Jangan pernah berpikir tentang persaingan politik yang sehat. Karena politik itu sendiri sangat erat kaitannya dengan syahwat. Segala sesuatu yang menyangkut syahwat, pastinya tidak akan menggunakan akal sehat, yang lebih berperan adalah nafsu. Dari jaman kekhalifahan juga sudah begitu, dalam persaingan politik yang mengemuka cuma nafsu untuk berkuasa.
Ucapan Pak Habibie tentang Presiden Jokowi memang benar, bahwa Prabowo bukan musuh terberat Jokowi. Musuh terberat Jokowi adalah fitnah, dan itu terbukti. Ini yang harus diwaspadai oleh Presiden Jokowi, bahwa setiap kata dari ucapannya akan dicari celah kesalahannya, dan kata yang dianggap biasa bisa dipelintir untuk menjadi bahan fitnah. Pihak lawan tidak membutuhkan klarifikasi apapun, karena mereka tidak butuh pembenaran.
Tidak dibutuhkan nalar yang tinggi untuk memahami konteks pidato Presiden Joko Widodo dalam rapat umum relawan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Sabtu 4 Agustus 2018 yang menimbulkan pro kontra. Yang dibutuhkan cuma pemikiran yang baik dan niat yang baik untuk memahaminya.
Namun, di mata lawan politik Jokowi, pidato tersebut menjadi amunisi untuk menyerang Jokowi.
Bukan mereka tidak memahami secara substansial isi pidato tersebut, dan bukan karena mereka tidak menggunakan nalar dalam mencernanya, tapi kepentingan politik untuk memelintir isi pidato lebih besar muatannya ketimbang akal sehat mereka.
Sehingga isi pidato tersebut dianggap sebagai sebuah momentum politik untuk "Meng-Ahokkan Jokowi." Begitulah Politik, ketika cara-cara konstitusional dianggap tidak mampu untuk mengalahkan lawan, maka cara-cara kiriminal pun dilakukan.
"Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah fitnah, tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang. Tapi, kalau diajak berantem juga berani," kata Jokowi.
Apa yang salah dari ucapan tersebut, hanya sebuah motivasi seorang pemimpin terhadap para pendukungnya. Sebuah anjuran tentang sikap keberanian dengan tetap menjaga moral dan etika kesantunan. Seperti pepatah, "Musuh tidak usah dicari, kalau datang dihadapi." Begitulah just satria sejatinya.
Presiden Jokowi dengan situasi sekarang ini, tentunya sudah sangat faham seperti apa kualitas lawan politiknya, mesti lebih mawas diri dalam mengeluarkan berbagai statement. Lawan politik sedang memgintai berbagai kelemahan untuk dijadikan amunisi, karena bertarung secara kesatria tidak lagi dianggap mampu bisa mengalahkan.
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews