Secara bahasa artinya orang berilmu. Dalam konteks ini, seorang profesor matematika bisa saja disebut ulama. Tapi selama berabad-abad ulama itu mengacu pada satu term terbatas, yaitu orang yang punya ilmu agama.
Itu pun belum cukup. Almarhum Nurcholis Madjid itu punya ilmu agama yang dalam. Ia juga fasih bahasa Arab. Ditambah lagi ilmu sosial dia yang juga dalam, serta kemampuan dia berfilsafat. Tapi jarang ada yang menyebut dia ulama. Orang menyebut dia cendekiawan.
Tidak hanya soal ilmu. Ulama itu soal perilaku. Orang yang ilmunya banyak, tapi tidak mengamalkannya, biasanya tidak disebut ulama.
Ulama biasanya dilekatkan pada orang yang berilmu, dan mengabdikan hidupnya untuk membimbing masyarakat. Ia tidak hanya membimbing dengan ilmu, tapi juga dengan sikapnya. Yang terakhir ini lebih penting. Ia bersikap mulia, dari kata-kata hingga tindak tanduk.
Bagaimana dengan sikap politik?
Ulama berdiri atas prinsip kebenaran. Ia tidak berpihak pada orang, individu atau kelompok, melainkan pada nilai. Ia berjuang untuk tegaknya nilai, dengan acuan yang jelas, bukan untuk memenangkan suatu kelompok atau satu sosok. Bila ia melakukan itu, memenangkan suatu kelompok atau sosok, sejatinya ia hanyalah seorang politikus yang memakai baju agama.
Politik telah membuat term ulama menjadi kabur. Ada orang-orang yang mengaku ulama dengan perilaku tak pantas. Ada orang-orang berperilaku tak pantas, tapi dianggap ulama. Itu terjadi karena orang-orang berpikir tentang agama dalam bingkai kepentingan politik. Agama bukan lagi penuntun perilaku mulia, ia hanya jadi alat untuk merebut maupun mempertahankan kekuasaan.
Ulama macam itu bukan lagi pemersatu dan pelindung umat. Mereka hanya tinggal jadi peternak bebek yang berlomba mengumpulkan bebek sebanyak-banyaknya, untuk disetorkan pada tengkulak bebek, yaitu para politikus. Umat diperlakukan seperti bebek-bebek yang bisa dijual. Mereka menjual umat, bukan membimbingnya.
Dalam usaha mengumpulkan bebek-bebek itu mereka saling caci dan saling maki, juga saling fitnah. Mereka memecah belah umat, bukan menyatukannya.
Saya golput aja!
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews