Agama Pemerkosa

Sudah terlalu lama kita menjadi miskin dan bodoh oleh terkaman agama kematian yang merusak.

Senin, 11 Juli 2022 | 06:00 WIB
0
53
Agama Pemerkosa
Ilustrasi (Foto: rumah filsafat.com)

Terjadi lagi, institusi agama terlibat dalam pemerkosaan. Sudah berulang kali, hal ini terjadi. Perempuan-perempuan muda menjadi korban pemuka agama bernafsu besar, namun nurani serta akal sehat yang sudah lenyap. Banyak orang tua tertipu, sampai akhirnya terlambat, karena anaknya sudah hamil diperkosa oleh pemuka agama yang ia percaya. Dalam hati saya bertanya, sampai kapan kita mau sungguh belajar?

Kejadian ini tidak hanya melibatkan satu agama. Ada agama lain, dengan rumpun serupa, melakukannya selama puluhan tahun. Korbannya mayoritas adalah anak-anak kecil pria yang menjadi calon pemuka agama. Namun, karena dukungan uang dan kelicikan, kasus itu terpendam dalam di Indonesia.

Agama pun tidak lagi menjadi penerang kehidupan. Agama menjadi alat untuk membenarkan pemerkosaan. Agama menjadi alat untuk menutupi kemunafikan dan tindakan melanggar hukum, termasuk menebar bom kepada orang-orang tak bersalah. Agama telah membusuk dan berkarat dari dalam, serta berubah menjadi agama kematian yang merusak.

Apa yang ada di otak para pemuka agama itu, ketika mereka memperkosa manusia-manusia kecil tak berdaya ini? Apakah kumpulan kutipan ayat jadi pembenaran nafsu syahwat yang berkobar? Pertanyaan ini terikat dengan epistemologi agama pemerkosa. Ada lima hal yang perlu diperhatikan.

Agama Pemerkosa

Pertama, agama pemerkosa melihat perempuan sebagai benda mati yang hadir untuk kepuasan mereka. Inilah agama-agama yang merendahkan perempuan. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, perempuan dijajah dan diperbudak. Tak heran, perempuan pun menjadi alat pemuas nafsu belaka, tak lebih dan tak kurang.

Dua, ini terkait dengan soal kekuasaan. Karena berkedok agama, orang pun memiliki kekuasaan. Ia dipercaya oleh masyarakat. Namun, ini semua tipuan.

Kepercayaan buta amat mudah dipelintir untuk kejahatan. Orang pasrah di hadapan jubah agama yang penuh dengan kemunafikan. Agama pun menjadi alat untuk memperbodoh dan memanfaatkan orang lain, terutama perempuan. Di abad 21, agama semacam ini sebaiknya dimusnahkan dari muka bumi.

Tiga, pemuka agama pemerkosa kerap dibiarkan melanggar hukum. Mereka cenderung diabaikan, ketika melanggar aturan. Akhirnya, mereka merasa kebal hukum. Negara dan penegak hukum bertanggung jawab atas terjadinya hal ini.

Karena merasa kebal hukum, mereka menjadi sombong. Mereka bertindak seenaknya, termasuk memperkosa perempuan dan laki-laki yang seharusnya mereka bimbing. Mereka merasa menjadi Tuhan. Inilah yang membuat agama membusuk, dan akhirnya hancur dari dalam.

Empat, agama pemerkosa adalah agama tanpa isi. Tidak ada ajaran kebijaksanaan di dalamnya. Yang ada hanyalah himbauan moral, serta janji palsu surga, maupun hukuman palsu neraka. Inilah agama tanpa substansi, tanpa kedalaman.

Tak heran, agama tersebut penuh kedangkalan dan ketakutan. Para ilmuwan gemar menggempurnya. Mereka melihat agama semacam itu sebagai tahayul yang tak berguna. Di abad 21, agama tahayul sudah selayaknya lenyap dari muka bumi.

Hasrat ditekan dengan ancaman palsu. Nafsu disangkal di ruang publik. Akhirnya, masyarakat hidup dalam kemunafikan. Korupsi dan pemerkosaan terjadi berbarengan dengan menjamurnya rumah ibadah yang merusak kedamaian masyarakat.

Karena hasrat ditekan, ia meledak di ruang-ruang privat. Pemerkosaan dan kemunafikan adalah buahnya. Inilah agama yang tanpa isi, tanpa kebijaksanaan. Indonesia harus bangkit, dan membuang jauh-jauh agama ini kembali ke tanah asalnya yang gersang dan kejam.

Lima, epistemologi agama pemerkosa adalah epistemologi agama kematian. Inilah agama yang merusak kehidupan. Ia menghancurkan keindahan budaya, menindas serta memperkosa perempuan dari ujung kepala sampai ujung kaki, menebar bom dan ibadahnya merusak kedamaian hidup bersama. Sejujurnya, ia tak punya hak hidup di dalam masyarakat yang beradab.

Sudah Saatnya Bangun

Kita harus belajar sungguh dari semua tragedi ini. Hak-hak perempuan harus dikembalikan ke dalam agama dan budaya. Pemikiran kritis, terutama filsafat, harus menjadi bagian pendidikan dan keseharian bangsa Indonesia. Penegakan hukum harus tegas, tanpa kompromi dengan agama kematian, maupun berbagai pelanggaran lainnya.

Lebih dari itu, kita harus bergerak melampaui agama. Kita harus masuk ke ranah spiritualitas. Di ranah ini, hasrat terkendali di dalam kebijaksanaan. Kebahagiaan sejati, dan cinta kasih kepada semua mahluk, pun terjadi secara alami.

Agama-agama nusantara sangat dekat dengan spiritualitas. Seluruh Indonesia harus kembali ke akarnya, yakni agama-agama nusantara yang luhur, dan dipadu dengan sikap kritis yang dikembangkan oleh filsafat. Sudah terlalu lama kita menjadi miskin dan bodoh oleh terkaman agama kematian yang merusak. Apakah pemerkosaan anak-anak kita tercinta tidak cukup membangunkan kita dari kebodohan?

***