Irama dan Plot Film

Larisnya film kita masih merupakan kenikmatan penonton yang mendengarkan sandiwara radio dengan ilustrasi audiovisual

Minggu, 29 Desember 2019 | 10:26 WIB
0
315
Irama dan Plot Film
Embi C. Noer (Foto: blogger.com)

Tatkala ada FGD untuk memperkuat posisi pengajuan Usmar Ismail sebagai pahlawan nasional dari bidang perfilman, Jumat 1 November 2019 lalu, di Hotel Atlit Century, Jakarta Selatan, hadir banyak tokoh perfilman. Salah satunya Embie C. Noer, pemegang Piala Citra untuk musik di ajang FFI.

Waktu makan, siang kami duduk bersebelahan. Ngobrol ngalor ngidul tentang banyak hal, antara lain, tetapi tidak terbatas: soal kebudayaan Cirobon, soal tokoh film yang sering diundang ceramah dengan imbalan “pers dan terima kasih,” dan bukan honorarium, tentang wayang sebagai sumber salah satu unsur filmis, dan ritme atau irama film.Sebagai kritikus film, saya tak pernah berhenti belajar.

Jika ada narasumber yang handal dan berwawasan, saya tak pernah malu “menggali” ilmu dan pengetahuan dari mereka. Kalau narasumbernya itu memang bermutu, berwawasan dan hebat, pasti jawaban mereka bernas dan membuat kita penasaran, dan dapat memenuhi sebagaian dahaga kita terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di bidangnya.

Sebaliknya, tak sedikit narasumber yang cuma “casingnya”yang kelihatan hebat, tapi tatkla diajukan pertanyaan-pertanyaan kritis, aslinya yang “minim penguasaan ilmu dan pengetahuan” di bidangnya, langsung muncul. Terhadap orang yang seperti ini, saya biasanya cuma senyam senyum saja dan tidak melanjutkan “penggalian.”

Embie pastilah salah satu jago musik, termasuk musik di bidang perfileman. Jawaban-jawaban dari pertanyaan yang kami diskusikan, hemat saya, juga menunjukan kompetensi lelaki bernama asli Tumli Chairil Noer di bidang permusikan. Dia menguasai sejarah musik dan kaitannya dengan kehidupan, termasuk dengan film.

Itulah sebabnya saya “mencecar” adik budawan Arifin C. Noer ini dengan berbagai pertanyaan seputar musik, buat menambah ilmu pengetahuan saya. Cara Embie, kelahiran Cirebon 17 Juli 1955, menjawab dan menerangkan, lebih banyak bertutur dan berangkat dari contoh-contoh kehidupan nyata sehari-hari, persis ketika dia berdiri di depan kelas sebagai dosen menerangkan ke mahasiswanya (mungkin jangan-jangan, sebaliknya dia juga masih menimbang-nimbang sampai seberapa besar kemampuan saya menyerap hal-hal yang diterangkan).

“Mas Embie bagaimana perkembangan musik di film Indonesia mutahir?” pancing saya.
“Pembuatan film sekarang lebih mengutamakan plot daripada irama,” jawab Embie.

Wah, semakin menarik nih saya pikir.

“Sebelum dilanjutkan, saya ingin tahu dulu atau penegasan, apakah irama merupakan terjemahan padanan kata ritme?”
“Iya.”
“Nah kalau begitu, apa makna irama dalam film?” tanya saya lagi.
“Irama itu bentuk musikalitas yang berulang-ulang untuk mengabarkan atau menyampaikan suatu situasi atau rangkaian peristiwa.”
“Kalo plot?”
“Plot langsung kepada tujuan.”

Wuuuiiiih. Makin menarik nih.

Namun belum sempat kami meneruskan obrolan, rupanya kami sudah harus masuk ruangan lagi lantaran acara FGD sudah mau dimulai. Setelah itu kami tidak bisa membicarakan kembali topik ini karena masing-masing sibuk dan pergi atau pulang dari acara.

Makanya selang sehari setelah acara itu, saya minta lagi ke Embie tambahan penjelasan ringkas saja melalui WA. Inilah jawaban Embie:

Mohon maaf baru balas WA-nya.

Pembicaraan kita kemarin mengenai irama/ritme dan plot dalam film, sangat menarik.

Saya saat itu mengatakan bahwa, hampir sangat umum karya2 film kita kehilangan 'kemerduannya' disebabkan hanya mengandalkan plot dan kurang terampil/intens mengoptimalkan bercerita dengan gambar/cahaya/warna/gerak/bunyi/suara (sinematografi). Saya menggunakan istilah kemerduan karena sesungguhnya musikalitas berperan sangat dominan dalam film.

Ritme/Irama adalah ruh yang menghidupkan musikalitas dan musikalitas inilah sensasi yang kita tangkap sebagai pengalaman/kesadaran hidup; sedih, gembira, suka, duka, damai, menakutkan, positif, negatif. Saat indera kita menangkap gambar/cahaya/warna/gerak/bunyi/suara, kesadaran kita memaknai substansi informasi yang kemudian disimpulkan dalam pola denyut (pulsa) yang bersifat halus/konspetual (fikiran) sampai yang fisikal (detak jantung).

Itulah mengapa kita merasa nyaman saat berada di hamparan bukit di lereng gunung yang hijau dengan lembah-lembah di sekeliling, sekalipun fikiran kita tetap bergejolak karena sedang galau memikirkan tawaran dari partai politik yang sangat dilematis. Alam yang tenang dan fikiran galau, adalah kombinasi yang kondusif. Akan berbeda jika kegalauan ini kita renungkan di karaoke di kawasan Gajah Mada.

Dalam film, apa yang kita sebut sebagai meyakinkan dan mempesona, sesungguhnya adalah kemampuan kreator membangun kebenaran (the truth) fiksi melalui kemampuan menggubah rangkaian irama yang tepat, kokoh, dan berkesinambungan melalui unsur gambar/cahaya/warna/ gerak/bunyi/suara yang diekstrak dari skenario sebagai 'bibit film'.

Larisnya film kita masih merupakan kenikmatan penonton yang mendengarkan sandiwara radio dengan ilustrasi audiovisual.

.***