Pasien dan Pembezuk

Si pasien itu tak lain adalah Soekarno, sedangkan pembezuknya adalah sahabat dan wakilnya ketika republik didirikan, Hatta.

Minggu, 21 Juni 2020 | 07:11 WIB
0
84
Pasien dan Pembezuk
Soekarno, di belakang Soeharto (Foto: tirto.id)

Perawat di ruangan bangsal rumah sakit menjelaskan jika sudah beberapa hari sang pasien dalam kondisi demikian. Masih hidup, tapi kondisinya pingsan. Seperti tidur dari malam pun sesiangan.

Tak bisa makan. Tak bisa minum. Praktis sudah tak ada reaksi dari tubuh pasien.

Elusan, bisikan, sapaan, dari siapapun, juga tak membangkitkan reaksi apa-apa. Apalagi sekadar tatapan.

Padahal, dulunya sebelum jatuh sakit ia adalah manusia gagah. Wajahnya bulat cerah. Suaranya lantang menggelegar indah.

Seseorang membezuk, ditemani salah seorang anaknya. Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, sang pembezuk memutuskan pulang karena kawannya di pembaringan rumah sakit itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan siuman.

Rombongan kecil pembezuk pun perlahan melangkah ke arah pintu. Tapi langkah itu terlihat berat.

Geraknya yang berat menunjukkan kekecewaan pembezuk. Sesekali ia menoleh ke belakang, ke pembaringan, berharap kawan lamanya itu sadar sebelum ia pergi dari ruangan.

Saat akan membuka pintu, ia masih mengarahkan pandangannya pada tubuh yang sudah lunglai lemah itu. Beruntung ia masih terus melihat ke arah pasien, karena sesaat setelah itu si tubuh lemah terlihat membuka matanya.

Bergegas ia kembali ke ranjang pembaringan dan menghampiri kawannya itu.

“Ah, No, bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

Yang ditanya tidak menjawab. Kondisi sakitnya membuat ia sulit untuk berbicara. Namun samar-samar terdengar lirih suara pasien pada kawannya.

Hoe gaat het (apa kabarmu)?” sambil mencoba meraih tangan sang kawan, yg menungguinya di tepi dipan dalam kepiluan.

Setelahnya mereka tak lagi bicara. Pembezuk pun pulang.

Sesampai di luar gedung rumah sakit, ia masih menengok ke arah jendela kawannya yang tergolek tiada daya.

Si pasien itu tak lain adalah Soekarno, sedangkan pembezuknya adalah sahabat dan wakilnya ketika republik didirikan, Hatta.

Mereka pernah berjuang bersama-sama, saling ejek, saling canda, saling beda sikap, saling diam, tapi tak pernah timbul dendam atau benci. Hubungan keduanya tidak datar-datar saja, panas dingin, tapi tak pernah terputus rantai persahabatan itu.

Dua hari kemudian setelah Hatta menjenguk Soekarno, orang di pembaringan itu mangkat. Seluruh republik, tenggelam dalam duka yang dalam.

21 Juni 1970, selalu diingat karena sang proklamator telah wafat.

Beruntunglah saya lahir persis setahun kemudian. Tanggal yang mudah diingat, tanggal yg bersejarah bagi republik.

***