Jangan Salah Memahami Mahfud Tentang Capres Jahat

Kamis, 23 Agustus 2018 | 10:58 WIB
0
403
Jangan Salah Memahami Mahfud Tentang Capres Jahat

Ketika Mahfud MD (MMD) mengatakan, “Jangan pilih capres jahat,” banyak orang yang bingung. Siapakah gerangan yang dimaksudkan oleh politisi yang sedang galau itu? Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud MMD adalah Prabowo Subianto (PS). Tetapi yang lain berpendapat bahwa yang dimaksudkannya bukanlah PS.

Nah, siapakah yang lebih besar kemungkinan disebut oleh MMD sebagai “capres jahat”?

Sebelum kita teruskan, ada baiknya kita layangkan kembali ingatan kita pada pembeberan blak-blakan oleh MMD di ILC tentang perebutan posisi cawapres. Waktu itu, Mahfud menelanjangi para elit NU dan juga “kejahatan” Ma’ruf Amin sendiri. Kejahatan di sini hendaklah dibatasi dalam makna kelihaian Pak Kiyai menyingkirkan Mahfud yang sudah hampir klop menjadi cawapres Jokowi.

Mahfud tahu pembeberan di ILC itu berdampak negatif ke Jokowi langsung. Artinya, MMD memukul langsung Jokowi. Tapi di lain pihak, MMD sudah kadung berada di kubu Jokowi. Sangat tak mungkin balik lagi ke kubu Prabowo. Makin hancur kredibilitas beliau. MMD harus tetap tampak masih membela Jokowi. Dan sebenarnya dia masih mengharapkan jabatan tinggi kalau kelak Jokowi menang.

Karena itu, Mahfud memainkan taktik pukul kawan sendiri sambil berpura-pura tidak sakit hati ketika dibuang begitu saja oleh Jokowi demi Ma’ruf Amin. MMD akan berpura-pura tetap mendukung Jokowi. Berpura-pura tetap di kubu Jokowi adalah satu-satunya pilihan Mahfud.

Inilah yang dia dilakonkannya. Termasuk berpura-pura memberikan pembekalan untuk para calon anggota legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang merupakan pendukung Jokowi. Mahfud berpura-pura juga mengatakan di depan acara itu agar masyarakat tidak golput supaya “orang jahat” tidak terpilih menjadi pemimpin.

Dengan taktik berpura-pura tetap berada di kubu Jokowi, MMD memperhitungkan dia akan selalu berada di posisi yang menguntungkan. Di mata Jokowi, MMD akan dianggap kawan setia. Sehingga kalau Jokowi jadi dua periode, Mahfud kemungkinan besar diberi hadiah kursi kabinet.

Jadi, siapakah “capres jahat” yang dimaksudkan oleh MMD?

Kalau dilihat sejarah hubungan Mahfud dengan Prabowo, sangat tak masuk akal kalau yang dia maksudkan adalah ketua umum Gerindra itu. Kalau Jokowi? Wallahu a’lam. Bisa tak mungkin. Bisa juga mungkin. Sebab, Jokowi baru saja mempermalukan MMD sampai-sampai masyarakat Madura (kampung halaman Mahfud) menyatakan “haram” memilih Jokowi.

Cuma, Prof Mahfud sangat piawai. Dia mengobrak-abrik orang sekubunya (kubu Jokowi), termasuk Jokowi sendiri, dengan sangat halus. Orang Jokowi pasti merasa bahwa “capres jahat” itu adalah PS karena MMD masih bertahan di kubu Jokowi. Tak mungkin Mahfud mengatakan Jokowi “capres jahat”.

Padahal, justru MMD mau mengatakan bahwa “capres jahat” itu bukanlah PS.

Karena itu, berhati-hatilah dengan ucapan Prof Mahfud tentang “capres jahat”. Jangan sampai Anda terperangkap mengatakan bahwa yang dimaksud Mahfud itu bukan Jokowi.

Jangan Anda salah memahami Mahfud. Tidak bisa dipandang hitam-putih!

***