Kala Presiden Gus Dur Perlu Didampingi Psikiater

Karena banyak naskah lay-out yang harus diperiksa langsung, BHM sepertinya dia lupa untuk menemui tamunya. Sang dokter ahli pun tahu diri.

Jumat, 2 April 2021 | 11:19 WIB
0
45
Kala Presiden Gus Dur Perlu Didampingi Psikiater
Koran Tempo (Foto: dok. Pribadi)

Hari ini, 20 tahun silam. Berita pertama saya dimuat di halaman muka. Isinya tentang kajian empat dokter ahli yang disampaikan kepada pimpinan MPR pada akhir Maret 2001. Mereka adalah ahli neurology (syaraf), psikiatri (kejiwaan), dan ophtalmology (penglihatan). 

Pada intinya, mereka menyatakan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengalami halangan dan tak mampu melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Cawe-cawe para dokter ini menambah panas situasi politik. Kala itu, Gus Dur tengah digoyang lewat Pansus Buloggate. 

Keesokan harinya saya ditugasi untuk mewawancarai kembali salah satu dokter ahli itu. Namanya saya lupa, tapi di tinggal di Jalan H Nawi. Sang dokter menerima kedatangan saya siang itu dengan ramah. Dia kembali mengungkapkan bahwa apa yang disampaikan kepada MPR bukan hasil pemeriksaan langsung, tapi cuma tinjauan dari penampilan sehari-hari Gus Dur seperti terlihat di media massa, khususnya televisi.  

Laporan saya disunting Widjayanto, Kepala Tempo News Room. Cuma begitu terbit, dokter yang saya wawancarai bersama dua temannya datang ke kantor redaksi di Kebayoran Center. Mereka menilai ada yang kurang akurat dalam berita yang terbit itu. Saya setuju. Ada semacam bias, atau pemelintiran.  

Tak cuma itu. Sang dokter juga meminta bertemu dengan Pemred Bambang Harymurti (BHM). Dia mengaku termasuk yang menangani BHM saat menjadi bakal calon astronot. 

Saya jadi kembali ngeh bahwa BHM pernah menjadi calon astronot cadangan, selain Ir Taufik Akbar pada pertengahan 1980-an. Astronot utamanya dari Indonesia kala itu adalah ahli Mikrobiologi Dr Pratiwi Sudarmono. Tapi kemudian proyek tersebut batal pemanen karena Challanger meledak setelah 73 detik mengudara pada 28 Januari 1986. Ketujuh awak di dalamnya tentu luluh lantak menjadi debu. 

Saya sampaikan ke mas BHM yang tengah berada di ruang desain. Tapi karena banyak naskah lay-out yang harus diperiksa langsung, sepertinya dia lupa untuk menemui tamunya. Sang dokter ahli pun tahu diri. Setelah menanti lebih dari 30 menit tanpa kepastian, dia dan sejawatnya undur diri.

***