Ketika Saya Dikira Gila

Beberapa teman yang mendapat gangguan jiwa disarankan istirahat dari kuliah dan tidak pernah terlihat lagi di kampus sampai saya selesai kuliah enam tahun kemudian.

Jumat, 7 Januari 2022 | 04:57 WIB
0
189
Ketika Saya Dikira Gila
Ilustrasi mahasiswa stress (Foto: halodoc.com)

TAHUN 1982 saya datang ke seorang dokter jiwa di Bandung, dengan sebuah surat pengantar, atas permintaan Sekretaris Jurusan saya di ITB. Saat itu memang beberapa mahasiswa ITB menampakkan gejala sakit jiwa akibat stres kuliah.

Saya disarankan ke dokter jiwa akibat tanda tangan saya di berkas ujian dianggap tidak wajar sebagai sebuah tanda tangan. Juga beberapa tingkah saya yang "agak nyentrik" seperti pakai celana jin yang robek-robek, makan nasi dulu baru lauk belakangan, atau memanjat tali untuk naik ke tempat tidur saya yang terletak di atas. Dengan kata lain, saat itu saya dianggap "tidak normal".

Oleh dokter jiwa yang memeriksa saya di sebuah pojok RS Hasan Sadikin, saya diminta menjawab berbagai pertanyaan. Bagian pertama dari "wawancara" itu adalah data dasar saya, seperti nama ayah, nama ibu dan latar belakang keluarga yang lain.

Kemudian, pertanyaan mengarah ke hal yang menuntut pemikiran, yaitu apa kira-kira yang membuat saya harus menemui sang dokter.

Wawancara berlangsung dengan intensitas tinggi sekali, sehingga waktu berpikir sangat singkat.

Di sela-sela pertanyaan serius itu, beberapa kali sang dokter dengan tiba-tiba menanyai saya dengan pertanyaan-pertanyaan dasar di bagian pertama "wawancara". "Eeeeh... siapa tadi nama ayahmu?".

Saya diwajibkan menemui sang dokter sekali lagi dan harus ditemani seorang teman kos dan seorang teman kuliah. Apa yang telah saya sampaikan kepada dokter dicocokkan dengan yang dikatakan kedua teman saya itu.

Hasil pemeriksaan, saya sehat jiwa raga. Walau begitu, saya diminta untuk mengubah tanda tangan saya yang sangat main-main itu.

Setelah pemeriksaan, saya kuliah seperti biasa. Sementara, beberapa teman yang ternyata mendapat gangguan jiwa disarankan istirahat dari kuliah. Teman-teman ini tidak pernah saya lihat lagi di kampus sampai saya selesai kuliah enam tahun kemudian. 

***

Keterangan: tulisan saya ini dimuat di Harian Kompas, 3 November 1998.