Sanggama dan Covid

Kebahagiaan itu mahal. Makanya tak ada satupun toko menjualnya, karena dianggap tak ada yang mampu membeli. Kecuali pada mereka yang berendah hati.

Rabu, 7 Oktober 2020 | 07:01 WIB
0
33
Sanggama dan Covid
Ilustrasi hang out saat covid (Foto: Facebook/Sunardian Wirodono)

Bisakah orang tertular Covid-19 karena senggama? Bisa saja, seandainya salah satunya positif terpapar Covid-19. Kalau keduanya sama-sama sehat-bugar, tak kurang suatu apa, bisa jadi hanya salah satunya bakal mengalami kepositifan. Misal positif hamil.

Tahukah Anda, ada perempuan pekerja seks komersial yang dalam sehari melayani 6 (enam) lelaki hidung macem-macem (ada yang pesek, mancung, biasa saja, dan seterusnya), dan kemudian didapati meninggal, dalam pelayanan yang terakhir? Karena kelelahan, sesak nafas, jantungan, atau karena persenggamaannya?

Maaf, tulisan ini hanya untuk yang sudah dewasa. Yang belum dewasa, mohon sabar menanti, sampai KPAI tidak melindungi Anda lagi. Karena takutnya, tulisan seperti ini akan dituding KPAI melecelehkan salah satu komisionernya. Karena paska reformasi 1998, banyak pejabat dan komisioner negara baperan, dengan andalan pencemaran nama baik. Padal, punya nama baik juga kagak, kecuali pemberian nama dari orangtuanya. Hingga soal anjay saja ributnya minta amplop!

Di jaman aturan, physical distancing ini, bagaimana melakukan persengganaan dengan phisik yang berjarak? Wong salaman atau jabat tangan saja dianjurkan dihindari. Apalagi pelukan, cipika-cipiki, dan lebih-lebih penetrasi. Ada yang nyeletuk, ya kalau suami-isteri, kan masing-masing sudah tahu. Belum tentu. Jangan sok-tahulah. Sekali-kali sok-tempelah, kan sama-sama bergizi?

Sampai di sini, saya belum juga tahu secara persis; Ada yang menyebut istilah senggama itu kasar. Kurang sopan. Mana lebih kasar dengan istilah kenthu? Coitus? Bersetubuh? Bersebadan? Menyatu? Penetrasi? Ihik? Ngencuk? Atau, ngene, nganu? Tapi pentingkah sebutan-sebutan itu diseminarkan, untuk disamakan? Biar saja orang menyebut sesuai kesukaan dan tingkat pendidikan serta pengetahuannya. Jangan apa-apa diseragamkan.

Anda tahu, apa manfaat menyeragamkan celdam harus berwarna kuning semua, atau pink semua? Terus kemudian dibentuk Satgas Pemeriksa Celdam, dengan tugas menghukum yang tidak memakai celdam sesuai aturan?

Apa coba hukumannya bagi pelanggar aturan? Hukuman sosial lari-lari keliling Istana Negara dengan celdam dikibarkan, sebagaimana salah satu puisi Rendra, ‘Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta’? Apakah pelacur hanya istilah untuk perempuan pekerja seks komersial? Yang amatiran bagaimana? Yang konsumen bagaimana? Yang melacurkan jabatan negara bagaimana?

Maka ujar Yesus, “Kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu untuk merajam dia,…” Dan tahukah Anda, senyampang itu Nabi Muhammad ngendika; Pelacur yang memberi minum pada anjing kurus-kering kehausan itu akan mendapatkan sorga?

Semua hal tergantung pada centhelan. Seperti halnya semua pohon jati tertanam di tanah. Maka kalau ada yang sampai di sini bertanya, mana pembahasan soal senggama? Pertanyaannya; Siapa yang menjanjikan tulisan ini membahas soal senggama? Senggama kok dibahas. Mending dilakukan, dinikmati, dengan cara yang baik dan benar, tidak sombong, bukan ngomdo, apalagi hoax.

Kebahagiaan itu mahal. Makanya tak ada satupun toko menjualnya, karena dianggap tak ada yang mampu membeli. Kecuali pada mereka yang berendah hati. Bahwa hidup adalah juga terdiri dari berkat-berkat kebaikan. Tidak hanya sekedar keluh-kesah. Apalagi bisanya cuma maki-maki, dan menyalahkan liyan.

@sunardianwirodono

***