Tentang Kesombongan Para Amerikanis Itu

Pada akhirnya menunjukkan keterpukauannya pada sukses ala Amerika yang telengas, licik, dan serakah. American way of life yang hanya tampak di permukaan sebagai humanis, demokratis, dan sebagai pembela nomer 1 HAM.

Minggu, 27 Juni 2021 | 07:26 WIB
0
43
Tentang Kesombongan Para Amerikanis Itu
Azrul Ananda (Foto: lensaindonesia.com)

Dari ribuan cerpen yang pernah saya baca, salah satu yang paling melekat di kepala saya justru adalah tulisan sederhana Reda Gaudiamo. Seorang multi-talentis, yang tulisannya seindah dan sekaya vibrasi suaranya.

Cerita pendek itu temanya tentang "Reuni", seingat saya ditulis di Tabloid Nova. Yang saya baca, ketika pulang ke Bandung menengok ibu. Suatu cerita sederhana yang berkisah sepasang manusia yang pernah pacaran di masa SMA. Tapi hubungan mereka gagal berlanjut. Si perempuan melanjutkan hidupnya di tanah air, dan si pria meneruskan studinya di Amerika.

Dan setelah sekian lama, pertemuan itu terjadi dalam sebuah reuni ala ala hari ini. Tentu walau tak lagi berhubungan, memori membuat si perempuan ribet sendiri dengan dirinya. Ya penampilan, ya dugaan, dan tentu harapan-harapan yang aneh. Ingin melihat tapi juga ingin dilihat. Ia membayangkan si ganteng, yang dulu penuh mimpi dan cita-cita itu. Belum lagi bertemu, tiba-tiba sudah mengidamkan apa yang terjadi setelahnya. Suatu cerita yang perempuan banget pokoknya....

Lalu apa yang terjadi saat pertemuan tiba waktunya?

Tak dinyana laki-laki impiannya itu sekarang tak lagi menarik, sama sekali tak menarik. Dulu ia yang tampan, atletis, atlet basketball sudah berubah menjadi tambun dan kepalanya membotak. OK, itu hanya perjalanan waktu semua orang mengalaminya. Tapi selera reuni-nya bubar, saat kata-kata pertama menyembur dari mulut si mantan. Ia berujar, pulang terutama bukan karena reuni-nya, tapi mengurus warisan yang ditinggalkan keluarganya. Ih!

Dan puncaknya, ketika ia justru lebih berbicara tentang kemungkinan proyek-proyek yang bisa dibawanya pulang ke Amerika. Bahkan ia tanpa malu menawarkan diri "nggandul" pada pekerjaan teman-temannya. Dalam konteks menawarkan "portofolio"-nya sekedar sebagai seorang yang pernah tinggal, belajar dan bekerja di Amerika. Sebuah gambaran watak rakus, serakah, dan tak punya perasaan.

Alih-alih ber-reuni mengenang masa lalu, ia nyinyir terhadap keterbelakangan bangsanya. Sambil berusaha terus menawarkan gagasan bagaimana merampok bangsanya, tanpa sedikit pun empati dalam cara berpikirnya...

Singkat cerita: si perempuan pulang, remuk harapannya. Muak perasaannya. Menyesal melakukan penantian konyol yang tak berati apa-apa lagi. Reuni yang ambyar, gagal total....

Cerpen ini pas sekali, menggambarkan banyak "manusia gagal, yang merasa super". Hanya karena ia berbau Amerika. Sangat gampang merendahkan bangsanya sendiri, tanpa merasa bersalah. Berhenti pada sikap sinistik, tanpa berusaha memberi solusi, boro-boro perubahan....

Dalam konteks inilah, saya mulai kehilangan simpati pada Kabinet Jokowi ketika ia merekrut "Trio Pedagang Rente" itu. Tiga orang yang menunjukkan bahwa Jokowi tak sehebat yang pernah saya bayangkan. Bukan saja, kita bertoleransi bahwa ia bisa saja salah tapi pada akhirnya banyak membuat kebijakan serba salah. Karena selera buruk yang tergiring alam bawah sadarnya.

Pada akhirnya menunjukkan keterpukauannya pada sukses ala Amerika yang bagi saya telengas, licik, dan serakah. American way of life yang hanya tampak di permukaan sebagai humanis, demokratis, dan sebagai pembela nomer 1 HAM.

Kenyataannya non-sens: penipu, manipulator, agresor, dan aneksasor. Di luar dirinya harus ndlosor pokoknya...

Saya tiba-tiba sangat jengkel, saat dikirimi tulisan Azrul Ananda berjudul "Vaksin Berpikir Simple". Ketika saya sudah menjauh dari kedua jenis tulisan ayah-anak ini, saya harus terjawil juga. Saya ini merasa tidak kaya, tidak pinter, dan wawasan saya terbatas. Tapi beberapa kali, membaca tulisan Dahlan Iskan, di blog kembar keduanya selalu merasa malu sebagai orang yang sama-sama berdarah Magetan.

Sebagai orang yang berasal dari daerah yang sama, tentu saya bisa dengan cepat mengendus karakter asli figur ini. Seorang yang saya pikir tak lebih maniak, yang asal-usulnya berasal dari kondisi masa lalu yang menyedihkan...

Di Jogja, ia dikenal sebagai orang yang menapak tinggi dengan menginjak banyak kepala. Dulu ia membeli sebuah surat kabar berdarah asli lokal, hanya untuk dimatikan lalu digantikan dengan korannya yang berawal dengan brand radar-radar itu. Ia bukanlah seorang jurnalis sejati, tapi lebih sebagai seorang kapitalis wabil khusus seorang imperialis yang menancapkan kukunya secara kasar di banyak kota. Ia selalu berbicara tentang banyak kemajuan di dunia luar, tetapi sesungguhnya tulisannya tak lebih kabar plesir-nya, cerita kelas pergaulannya.

Kepeduliannya yang lipstick untuk menutupi betapa rapuh sesungguhnya hidup mereka. Tidak masa, tapi hari ini, bahkan besok. Dan sialnya itu berujung like father, like son....

Dalam tulisan terakhirnya sebagaimana saya sebut di atas. Ia bercerita tentang pengalaman terakhirnya. Suatu cerita yang harusnya ia malu tuliskan. Bermuhibah ke Amerika hanya sekedar untuk sepedaan, pit-pitan yang tak ada konteksnya dengan urusan kenegaraan. Di masa pandemik kaya gini? Ketika jutaan orang makan saja sulit, tak tahu hidupnya besok masih berlanjut apa tidak? Putus asa karena tak tahu harus berbuat apa!

Eh, dia berbicara tentang gaya hidup yang ia daku sebagai sehat. OK, saya tahu koleksi sepeda mahalnya satu rumah sendiri. Yang salah satunya seharga mobil kelas premium. Sak karepmu, dudu urusanku...

Tapi ia berbicara tentang perbandingan tentang proses vaksinasi di Amerika dan Indonesia?

Sungguh keterlaluan. Memberi contoh tentang berbagai kemudahan vaksinasi di Amerika, yang bisa walk ini. Bisa dilakukan di banyak tempat. Sambil mengejek dan mengajak orang atau lebih tepatnya berpikir simple. Simple, pale-lu peyang. Orang kaya memang selalu berbicara tentang "simple", tapi bisakah ia memberi contoh gaya hidup yang bersahaja. Menularkan perilaku hidup sederhana yang walk-in dan genuine, bukan yang palsu dan sekedar pencitraan.

Kenapa ia tidak bercerita ketika Amerika sebagai negara adidaya, yang sudah berhasil memproduksi vaksin sendiri. Tapi masih memaksa negara lain menjual vaksin ke negara mereka. Ketika banyak negara miskin lain membutuhkannya. Hanya agar memberi banyak pilihan vaksin bagi warganya sendiri. Ironisnya, warganya tak tertarik untuk divaksin?

Bagaimana vaksin ditawarkan di banyak ruang publik, tapi warga melengos tak tertarik. Tak hanya di bandara, pasar, super market di mana pun. Bagaimana banyak negara bagian, justru memberi hadiah bagi mereka yang mau divaksin. Menjadikan vaksinasi sejenis lotre, undian berhadiah.

Bagaimana bisa? Bisa, karena bagi Amerika, mencetak uang Dollar dan membeli ini itu tak harus dihubungkan dengan GDP dan beban utang negara. Orang kaya itu bebas, itu yang oleh si pembanyol Mardigu itu harus ditiru oleh pemerintahan Jokowi.

Di sinilah ia tidak fair dan manipulatif...

Apa ya dumeh, dia lama tinggal dan punya cantolan bisnis dengan AS. Lalu ia menganggap semua yang ada di Indonesia sedemikian brengseknya, sedemikian under developnya? Lalu mengejek betapa tidak simple-nya proses vaksinasi di Indonesia. Ia abai, atau lupa, atau nggak nganggap penting. Betapa berbedanya rupa geografis Indonesia, betapa masih banyaknya pekerjaan lain yang tak boleh berhenti hanya karena pandemik global ini.

Saya tidak peduli ia memuja-muja negeri keduanya itu, sambil terus ia menabur bisnis cari duit di tanah air aslinya. Saya paham, tulisan sejenis alih-alih memberi solusi betapa beratnya beban negara mengatasi situasi yang terjadi. Ia menjadi bahan bakar untuk para haters menyerang dan mendeskreditkan pemerintah. Ia tak lebih SJW, yang tak pernah memberi solusi tapi membuat citra apa saja yang dilakukan pemerintah adalah salah. Selalu buruk dan ngawur....

Kedua ayah-beranak ini bagi saya adalah "apa dan siapa" yang diisyaratkan oleh semua peribahasa pengingat dalam bahasa Jawa untuk menggambarkan perilaku orang setelah jadi kaya dan terkenal. Ia adalah sejenis kere munggah bale, melik nggendong lali. Orang yang sebaiknya aja dumeh, aja gumunan, aja kagetan....

Alih-alih membawa budaya kerja keras dan peduli ala filantropis Amerika yang rata-rata Yahudi itu. Ia hanya ingin menularkan gaya hidup menghargai diri terlalu tinggi, mengasorkan liyan di luar dirinya dan kelas pergaulannya.

Sedih? Prihatin? Tidak! Biasa saja, hanya jengkel dan geram saja....

***

NB: Dalam bagian terakhir tulisannya, ia mengejek siapa saja bisa sekolah setinggi langit untuk bisa memikirkan hal-hal paling rumit. Sayangnya, yang kita butuhkan mungkin justru sekolah untuk berpikir simple. Begitulah ia tak akan mau memilih kata "sederhana", karena tak akan pernah berani kembali menjalaninya...

Bagi saya, demikianlah orang kaya menggambarkan dirinya. Menjelaskan kenapa ketika orang kembali jatuh miskin, kita tak merasa perlu terlalu bersimpati. Itu hanya roda perputaran nasib. Saya makin paham, kenapa dari dulu perjuangan kelas itu tak pernah berakhir. Bukan terutama, karena iri terhadapnya. Tapi terutama untuk melawan kesombongan mereka!

***