Saya pernah dengar seorang kerabat menyebut kata ini, pakappala' tallang, untuk seorang politisi yang menjajakan dukungan partainya ke mana-mana.
Sudah beberapa hari berita tentang seorang perempuan muda yang mengaku anak jenderal bintang tiga muncul media-media online, anteng di halaman teratas, pagi sampai malam dengan segenap variasi dan pengulangannya.
Dan kita tahu betapa tak berdayanya wartawan zaman kini: identitas perempuan dan jenderal bintang tiga itu tak sanggup mereka sibak sampai pagi ini.
Saya hanya ingin bertanya, apa masih zamannya mengaku-ngaku anak jenderal atau anak pejabat untuk urusan kecil begini?
Tapi sudahlah. Kita cerita yang lain saja tentang sebuah kata yang pernah kerap terdengar di keseharian saya di kota Makassar. Mumpung Presiden Jokowi pagi ini juga bertolak ke sana, siapa tahu beliau membacanya dan tidak tertipu orang yang mengaku-ngaku pelaut korban kapal tenggelam hehe.
Di Makassar ada sebutan unik bagi para penipu jalanan: pakappala' tallang. Ya, pelaut korban kapal tenggelam. Di seputar pelabuhan, Pantai Losari hingga kawasan pasar sentral, orang-orang ini biasanya berkeliaran mengincar orang baru atau terlihat lugu.
Ciri khasnya mirip: berdandan parlente, kadang dengan sepatu putih, logat Melayu atau lidah dicadel-cadelkan.
Modusnya, ia mengenalkan diri sebagai pelaut telantar karena kapalnya tenggelam tapi masih sempat menyelamatkan aneka barang yang ia beli di luar negeri saat berlayar. Mudah ditebak, barangnya itu berupa jam Rolex, dompet LV, jaket dan ikat pinggang kulit, kacamata dll.
Belakangan, pakappala' tallang juga menyebar di kota-kota bandar seperti seputaran Tanjung Priok, Jakarta dan kawasan Tanjung Perak, Surabaya.
Pelaut korban kapal tenggelam mungkin tak laku lagi jadi modus, tapi istilah pakappala' tallang tetap saja jadi kosakata sehari-hari untuk menyebut penipu jalanan.
Saya pernah dengar seorang kerabat menyebut kata ini, pakappala' tallang, untuk seorang politisi yang menjajakan dukungan partainya ke mana-mana.
Kosakata pakapala' tallang rupanya sudah naik kasta.
Selamat pagi Jakarta.
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews