Berburu Momentum Meng-Ahokkan Jokowi Jelang Pilpres 2019

Selasa, 7 Agustus 2018 | 10:51 WIB
0
1016
Berburu Momentum Meng-Ahokkan Jokowi Jelang Pilpres 2019

Jangan pernah berpikir tentang persaingan politik yang sehat. Karena politik itu sendiri sangat erat kaitannya dengan syahwat. Segala sesuatu yang menyangkut syahwat, pastinya tidak akan menggunakan akal sehat, yang lebih berperan adalah nafsu. Dari jaman kekhalifahan juga sudah begitu, dalam persaingan politik yang mengemuka cuma nafsu untuk berkuasa.

Ucapan Pak Habibie tentang Presiden Jokowi memang benar, bahwa Prabowo bukan musuh terberat Jokowi. Musuh terberat Jokowi adalah fitnah, dan itu terbukti. Ini yang harus diwaspadai oleh Presiden Jokowi, bahwa setiap kata dari ucapannya akan dicari celah kesalahannya, dan kata yang dianggap biasa bisa dipelintir untuk menjadi bahan fitnah. Pihak lawan tidak membutuhkan klarifikasi apapun, karena mereka tidak butuh pembenaran.

Tidak dibutuhkan nalar yang tinggi untuk memahami konteks pidato Presiden Joko Widodo dalam rapat umum relawan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Sabtu 4 Agustus 2018 yang menimbulkan pro kontra. Yang dibutuhkan cuma pemikiran yang baik dan niat yang baik untuk memahaminya.

Namun, di mata lawan politik Jokowi, pidato tersebut menjadi amunisi untuk menyerang Jokowi.

Bukan mereka tidak memahami secara substansial isi pidato tersebut, dan bukan karena mereka tidak menggunakan nalar dalam mencernanya, tapi kepentingan politik untuk memelintir isi pidato lebih besar muatannya ketimbang akal sehat mereka.

Sehingga isi pidato tersebut dianggap sebagai sebuah momentum politik untuk "Meng-Ahokkan Jokowi." Begitulah Politik, ketika cara-cara konstitusional dianggap tidak mampu untuk mengalahkan lawan, maka cara-cara kiriminal pun dilakukan.

"Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani," kata Jokowi.

Apa yang salah dari ucapan tersebut, hanya sebuah motivasi seorang pemimpin terhadap para pendukungnya. Sebuah anjuran tentang sikap keberanian dengan tetap menjaga moral dan etika kesantunan. Seperti pepatah, "Musuh tidak usah dicari, kalau datang dihadapi." Begitulah just satria sejatinya.

Presiden Jokowi dengan situasi sekarang ini, tentunya sudah sangat faham seperti apa kualitas lawan politiknya, mesti lebih mawas diri dalam mengeluarkan berbagai statement. Lawan politik sedang memgintai berbagai kelemahan untuk dijadikan amunisi, karena bertarung secara kesatria tidak lagi dianggap mampu bisa mengalahkan.

***