Banyak pendukung HTI yang belum paham konsekuensi dari dukungan mereka kepada organisasi ini. Banyak pendukung dan simpatisan HTI yang tertipu dan mengira bahwa organisasi ini adalah organisasi dakwah Islam sehinggga mereka membela mati-matian karena merasa sedang membela agama.
Padahal, organisasi ini adalah partai politik asing yang didirikan di Baitul Maqdis, Palestina, oleh imam pertamanya, Taqiyudin an-Nabhani pada tahun 1953. An-Nabhani sendiri sebelumnya adalah aktivis Ikhwanul Muslimin Yordania. Jadi selagi pendukung HTI mengira sedang memperjuangkan agama Islam mereka tanpa sadar ditunggangi untuk memperjuangkan visi partai politik transnasional ini dan sekaligus mengkhianati bangsanya sendiri.
Satu hal yang mereka tidak sadari adalah bahwa jika mereka menyatakan berjuang untuk mewujudkan khilafah berarti itu akan membubarkan negara yang ada saat ini. Menginginkan berdirinya khilafah berarti ingin mengubah konstitusi dan dasar negara Pancasila. Dan itu artinya ingin membubarkan NKRI. Anda secara tidak sadar menjadi pengkhianat bangsa, sebagaimana DI/TII, Permesta, dan PKI.
Tapi 'kan HTI tidak pernah melakukan kekerasan.
Memang belum. Tapi itu hanya masalah waktu. Percayalah, suatu saat HTI pasti akan melakukan tindak kekerasan, lha wong faktanya anggota organisasi Hizbut Tahrir di negara lain ini SUDAH melakukan tindak kekerasan di berbagai negara sehingga organisasi ini dilarang di banyak negara dengan tuduhan sebagai organisasi teroris dan anggotanya ditangkapi. Mereka bahkan sudah melakukan kudeta di beberapa negara.
Jadi siapa yang menjamin bahwa HTI tidak akan melakukan hal yang sama ketika mereka melihat adanya kesempatan untuk itu? Suatu saat kekerasan pasti akan dilakukan. Bahkan menurut Ziauddin Sardar, “In fact, violence is central to HT's goals.” Mengapa? Karena ideologi HT ini memang tanpa kompromi.
Lha wong mereka menganggap negara Indonesia ini darul kufr dan pemerintahannya thagut, mereka anti-pemerintahan thaghut, anti-upacara bendera, anti-demokrasi, dan anti-pemilu, pokoknya anti macam-macamlah (mestinya juga anti-KTP, Surat Kelahiran, Surat Nikah, Pajak Bumi dan Bangunan, dan anti-tinggal di wilayah darul kufr. Polisinya jelas thagut tapi kalau HTI mau demo dia minta ijin sama polisi thaghut. Apa boleh buat…).
Karena ideologinya tanpa kompromi maka jika mereka berkuasa maka semua orang harus tunduk tanpa syarat pada interpretasi politiknya. Dengan kata lain, kekhalifahan HT hanya bisa berdiri dengan menggunakan kekerasan pada semua interpretasi Islam lain dan mereka yang tidak tunduk pasti akan mendapat tindakan kekerasan darinya.
Jangankan pada yang non-muslim lha wong kepada sesama muslim aja kita itu tega martega lho.. Coba baca sejarah kekhilafahan Islam sejak khulafaur rasyidin sampai mentok. Full of violence and blood. Tiga dari empat khalifah di jaman khulafaur rasyidin justru meninggal karena dibunuh oleh sesama muslim karena pertentangan pendapat dan perebutan kekuasaan. Itu adalah fakta sejarah yang mungkin kita selalu berupaya untuk berpaling darinya.
Seandainya pun Hizbut Tahrir bisa berkuasa maka ia tidak akan mungkin hidup lama. Lha wong Hizbut Tahrir menolak ideologi negara politik modern seperti nasionalisme, demokrasi, kapitalisme, sosialisme dan konsep-konsep asing lainnya. Lha kalau dia menolak itu semua lalu Hizbut Tahrir itu mau hidup sama siapa dan di mana? Apa mau hidup tanpa teman? Lha wong semua orang dikafir-kafirkan, ditaghut-thagutkan, dinistakan, lalu sampeyan mau reunian dan bukber sama siapa? Gak pingin pesen makanan lewat Go Food tah?
Kalau menolak nasionalisme maka jelas nama Indonesia akan dihapus oleh HTI. Tidak akan ada lagi nasionalisme. Negara dan bangsa Indonesia akan dicoret.
Kalau kita pingin ikut ASIAN Games maka kita tidak bisa lagi pakai jaket dan bendera merah dan putih. Nama tim sepakbola kita adalah “Tim Sepakbola Kekhilafahan Asia Tenggara Rodok Ngetan” dan benderanya sudah jelas pakai benderanya HT yang bertuliskan dua kalimat syahadat itu.
Yang jelas supporter bonek dilarang. Kalau mau jadi supporter ya harus pakai gamis dan teriaknya hanya boleh “Allahu Akbar” dan “Khalifah Jaya…!”
Sumprit gak asyik…!
***
Surabaya, 10 Juni 2018
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews