Mengapa Masyarakat Indonesia Memilih Bekerja Diaspora

Prestasi beberapa diaspora Indonesia di ranah internasional patut dibanggakan, tapi perlu diingat juga bahwa banyak anak bangsa yang berpotensi memberikan prestasi serupa jika negara membimbing dan memberi kesempatan.

Rabu, 27 April 2022 | 05:15 WIB
0
69
Mengapa Masyarakat Indonesia Memilih Bekerja Diaspora
Gambar ilustrasi

mengapa masyarakat indonesia memilih bekerja diaspora ''Bisa enggak, kita membuat ekosistem di Indonesia supaya para talenta digital ini betah dan mau berkreasi di Tanah Air?”

Begitulah ucapan Presiden Joko Widodo kepada empat ahli teknologi asal Indonesia
yang berkarir di luar negeri, termasuk Ainun Najib yang sekarang di Singapura.

Selain mereka, masih banyak talenta terbaik bangsa yang memilih berkarir di luar negeri. Menurut laporan Bank Dunia pada 2017, terdapat 9 juta diaspora Indonesia yang bekerja di luar negeri, menyamai jumlah penduduk Austria.

Indonesia tentunya harus hati-hati karena besarnya arus emigrasi berisiko menyebabkan brain drain. Waduh, maksudnya bagaimana?

Sederhananya, brain drain adalah efek negatif dari human capital flight, fenomena di mana individu berketerampilan tinggi meninggalkan negara asal.

Tantangan ini dihadapi Indonesia yang akan mengalami bonus demografi karena pada periode 2030-2040, jumlah usia produktif diproyeksikan mencapai 60%. Maka diperlukan strategi dan upaya besar untuk meningkatkan kualitas SDM penduduk berusia produktif agar keterampilan mereka dapat memajukan negara.

Ainun Najib bukanlah diaspora pertama yang diminta pulang. B.J. Habibie, Presiden Indonesia ketiga, merupakan salah satu pelopor diaspora Indonesia di Jerman yang bertalenta di dunia penerbangan.

Presiden Soeharto bahkan sampai membujuknya pulang dengan mendirikan PT. Dirgantara Indonesia, produsen pesawat tempat Habibie menciptakan Pesawat N250 Gatotkaca.

Begitu pula dengan Sri Mulyani, mantan managing director World Bank yang dipanggil oleh Presiden Joko Widodo untuk kembali menjabat sebagai menteri keuangan.

Majalah keuangan FinanceAsia menyebutnya sebagai menteri keuangan terbaik se-Asia Pasifik selama tiga tahun berturut-turut. Melihat pencapaian tadi, tak heran jika pemimpin negara ingin memulangkan beberapa diaspora.

Tapi jika dipikir lagi, kenapa ya bisa banyak diaspora Indonesia?

Pertama, perlu diketahui bahwa diaspora tidak sebatas pekerja kerah putih atau yang berketerampilan tinggi. Bank Dunia bahkan melaporkan bahwa 78% pekerja migran di 2013 bukanlah lulusan SMA,dan banyak yang menjadi PRT, petani, pekerja konstruksi, dan buruh pabrik.

Kebanyakan dari mereka pun tersebar ke negara-negara Asia lainnya seperti Malaysia, Arab Saudi, dan Taiwan. Keputusan bermigrasi ini seringkali didasari oleh kebutuhan ekonomi.

Sekitar 70% mantan pekerja melaporkan bahwa penghasilannya naik 4 kali lipat setelah berpindah. Selain itu, kualitas hidup yang lebih baik juga menjadi alasan terbesar dari warga Indonesia yang ingin pindah. Begitu juga dengan pendidikan.

Sekarang, terdapat lebih dari 53 ribu pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri.
Melihat data-data tadi, sudah jelas bahwa Indonesia perlu lebih gencar mengedepankan pendidikan, kesejahteraan masyarakat, dan stabilitas ekonomi nasional untuk menghindari brain drain.

Mengutip obrolan Ainun Najib dengan Presiden Joko Widodo lewat YouTube Sekretariat Presiden, kuncinya terletak pada kesempatan dan stabilitas. Indonesia memang memiliki banyak kesempatan, apalagi mengingat potensinya untuk menjadi negara maju.

Nah, stabilitas-lah yang perlu diperhatikan, terutama dari segi pendidikan dan perkembangan karir. Tapi menjadi diaspora bukan berarti merugikan negara. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengakui diaspora Indonesia berperan dalam perluasan jaringan ekspor.

Sedangkan memulangkan diaspora secara tidak langsung dapat merugikan devisa negara.
Kenapa?

Karena diaspora seperti pekerja migran Indonesia menyetor Rp159,7 triliun ke devisa negara setiap tahunnya, setara dengan 7% dari APBN. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun beranggapan kehadiran diaspora Indonesia dapat memperkuat posisi Indonesia secara global.

Contohnya bisa dilihat dari kekuatan diaspora RRC. Negara mana yang tidak punya Chinatown? Selain mempromosikan budaya, mereka juga membantu kerjasama negara-negara dengan RRC.

Begitu juga dengan diaspora India yang banyak menjadi CEO di Amerika Serikat dan mempermudah kerjasama dengan negaranya, atau diaspora Filipina yang menyumbang 20% PDB negara dengan mengirimkan pendapatan ke keluarga.

Pertanyaannya adalah, apakah demi meningkatkan kualitas SDM negara sampai harus memulangkan diaspora?

Menurut Ketua Komite Penyelarasan TIK, pemerintah sebaiknya jangan cuma berharap pada talenta digital yang bekerja di luar negeri, melainkan mencari cara untuk memberdayakan talenta dalam negeri yang tersebar seluruh Indonesia.

Kembali lagi ke bonus demografi, ini adalah peluang bagi Indonesia untuk mengasah keterampilan calon-calon penerus bangsa tersebut. Prestasi beberapa diaspora Indonesia di ranah internasional memang patut dibanggakan, 97 Tapi perlu diingat juga bahwa banyak anak bangsa yang berpotensi memberikan prestasi serupa jika negara membimbing dan memberi kesempatan.

***