OK OCE Terpuruk, Sandiaga Perlu Belajar dari Erick Thohir

Sabtu, 15 September 2018 | 17:02 WIB
0
294

Apapun yang dibangun untuk meluluskan hasrat politik semata, akan runtuh karena tak memiliki pondasi yang nyata. Itulah yang kini terjadi pada OK OCE Mart yang digadang-gadang Anies dan Sandi mampu menyerap tenaga kerja baru serta membuat warga Jakarta makin sejahtera, dulu.

Faktanya, kini OK OC Mart seperti menunggu denyut-denyut terakhirnya. Beberapa cabangnya bahkan tutup satu persatu, terseok dan kalah dengan mini market yang sudah lekat dengan masyarakat.

Bahkan untuk bersaing dengan toko kelontong di pinggir jalan pun sulit. Kecuali bagi cabang yang disokong dengan modal besar. Itupun pasti nombok.

Menurut pengamatan detik.com, gudang OK OCE Mart pun sudah tiga bulan belakangan ini tak beroperasi lagi. Dari sinilah terkuak ternyata ada benang merah antara OK OCE Mart dengan 212 Mart. Sebabnya gudang yang sama digunakan untuk memasok barang untuk OK OCE Mart dan 212 Mart.

Usaha yang dibangun demi memenuhi hasrat politik

OK OCE Mart dan 212 Mart lahir dari sebuah pertarungan politik dalam Pilgub DKI Jakarta 2017. Sayang pada pemilihan pemimpin nomor satu ibukota tersebut kental sekali bernuansa SARA.

Bahkan demo berjilid-jilid pun dilancarkan.Pada akhirnya demo 212 pun menginspirasi nama 212 Mart. Barangkali sebagai salah satu cara untuk tetap mengingat 7 juta orang berkumpul di Monas.

OK OCE Mart yang dulu dijadikan sebagai gimmick politik abang Sandi sepertinya memang tak bakal digarap secara serius. Toh, Sandi sudah pernah mencicipi kursi empuk wakil Gubernur DKI Jakarta. Kini, Sandi sudah mantap menatap kursi Wakil Presiden RI, mendampingi Prabowo.

Sandiaga boleh berkilah jika OK OCE Mart kini dilanjutkan oleh Anies. Tapi, Sandi sebagai penggagas OK OCE Mart punya tanggung jawab moral. Saat itu Sandi mengklaim ada 50 ribu warga yang terserap program OK OCE. Lantas, jika itu ditinggalkan, bagaimana nasib 50 ribu orang yang sudah terserap itu?

Semua orang tahu bahwa Sandi dan Erick Thohir adalah sahabat. Baiknya Sandi banyak belajar pada ET yang sukses menggelar Asian Games 2018. Euforia Asian Games 2018 benar-benar bisa mempersatukan bangsa. Bahkan Jokowi dan Prabowo sendiri bisa disatukan dalam dekapan Hanifan yang meraih medali emas pencak silat putra.

ET sukses secara mandiri

ET bukan saja bertangan dingin, tetapi mampu memoles media yang tengah terpuruk kembali berjaya dan menemukan marwahnya. Cerita tentang Republika yang hampir bangkrut kemudian dibeli ET dibawah Bendera Mahaka Group menjadi catatan emas bagi ET.

Meski lini bisnis ET cukup banyak, namun ET terbukti visioner. Mampu membalikkan keadaan perusahaan yang tengah terancam tenggelam menjadi media yang dibanggakan oleh umat.

Kepiawaian menyelenggarakan acara skala Internasional pun tak dapat dimungkiri mendapatkan pujian dari negeri tetangga seperti Korea Selatan dan Singapura. Bahkan, Indonesia menjadi trending topic di Korea Selatan sejak pembukaan Asian Games 2018.

Prestasi ET tersebut pantas jika dijadikan alasan mengapa Jokowi memilihnya sebagai ketua Tim Pemenangan Jokowi Ma'ruf. Apalagi ET mewakili kalangan millenials yang diperkirakan memiliki 50% persen suara pada pemilu 2019.

Sandiaga perlu banyak belajar pada ET dalam membangun brand di kalangan millenial dan bukan hanya mengandalkan ekonomi rakyat lewat OK OCE Mart tapi akhirnya malah terpuruk dan nasibnya tak jelas.

Sayang kini ET berada di kubu yang berseberangan dengan Sandiaga. Itupun karena hati nurani ET lebih condong pada Jokowi dibandingkan Prabowo.