Fudhail Ibnu ‘Iyadh

Minggu, 28 Oktober 2018 | 23:32 WIB
0
444
Fudhail Ibnu ‘Iyadh

Abu ‘Ali al Fudhail ibnu ‘Iyadh al Talaqani lahir di Khurasan, dan diriwayatkan bahwa pada awalnya ia adalah seorang penyamun. Setelah insyaf, ia pergi ke Kufaj dan kemudian ke Makkah, di mana ia tinggal selama bertahin-tahun dan wafat pada tahun 187 H/803 M.

Ia adalah seorang periwayat hadis terkemuka, dan keberaniannya menegur serta menasehati Harun ar Rasyid diriwayatkan secara luas.

Fudhail dan Harun ar Rasyid

Suatu malam, Harun ar Rasyid memanggil Fadhl Barmaki, salah seorang kepercayaannya. “Bawa aku malam ini menemui seseorang yang mau membuka aibku kepada diriku,” perintah Harun. “Jiwaku letih akan kebesaran dan kesombongan.”

Fadhl membawa Harun menuju rumah Sufyan Ibnu Uyaina. Mereka mengetuk pintu rumah.

“Siapa itu?” Tanya Sufyan.
“Amirul Mukminin,” Fadhl menjawab.
“Mengapa beliau menyusahkan dirinya sedemikian rupa?” Kata Sufyan. “Seharusnya aku diberi tahu sebelumnya, agar aku dapat menghadap beliau.”
“Bukan ini orang yang aku cari,” komentar Harun. “Ia menjilatku seperti yang lainnya.”

Mendengar apa yang dikatakan Harun, Syufan berkata, “Kalau begitu, Fudhail ibnu ‘Iyadh-lah orang yang Anda cari. Anda harus menemuinya.” Dan Sufyan pun membaca ayat ini; “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh...?”

“Jika aku mencari nasihat yang baik, cukuplah ini bagiku,” kata Harun.
Mereka mengetuk pintu rumah Fudhail.
“Siapa itu?” Tanya Fudhail.
“Amirul Mukminin,” Fadhl menjawab.
“Apa urusannya denganku, dan apa urusanku dengannya?” tanya Fudhail lagi.
“Bukankah wajib, mematuhi mereka yang berkuasa?” tukas Fadhl.
“Jangan ganggu aku,” pekik Fudhail.
“Haruskah aku masuk dengan kekuasaan atau dengan izinmu?” Tukas Fadhl.
“Tidak ada itu yang namanya kekuasaan,” jawab Fudhail. “Jika engkau masuk dengan cara paksa, engkau tahu apa yang engkau lakukan.”

Harun pun masuk.

Ketika Harun mendekatu Fudhail, Fudhail mematikan lampu sehingga Harun tidak bisa melihat wajahnya. Harun menjulurkan tangannya, dan tangan Fudhail menyentuhnya.

“Betapa halus dan lembut telapak tangan ini, andai saja ia dapat lolos dari api neraka!” Kata Fudhail.

Setelah berkata demikian, Fudhail bangkit dan salat. Harun merasa sangat tersentuh dan air mata pun bercucuran membasahi pipinya.

“Katakan sesuatu padaku,” Harun memohon.

Fudhail memberi hormat kepada Harun, kemudian berkata, “Leluhurmu, paman Nabi saw, suatu kali memohon kepada Nabi saw., ‘Jadikanlah aku pemimpin dari sejumlah orang.’ Nabi saw menjawab, ‘Paman, sejenak aku telah menjadikanmu sebagai pemimpin bagi dirimu sendiri.’

Maksud Nabi saw., ‘Bagimu, sejenak mematuhi Allah lebih baik daripada seribu tahun orang-orang mematuhimu.’ Nabi saw. menambahkan, ‘Kekuasaan dapat menjadi penyebab penyesalan di Hari Kebangkitan.’”

“Teruskanlah,” Harun memohon.

