Apapun yang dibangun untuk meluluskan hasrat politik semata, akan runtuh karena tak memiliki pondasi yang nyata. Itulah yang kini terjadi pada OK OCE Mart yang digadang-gadang Anies dan Sandi mampu menyerap tenaga kerja baru serta membuat warga Jakarta makin sejahtera, dulu.
Faktanya, kini OK OC Mart seperti menunggu denyut-denyut terakhirnya. Beberapa cabangnya bahkan tutup satu persatu, terseok dan kalah dengan mini market yang sudah lekat dengan masyarakat.
Bahkan untuk bersaing dengan toko kelontong di pinggir jalan pun sulit. Kecuali bagi cabang yang disokong dengan modal besar. Itupun pasti nombok.
Menurut pengamatan detik.com, gudang OK OCE Mart pun sudah tiga bulan belakangan ini tak beroperasi lagi. Dari sinilah terkuak ternyata ada benang merah antara OK OCE Mart dengan 212 Mart. Sebabnya gudang yang sama digunakan untuk memasok barang untuk OK OCE Mart dan 212 Mart.
Usaha yang dibangun demi memenuhi hasrat politik
OK OCE Mart dan 212 Mart lahir dari sebuah pertarungan politik dalam Pilgub DKI Jakarta 2017. Sayang pada pemilihan pemimpin nomor satu ibukota tersebut kental sekali bernuansa SARA.
Bahkan demo berjilid-jilid pun dilancarkan.Pada akhirnya demo 212 pun menginspirasi nama 212 Mart. Barangkali sebagai salah satu cara untuk tetap mengingat 7 juta orang berkumpul di Monas.
OK OCE Mart yang dulu dijadikan sebagai gimmick politik abang Sandi sepertinya memang tak bakal digarap secara serius. Toh, Sandi sudah pernah mencicipi kursi empuk wakil Gubernur DKI Jakarta. Kini, Sandi sudah mantap menatap kursi Wakil Presiden RI, mendampingi Prabowo.
Sandiaga boleh berkilah jika OK OCE Mart kini dilanjutkan oleh Anies. Tapi, Sandi sebagai penggagas OK OCE Mart punya tanggung jawab moral. Saat itu Sandi mengklaim ada 50 ribu warga yang terserap program OK OCE. Lantas, jika itu ditinggalkan, bagaimana nasib 50 ribu orang yang sudah terserap itu?
Semua orang tahu bahwa Sandi dan Erick Thohir adalah sahabat. Baiknya Sandi banyak belajar pada ET yang sukses menggelar Asian Games 2018. Euforia Asian Games 2018 benar-benar bisa mempersatukan bangsa. Bahkan Jokowi dan Prabowo sendiri bisa disatukan dalam dekapan Hanifan yang meraih medali emas pencak silat putra.
ET sukses secara mandiri
ET bukan saja bertangan dingin, tetapi mampu memoles media yang tengah terpuruk kembali berjaya dan menemukan marwahnya. Cerita tentang Republika yang hampir bangkrut kemudian dibeli ET dibawah Bendera Mahaka Group menjadi catatan emas bagi ET.
Meski lini bisnis ET cukup banyak, namun ET terbukti visioner. Mampu membalikkan keadaan perusahaan yang tengah terancam tenggelam menjadi media yang dibanggakan oleh umat.
Kepiawaian menyelenggarakan acara skala Internasional pun tak dapat dimungkiri mendapatkan pujian dari negeri tetangga seperti Korea Selatan dan Singapura. Bahkan, Indonesia menjadi trending topic di Korea Selatan sejak pembukaan Asian Games 2018.
Prestasi ET tersebut pantas jika dijadikan alasan mengapa Jokowi memilihnya sebagai ketua Tim Pemenangan Jokowi Ma'ruf. Apalagi ET mewakili kalangan millenials yang diperkirakan memiliki 50% persen suara pada pemilu 2019.
Sandiaga perlu banyak belajar pada ET dalam membangun brand di kalangan millenial dan bukan hanya mengandalkan ekonomi rakyat lewat OK OCE Mart tapi akhirnya malah terpuruk dan nasibnya tak jelas.
Sayang kini ET berada di kubu yang berseberangan dengan Sandiaga. Itupun karena hati nurani ET lebih condong pada Jokowi dibandingkan Prabowo.
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews