Politik Jokowi yang "Entertaining"

Sabtu, 8 September 2018 | 17:57 WIB
0
379
Politik Jokowi yang "Entertaining"

Ketika Jokowi akhirnya memilih KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres, menurut Hermawan ‘Kiki’ Sulistyo, pilpres sudah selesai. Maksudnya? Jokowi akan kembali memenangkan pertarungan di Pilpres 2019.

Kok bisa? Saya sih setuju pendapat ini, mengingat pernyataan BJ Habibie, mengenai siapa Jokowi dan Prabowo. Tetapi, saya tak ingin mengurainya. Nanti yang demen Prabowo pada makin kepo.

Ini soal kenapa Jokowi memilih Erick Thohir. Jusuf Kalla pun, semula kebingungan dengan pilihan itu. Semua orang tahu, ET bukan orang politik. Keterangan Jokowi jelas, ET tidak akan ditempatkan sebagai semacam konsultan politik, sebagaimana Sandiaga memilih Eep Saefulloh Fatah, dan Prabowo (mungkin akan) memilih Djoko Santosa.

Dipilihnya ET mengisyaratkan karakter Jokowi, yang di luar mainstream, dan selalu menyodorkan antitesa. Cara melihat out of the box ini, susah dipahami yang memandang politik secara macho. Bahwa politik adalah sebuah pertarungan (apalagi pilpres) mati-matian, karena itu harus dipikirkan strategi yang gitu-gitu amat. Bahkan seperti Amien Rais dan Neno Warisman teriakkan, jika perlu Perang Badar!

Tentu saja, soal pemenangan dalam kompetisi membutuhkan strategi. Kubu Jokowi maupun Prabowo, berkutat dengan masalah ini. Tapi, sekali lagi, strategi lahir dari sudut pandang. ET mengatakan, menerima kepercayaan Jokowi bukan (sekedar) visi-misi Jokowi, melainkan rekam-jejak dan cara Jokowi bekerja selama ini. Klop!

Ketika Jokowi terpilih sebagai presiden, isyarat majoritas rakyat Indonesia jelas. Perubahan. Dari sejak jaman Sukarno, hingga Soeharto dan terusannya, Jokowi mencelat dari kisah-kisah linear kekuasaan. Kita diajak dengan pendekatan baru dalam berpolitik. Jokowi bukan hanya presiden, tetapi top leader yang memahami manajemen modern.

Kepemimpinan androgini, mampu mendengarkan, bottom up, dan tak suka menegasi lawan. Sesuatu yang beda sama sekali dengan generasi politik analog model orba, di mana orientasi kekuasaan begitu absolut, tak terbantahkan.

Ini bukan sekedar menjawab persoalan hadirnya 40% pemilih milenial, yang sampai kini diasumsikan salah kaprah, sebagaimana Sandiaga menerjemahkan atau juga beberapa anggota tim Jokowi sendiri. Kita ingin meninggalkan masa lalu yang buruk, politik yang deterministik.

Kita ingin politik yang sederhana, manusiawi, jauh dari menakutkan. Dengan selera humornya yang baik, Jokowi ingin meng-entertain kita, dalam sebuah politik yang memang entertaining, lebih funny, menghibur.

Mereka yang mengambil peran antagonistik, karena tidak peka melihat persoalan pokok kita. Bangsa ini daya adaptifnya tinggi untuk berubah. Juga kesabaran, sepanjang telah sepemahaman. Kita mulai tak mudah dibohongi, pakai ini dan itu. Kalau diluaran ribut dan ribet, di mana-mana air beriak tanda tak dalam.

***