangetan. 

Sangat terasa sekali betapa orang DIPAKSA untuk beriman, dan lebih konyolnya lagi adalah mempraktekkan prilaku keberimanan, seperti yang diimani oleh kelompok tertentu. Kalau beriman ya harus seperti mereka. Dan itu memang sangat mengganggu dan sangat tidak layak dilakukan. 

Ada satu pesan Tuhan yang sangat penting tapi TIDAK dipahami dengan baik oleh umat Islam, yaitu "Laa ikraha fiddien", Tak ada paksaan dalam beragama.

Jelas sekali bahwa Tuhan tidak menginginkan agar manusia dipaksa untuk beragama atau beriman kepadaNya sekali pun. Tidak boleh ada orang yang boleh dipaksa beragama atau beriman pada Tuhan meski pun itu kepada anak sendiri. Bahkan para rasul dilarang memaksa anaknya sendiri pun untuk mengimani apa yang ia sampaikan.

Itu sebabnya anak Nabi Nuh pun tidak percaya pada apa yang diimani oleh ayahnya yang seorang nabi itu. Tugas para nabi dan rasul hanyalah menyampaikan amanat (Al-Maidah 5:99). Para rasul bahkan diwanti-wanti bahwa mereka HANYA pemberi peringatan dan bukan orang yang diberi kuasa untuk mengurusi mereka mau beriman atau tidak (Al-Ghasyiyah 88:31, Ar-Ra'd 13:40).

Bolak-balik disampaikan bahwa kewajiban rasul hanyalah menyampaikan peringatan yang terang. (Al-Kahfi 18:56, Al-Haj 22:49, Yasin 36:17, An-Nahl 16:82, Al-Furqan 25:56)

Jadi tidak ada satu pun di antara para rasul itu yang akan dimintai pertanggungjawaban soal apakah umat yang diajaknya beriman itu ikut dengannya atau tidak. Para nabi tidak dimintai pertanggungjawaban soal apakah mereka ikut atas ajaran mereka atau tidak. Para nabi akan mengatakan, "Jika Kau mengazab mereka, mereka adalah hamba-hambaMu. Jika Kau mengampuni mereka, sungguh Kaulah yang Maha Perkasa, yang Maha Bijaksana." (Al-Maidah 5:118). Terserah Engkau Tuhan. Lha wong mereka itu para hamba dan ciptaanMu sendiri. Mau Engkau azab atau mulyakan itu semua adalah kewenanganMu. "Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi, dan apa yang ada di dalamnya. Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Maidah 5:120)

Jadi apa urusan kita, yang bukan nabi bukan utusan, kok mau memaksakan orang lain untuk beriman seperti kita?! 

Lha wong Tuhan sendiri menyatakan bahwa tidak boleh ada manusia yang dipaksa untuk beriman kepadaNya. Biar saja mereka memilih mau beriman atau tidak.

"Tapi kan kalau mereka tidak beriman maka mereka akan diadzab di akhirat." kata kita. Ya biar saja. Itu kan menurut kita yang beriman. Kalau menurut mereka yang tidak beriman ya tidak diadzab. Lha wong mereka tidak percaya soal Tuhan dan akhirat. 

"Lho kok enak mereka. Tidak beriman tapi tidak diadzab." kita masih ngeyel.

Ya terserah Tuhan toh. Apakah mereka mau diadzab atau tidak. Olaopo kok kita yang mau menentukan soal adzab mengadzab. 

"Kalau begitu ya mending tidak beriman aja bisa bebas...Toh Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang." sambil bersungut-sungut.

Lho...katanya mau tidak beriman. Kok masih percaya bahwa ada Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang...?! 

Sudahlah....! Pilih saja mau beriman atau tidak. Soal konsekuensi saya yakin kita semua sepakat bahwa selalu ada konsekuensi dari apa yang kita pilih. Tapi JANGAN PAKSA siapa pun untuk beriman dan mengimani apa yang kita imani karena itu DILARANG oleh Tuhan yang kita imani. 

Surabaya, 11 Mei 2022

Satria Dharma