Fudhail meriwayatkan, “Ketika Umar ibnu ‘Abdul Aziz dinobatkan sebagai khalifah, ia memanggil Salim ibnu ‘Abdullah, Raja’ ibnu Hayat, dan Muhammad ibnu Ka’ab. ‘Aku sedih menerima cobaan ini,’ katanya kepada mereka. ‘Apa yang harus aku lakukan? Karena aku tahu bahwa kedudukan tinggi ini adalah cobaan, walaupun banyak orang menganggapnya sebagai berkah.’

Salah satu dari ketiga orang itu berkara, ‘Jika engkau ingin di kemudian hari lolos dari hukum Allah, perlakukanlah orang-orang Muslim yang telah lanjut usia layaknya setiap dari mereka adalah ayahmu, anggaplah pemuda-pemuda Muslim sebagai saudara-saudaramu, anak-anak Muslim sebagai anak-anakmu sendiri, perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan seseorang terhadap ayah, saudara, dan anaknya.’
“Lanjutkan,” ujar Harun.

“Anggaplah tanah-tanah Islam sebagai rumahmu sendiri, dan penduduknya sebagai keluargamu,” kata Fudhail.” Kunjungi ayahmu, hormati saudaramu, dan berbaik hatilah kepada anakmu. Aku takut,” lanjutnya, “wajah tampanmu akan terbakar habis oleh api neraka. Takutlah kepada Allah, dan patuhilah perintah-Nya.

Waspada dan berhati-hatilah; karena pada Hari Kebangkitan, Allah akan meminta pertanggung-jawabanmu mengenai setiap Muslim, dan Dia akan menegakkan keadilan atasmu berkenaan dengan setiap orang. Jika suatu malam, seorang wanita tua tidur di rumahnya tanpa makanan, ia akan bersaksi melawanmu.”
Harun menangis pilu, hingga kesadarannya seakan mau hilang.

“Cukup! Engkau telah membunuh Amirul Muminin,” teriak Fadhl sang wazir.
“Diam kau, Haman,” pekik Fudhail, “Engkau dan orang-orangmulah yang menghancurkannya, lalu engaku berkata bahwa aku telah membunuhnya. Apakah ini pembunuhan?”

Kata-kata ini membuat tangisan Harun semakin menjadi-jadi.
“Ia memanggilmu Haman,” kata Harun kepada Fadhl, “karena ia menyamakan akj dengan Fir’aun.”
Kemudian, Harun bertanga kepada Fudhail, “Apakah engkau punya utang?”
“Ya, utang ketaatan kepada Allah,” jawab Fudhail.
“Jika Dia memberiku tugas yang lebih dari ini, sengsaralah aku!”
“Yang aku maksud, utang kepada manusia, Fudhail,” kata Harun.
“Segala puji bagi Allah, Dia yang telah memberiku berkah yang berlimpah, sehingga aku tidak perlu mengeluh kepada hamba-hamba-Nya,” tukas Fudhail.

Kemudian Harun memberikan kantong berisi seribu dinar kepada Fudhail. “Uang ini halal, ibuku mewariskannya padaku,” katanya.
“Amirul Mukminin,” kata Fudhail, “ nasihatku padamu ternyata tiada berguna. Bahkan sekarang engkau telah mulai melakukan kesalahan dan ketidak adilan lagi.”
“Kesalah apa?” Tanya Harun.
“Aku mengajakmu menuju keselamatan, dan engkau menjerumuskan aku ke dalam godaan. Sesungguhnya ini adalah perbuatan yang salah,”

Kata Fudhail. “Aku beri tahu kau, berikanlah apa yang engkau miliki kepada pemilik sesungguhnya. Kau malah memberikan ini kepada orang yang tidak berhak. Percuma aku bicara.”

Setelah berkata begitu, Fudhail bangkit dari hadapan Khalifah dan melempar uang emas itu keluar.
“Ah, bukan main dia!” Ujar Harun sambol meninggalkan rumah Fudhail. “Sesungguhnya Fudhail adalah raja manusia. arogansinya ekstrem, dan dunia sangat menjijikkan di matanya.”

***