"Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya mengering".
Mahfud MD dalam suatu acara di televisi Minggu lalu mengungkapkan,bahwa ia pernah ditawari jabatan sebagai menteri Menkopolhukam dan sebagai Jaksa Agung oleh pemerintahan Joko Widodo.Tetapi semua tawaran jabatan itu ditolak oleh yang bersangkutan. Alasannya soal etika. Mahfud MD merasa ia tidak pantas untuk mengambil jabatan sebagai menteri karena ia merasa tidak ikut "berkeringat" pada pilpres 2014 dulu.
Sekilas alasan Mahfud MD ini bijak dan bagus karena ia masih memikirkan soal etika dalam mengambil jabatan atau menerima tawaran jabatan. Tidak seperti kebanyakan para politikus yang justru mencari atau kasak-kusuk untuk mencari jabatan atau kekuasaan.
Jadi menurut Mahfud MD seseorang minimal harus "berkeringat" dulu untuk bisa menerima jabatan sebagai menteri, kalau tidak berkeringat tetapi menerima suatu jabatan dianggap kurang elok atau etis.
Yang menjadi pertanyaan, aakah seseorang harus berkeringat terlebih dahulu untuk bisa menerima suatu jabatan menteri atau lainnya? Bukankan menteri-menteri Jokowi banyak yang tidak berkeringat pada pilpres 2014 tetapi mereka bisa menerima jabatan itu, bahkan mendapat apresiasi dari masyarakat. Sebutlah Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti, Ignatius Jonan atau menteri-menteri yang bukan berasal dari partai politik.
Bahwa Mahfud MD menolak tawaran jabatan sebagai menteri dengan alasan etika atau pantas dan tidak pantas adalah hak yang bersangkutan. Tetapi, terkesan juga egois, kenapa dianggap egois? Kita ketahui bersama bahwa dalam penegakan hukum kita masih terkesan tebang pilih dalam arti negatif atau hukum bisa dibeli. Hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
Bahkan Mahfud MD juga pernah menghadap presiden Joko Widodo terkait korban begal (yang kebetulan orang Madura) dijadikan tersangka oleh Polres Bekasi pada waktu itu, tetapi setelah berbicara dengan presiden Joko Widodo esok hari status tersangka berubah dan malah mendapat penghargaan dari Polres tersebut. Nah ini sebagai contoh bahwa tidak menjadi seorang menteri atau pejabat terkadang hanya bisa memberi masukan tetapi tidak bisa mengeksekusi.
Harusnya, Mahfud MD di saat penegakan hukum masih jauh dari harapan masyarakat dan tajam ke bawah dan tumpul ke atas, ketika ada tawaran untuk menjadi Jaksa Agung harusnya diterima. Karena negeri ini membutuhkan Jaksa Agung yang tegas dan tidak bisa dibeli atau dipengaruhi oleh penguasa atau atasannya sekalipun.
Dengan menerima jabatan sebagai Jaksa Agung, Mahfud MD bisa berkiprah dalam penegakan hukum, baik dalam pemberantasan korupsi atau tindakan kriminalnya lainnya. Seringkali masyarakat kecil yang mudah untuk dijadikan tersangka,dan susah untuk menjadikan orang-orang berduit atau pejabat untuk dijadikan tersangka, padahal bukti-bukti sudah cukup dan mudah untuk mencari barang buktinya.
Kalau Mahfud MD menolak jabatan sebagai Jaksa Agung dengan alasan etika, apa tidak sama dengan Mahfud MD membiarkan hukum ini dikuasai oleh para mafia hukum atau hukum bisa dipermainkan oleh penegak hukum itu sendiri dengan orang yang berperkara dengan hukum.
Mahfud MD bukanlah buruh yang akan menerima upah atau imbalan sebelum keringatnya mengering. Tapi Mahfud MD adalah seorang intelektual dengan segudang jabatan yang pernah diembannya. Tetapi ketika mau diberi jabatan untuk membenahi hukum di negeri ini,ia menolak dengan alasan etika.
Kalau alasan etika dijadikan alasan Mahfud MD karena merasa tidak berkeringat, berarti nanti kalau yang menang dalam pilpres 2019, baik Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto, maka dengan alasan etika itu, Mahfud MD hampir pasti tidak bisa menjadi menteri. Kenapa begitu? Karena Mahfud MD tidak "berkeringat" baik untuk kubu Joko Widodo maupun kubu Prabowo.
Bahkan Mahfud MD tidak mau menjadi Tim Sukses kubu Joko Widodo dengan alasan masih menjadi pejabat dalam pembinaan ideologi Pancasila.
Kalau menjadi Tim Sukses kubu Prabowo, maka akan merusak dan menjatuhkan nama Mahfud MD sendiri, karena pada pilpres 2014 yang bersangkutan menjadi ketua Tim Pemenangan kubu Prabowo,masak gara-gara kecewa tidak menjadi cawapres terus nyebrang ke kubu sebelah.
Sepertinya pada pilpres 2019 Mahfud MD netral dan resiko dari netral tentu tidak akan mendapat kue kekuasaan atau jabatan, apalagi kalau menggunakan ukuran "etika" dan ukuran "berkeringat".
Pak Mahfud MD anda bukanlah kuli pelabuhan yang menggunakan otot-ototnya dan kekuatan fisiknya untuk mengangkat barang-barang, dan akan memperoleh upah sebelum keringat mengering. Bukankan Pak Mahfud MD tidak mau juga kalau negeri ini dikuasai oleh orang jahat dan orang yang tidak amanah dalam mengemban jabatan?
Bahkan Mahfud MD juga meminta masyarakat untuk tidak golput, supaya pemerintahan nanti tidak jatuh kepada orang jahat atau orang yang tidak amanah.
Apakah harus berkeringat dahulu? Biarlah kuli pelabuhan yang berkeringat.
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews