Ulama

Selasa, 18 September 2018 | 07:40 WIB
0
612
Ulama

Secara bahasa artinya orang berilmu. Dalam konteks ini, seorang profesor matematika bisa saja disebut ulama. Tapi selama berabad-abad ulama itu mengacu pada satu term terbatas, yaitu orang yang punya ilmu agama.

Itu pun belum cukup. Almarhum Nurcholis Madjid itu punya ilmu agama yang dalam. Ia juga fasih bahasa Arab. Ditambah lagi ilmu sosial dia yang juga dalam, serta kemampuan dia berfilsafat. Tapi jarang ada yang menyebut dia ulama. Orang menyebut dia cendekiawan.

Tidak hanya soal ilmu. Ulama itu soal perilaku. Orang yang ilmunya banyak, tapi tidak mengamalkannya, biasanya tidak disebut ulama.

Ulama biasanya dilekatkan pada orang yang berilmu, dan mengabdikan hidupnya untuk membimbing masyarakat. Ia tidak hanya membimbing dengan ilmu, tapi juga dengan sikapnya. Yang terakhir ini lebih penting. Ia bersikap mulia, dari kata-kata hingga tindak tanduk.

Bagaimana dengan sikap politik?

Ulama berdiri atas prinsip kebenaran. Ia tidak berpihak pada orang, individu atau kelompok, melainkan pada nilai. Ia berjuang untuk tegaknya nilai, dengan acuan yang jelas, bukan untuk memenangkan suatu kelompok atau satu sosok. Bila ia melakukan itu, memenangkan suatu kelompok atau sosok, sejatinya ia hanyalah seorang politikus yang memakai baju agama.

Politik telah membuat term ulama menjadi kabur. Ada orang-orang yang mengaku ulama dengan perilaku tak pantas. Ada orang-orang berperilaku tak pantas, tapi dianggap ulama. Itu terjadi karena orang-orang berpikir tentang agama dalam bingkai kepentingan politik. Agama bukan lagi penuntun perilaku mulia, ia hanya jadi alat untuk merebut maupun mempertahankan kekuasaan.

Ulama macam itu bukan lagi pemersatu dan pelindung umat. Mereka hanya tinggal jadi peternak bebek yang berlomba mengumpulkan bebek sebanyak-banyaknya, untuk disetorkan pada tengkulak bebek, yaitu para politikus. Umat diperlakukan seperti bebek-bebek yang bisa dijual. Mereka menjual umat, bukan membimbingnya.

Dalam usaha mengumpulkan bebek-bebek itu mereka saling caci dan saling maki, juga saling fitnah. Mereka memecah belah umat, bukan menyatukannya.

Saya golput aja!

***