Ketika Mahfud MD (MMD) mengatakan, “Jangan pilih capres jahat,” banyak orang yang bingung. Siapakah gerangan yang dimaksudkan oleh politisi yang sedang galau itu? Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud MMD adalah Prabowo Subianto (PS). Tetapi yang lain berpendapat bahwa yang dimaksudkannya bukanlah PS.
Nah, siapakah yang lebih besar kemungkinan disebut oleh MMD sebagai “capres jahat”?
Sebelum kita teruskan, ada baiknya kita layangkan kembali ingatan kita pada pembeberan blak-blakan oleh MMD di ILC tentang perebutan posisi cawapres. Waktu itu, Mahfud menelanjangi para elit NU dan juga “kejahatan” Ma’ruf Amin sendiri. Kejahatan di sini hendaklah dibatasi dalam makna kelihaian Pak Kiyai menyingkirkan Mahfud yang sudah hampir klop menjadi cawapres Jokowi.
Mahfud tahu pembeberan di ILC itu berdampak negatif ke Jokowi langsung. Artinya, MMD memukul langsung Jokowi. Tapi di lain pihak, MMD sudah kadung berada di kubu Jokowi. Sangat tak mungkin balik lagi ke kubu Prabowo. Makin hancur kredibilitas beliau. MMD harus tetap tampak masih membela Jokowi. Dan sebenarnya dia masih mengharapkan jabatan tinggi kalau kelak Jokowi menang.
Karena itu, Mahfud memainkan taktik pukul kawan sendiri sambil berpura-pura tidak sakit hati ketika dibuang begitu saja oleh Jokowi demi Ma’ruf Amin. MMD akan berpura-pura tetap mendukung Jokowi. Berpura-pura tetap di kubu Jokowi adalah satu-satunya pilihan Mahfud.
Inilah yang dia dilakonkannya. Termasuk berpura-pura memberikan pembekalan untuk para calon anggota legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang merupakan pendukung Jokowi. Mahfud berpura-pura juga mengatakan di depan acara itu agar masyarakat tidak golput supaya “orang jahat” tidak terpilih menjadi pemimpin.
Dengan taktik berpura-pura tetap berada di kubu Jokowi, MMD memperhitungkan dia akan selalu berada di posisi yang menguntungkan. Di mata Jokowi, MMD akan dianggap kawan setia. Sehingga kalau Jokowi jadi dua periode, Mahfud kemungkinan besar diberi hadiah kursi kabinet.
Jadi, siapakah “capres jahat” yang dimaksudkan oleh MMD?
Kalau dilihat sejarah hubungan Mahfud dengan Prabowo, sangat tak masuk akal kalau yang dia maksudkan adalah ketua umum Gerindra itu. Kalau Jokowi? Wallahu a’lam. Bisa tak mungkin. Bisa juga mungkin. Sebab, Jokowi baru saja mempermalukan MMD sampai-sampai masyarakat Madura (kampung halaman Mahfud) menyatakan “haram” memilih Jokowi.
Cuma, Prof Mahfud sangat piawai. Dia mengobrak-abrik orang sekubunya (kubu Jokowi), termasuk Jokowi sendiri, dengan sangat halus. Orang Jokowi pasti merasa bahwa “capres jahat” itu adalah PS karena MMD masih bertahan di kubu Jokowi. Tak mungkin Mahfud mengatakan Jokowi “capres jahat”.
Padahal, justru MMD mau mengatakan bahwa “capres jahat” itu bukanlah PS.
Karena itu, berhati-hatilah dengan ucapan Prof Mahfud tentang “capres jahat”. Jangan sampai Anda terperangkap mengatakan bahwa yang dimaksud Mahfud itu bukan Jokowi.
Jangan Anda salah memahami Mahfud. Tidak bisa dipandang hitam-putih!
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews