Bawaslu Pilih Kasih, Jangan-jangan Masuk Angin!

Kamis, 23 Agustus 2018 | 16:54 WIB
0
482
Bawaslu Pilih Kasih, Jangan-jangan Masuk Angin!

Mahfud MD dalam acara pembekalan calon anggota legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengingatkan kepada masyarakat untuk menggunakan hak pilih atau tidak golput dalam pilpres 2019 untuk mencegah orang "jahat" memimpin negeri ini.

Pernyataan Mahuf MD ini memancing reaksi dari masyarakat atau pengguna medsos dan menanyakan apa maksud dari pemimpin "jahat". Mahfud MD memberi penjelasan, bahwa tidak ada calon presiden atau pemimpin yang ideal, pasti ada kekurangan dan kelebihan. Tidak ada maksud untuk mendiskriditkan calon pasangan presiden tertentu.

Mahfud MD memberikan peringatan atau himbauan untuk tidak golput bukan tanpa alasan, setelah ia gagal menjadi cawapres banyak pendukung Mahfud MD dan pendukung Ahok yang  tidak akan menggunakan hak pilihnya pada pilpres 2019. Untuk itu Mahfud MD punya tanggung moral mengajak masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya dan tidak golput, karena kalau golput sama saja memberi peluang orang jahat yang akan menjadi pemimpin atau penguasa.

Rupanya akibat pernyataan Mahfud MD ini ada pihak yang merasa tertuduh atau tersinggung dengan kata: untuk mencegah orang jahat menjadi pemimpin.

Banyak masyarakat yang menafsirkan perkataan Mahfud MD ini dengan salah satu kandidat calon presiden tertentu, padahal hampir tidak mungkin perkataan Mahfud MD ini ditujukan kepada salah satu kandidat tertentu. Karena pada Pilpres 2014, Mahfud MD menjadi bagian atau tim pemenangan calon presiden itu.

Perkataan Mahfud MD ini lebih nendang dan lebih menyengat dibanding #2019GantiPresiden. Tagar 2019 ganti presiden sekarang seperti terkulai loyo setelah 9 kadernya tidak ada satu pun yang menjadi cawapres.

Bahkan #2019 ganti presiden di kampanyekan secara masif dan di setiap hari Minggu CFD  juga ada kampanye #2019 ganti presiden, sekarang mulai mereda.

Oleh Bawaslu sendiri #2091 ganti presiden juga tidak dianggap sebagai pelanggaran atau sesuatu yang membahayakan. Tapi anehnya Bawaslu berlaku tegas dengan spanduk-spanduk yang kemarin terpasang di Jakarta yang dengan kalimat: "Jangan memilih pemimpin yang jahat". Spanduk-spanduk itu atas perintah Bawaslu untuk diturunkan karena dianggap bisa menyebabkan gesekan atau ketersinggungan. Dan spanduk-spanduk itu akhirnya diturunkan.

Kenapa Bawaslu begitu tegas dengan menurunkan spanduk-spanduk yang bertuliskan. "Jangan memilih pemimpin yang jahat? Tetapi mengapa Bawaslu tidak tegas dengan #2019 ganti presiden? Kalau dua-duanya dianggap bisa menimbulkan gesekan di antara masyarakat atau pendukung, harusnya dilarang atau diturunkan semua spanduk yang berisi pesan provokasi.

Bukankah pada dasarnya Bawaslu itu seperti wasit? Tetapi kalau wasit tidak tegas dan tidak adil,tentu akan menimbulkan masalah di kemudian hari.

"Ayoo jangan golput untuk mencegah orang jahat menjadi pemimpin atau penguasa!"

***