Kali Item versus kambing Item. Kali atau sungai yang ada di Jakarta pada umumnya airnya item dan bau karena bercampur dengan berbagai limbah rumah tangga, perkantoran dan industri. Dan ini sudah terjadi bukan hitungan tahun tapi sudah puluhan tahun.
Kali item ini seakan dianggap takdir atau susah untuk mencari solusinya atau cara penanganannya supaya air yang dulunya item bisa berubah menjadi air yang normal.
Pemerintah daerah atau pemprov DKI Jakarta seakan juga abai dan tidak menjadikan pembersihan kali atau sungai-sungai di menjadi program prioritas atau program unggulan. Dianggap sudah biasa dan bukan suatu persoalan atau masalah yang harus dibereskan.
Dunia medsos beberapa hari ini dihebohkan dengan kebijakan pemprov DKI Jakarta untuk menutup Kali Sentiong di Kebayoran dengan waring atau jaring item supaya baunya tidak terlalu menyengat. Kebijakan ini diambil karena akan ada perhelatan bertaraf dunia, yaitu Asian Games. Dan para peserta dari berbagai negara akan menginap di Wisma Atlet yang dekat dengan Kali Sentiong yang terkenal airnya item dan bau.
Sebenarnya kebijakan menutup Kali sentiong dengan waring adalah kebijakan sementara dalam rangka hajatan dunia Asean Games. Dan setelah nanti Asean Games selesai harusnya pembersihan Kali Item menjadi prioritas pemprov DKI Jakarta. Jangan malah menutup Kali Item menjadi cara mengatasi atau menjadi solusi untuk jangka panjang.
Kebijakan menutup Kali Item dengan waring hanyalah seperti permainan ilusi atau menipu penglihatan manusia saja. Seakan-akan mata manusia mau ditipu dengan adanya waring tersebut. Padahal di bawah waring ada sesuatu yang sengaja ditutupi yaitu Kali item yang bau dan sangat menjijikkan. Sepandai-pandainya kita menutup bangkai, akan tercium juga.Begitulah petuah orang bijak.
Rupanya olok-olok yang ramai di media sosial ditanggapi oleh Gubernur Anies Baswedan. Bukannya menanggapi dengan bijak atau memberi pernyataan,seperti bahwa kebijakan penutupan Kali sentiong dengan waring hanyalah sementara, malah mencari alasan atau mencari "kambing item". Dan momennya pas mendekati Idul Adha, kambing item jadi korban, tetapi jadi korban oleh politikus yang sekarang menjadi kepala daerah atau gubernur.
Gubernur Anies mencari "kambing item" dengan mengatakan persoalan Kali Item yang ada di Jakarta adalah peninggalan pemerintahan sebelumnya, bukan pemerintahan yang sekarang. Jadi menurut Anies, pemerintahan sebelumnya malah meninggalakan masalah yang harus diselesaikan oleh pemerintah yang sekarang.
Anies malah menyalahkan pemerintah sebelumnya yang membiarkan kondisi sehingga dirinya yang harus membereskan.
Bukankah pemerintahan itu sambung menyambung karena ada batasan jabatan? Artinya kalau program pemerintah sebelumnya belum beres, maka pemerintah berikutnya yang akan melanjutkan untuk membereskan segala masalah dan persoalan yang ada. Bukan malah mencari "kambing item".
Gubernur Anies juga mencari "kambing item" dengan menyalahkan desain Wisma Atlet tempat untuk makan atau ruangan untuk makan menghadap Kali item atau Sentiong. Aduuh-aduuh... repot pejabat hanya menyalahkan pihak lain saja.
Anies juga menyalahkan media nasional atas hebohnya berita Kali Item atau Sentiong yang sampai diberitakan oleh salah satu media internasional atau asing. Media internasional mengambil dari media nasioanal, kalau media nasional tidak memberitakan secara masif tidak mungkin media internasional akan memberitakannya. Begitu beber Anies.
Memang Gubernur Anies Baswedan dan wakil gubernur Sandiaga Uno selama memimpin Ibu kota yang belum satu tahun ini terkadang gagap dan penuh kontroversi dalam mengambil kebijakan. Kalau ramai di medsos baru mereka merespon atau menanggapi.
Cara merespon atau menanggapinya terkadang malah cenderung ngeles atau mencari-cari yang bisa disalahkan, yaitu mencari "kambing item" itu tadi.
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews