Hilangnya Norma Kesantunan

Kasus pertengkaran di dalam pesawat masalah kecil dan dibesarkan karena ada video viral. Tapi di balik insiden ini ada fenomena gunung es yang cukup mencemaskan, yaitu merosotnya etika sosial dalam masyarakat.

Rabu, 24 November 2021 | 15:38 WIB
0
30
Hilangnya Norma Kesantunan
Anggiat Pasaribu dan Arteria Dahlan (Foto: detik.com)

Narasi cekcok mulut antara seorang anggota DPR dan seorg ibu muda yang mengaku sebagai keluarga jenderal bintang tiga sudah menjadi viral. Video yang menampilkan keduanya bersitegang urat leher di depan pengambilan bagasi bandara, rupanya bermula dari dalam pesawat waktu penumpang akan keluar dari pesawat.

Arteria Dahlan (AD), anggota DPR yang bepergian bersama ibu dan ajudannya dinilai sangat lama menurunkan kopor dan barang bawaan, sehingga menghambat penumpang-penumpang yang berbaris di belakangnya. Dan dari sinilah si ibu muda itu melampiaskan kekesalan dengan menegur AD dan berlanjut dengan perang mulut sampai di ruang kedatangan bandara.

Para netizens yang menonton video pertengkaran ini tentu akan mengambil sikap menentukan siapa yang bersalah dalam hal ini. Karena di dalam video ini si wanita muda ini mengeluarkan kata-kata makian, publik condong memihak kepada AD dan menyalahkan ibu muda yang mengaku keluarga jenderal bintang tiga.

Apalagi setelah video ini menjadi viral, AD berkali-kali menyampaikan "klarifikasi" di televisi. Tentu menurut versinya sendiri. Sedang si ibu muda keluarga bintang tiga tidak sekalipun muncul di media apa pun untuk menyampaikan versinya. Jadi ada pemberitaan yang tidak berimbang, dan tidak mengherankan sebagian besar netizens menghujat si ibu muda ini.

Sejumlah pihak baik dari institusi DPR dan TNI mengimbau pertengkaran ini diselesaikan dengan jalan damai. Apalagi menurut mereka ini bukan masalah prinsipiil dan "hanya" kesalahpahaman saja. Tidak perlu dilanjutkan ke jalur hukum dan dicari pasal-pasal yang bisa menjerat keduanya.

Saya sependapat bahwa cekcok ini bukan kasus pidana atau pun perdata. Sekalipun kalo dipaksakan dicari-cari pasalnya memang akan ketemu dasarnya. Tapi ini bukan berarti kasus tersebut masalah yang sepele. Ini masalah rusaknya tatanan sosial yang saya sebut etika.

Dan sangat banyak kejadian-kejadian serupa itu yang sangat menggalaukan. Anggota masyarakat yg berbuat seenak udelnya mempersetankan kepentingan orang lain. Apalagi kalau pada dirinya tersemat status orang penting dan berpangkat.

Saya membayangkan si ibu muda yang naik pitam karena dibiarkan (dicueki) menunggu bermenit-menit sementara si anggota DPR tenang-tenang menurunkan bagasinya di aisle (lorong pesawat) sehingga menghambat arus penumpang yang mau keluar.

Inilah yang saya sebut dengan hilangnya etika (kesantunan) dalam bermasyarakat. Dia tidak peduli orang lain terhambat dan mengalami ketidaknyamanan (inconvenience), yang penting urusan dia beres duluan. Ini betul-betul sebuah bentuk tirani sosial.

Sangat banyak contoh tirani sosial di masyarakat. Orang-orang yang memarkir mobilnya di jalanan dengan alasan tidak punya garasi di rumahnya sudah menjadi pemandangan umum. Bahkan mobil ini bisa berderet-deret diparkir di jalanan yang biasanya sempit. Persetan dengan ketidaknyamanan pengguna jalan yang kerepotan melewati jalan itu. Tidak ada nurani (consciousness) bahwa dia menyusahkan orang lain dengan tindakannya itu.

Contoh lain, mendirikan tenda (tarup) di jalanan apabila ada pesta pernikahan di rumah. Tenda ini tidak jarang mengokupasi seluruh badan jalan, sehingga selama beberapa hari menjadi jalan tertutup untuk pengendara dan harus mencari jalan alternatif.

Apakah ini bukan tirani sosial? Orang-orang cuma bisa menggerutu, tapi tidak berani menegur apalagi memarahi. Sebab konsekuensinya seperti ibu muda yang menegur anggota DPR di pesawat itu. Dia justru dihujat karena tidak memberi teladan sebagai keluarga besar TNI. Padahal dia sebetulnya "berhak" marah karena ada orang yang berbuat seenak udelnya egois membuat orang lain terganggu kelancaran beraktivitas.

Contoh lain hilangnya etika sosial yang mengejawantahkan tirani sosial adalah di dalam berlalulintas. Sangat sering pengendara menjalankan kendaraannya melawan arus (contraflow) tanpa sedikitpun merasa bersalah. Kalau dia hampir terserempet oleh mobil yang berjalan sesuai jalurnya, justru dia yang lebih galak memelototkan mata bahkan kadang menyumpah serapah. Ini contoh tirani sosial yang kasat mata. Etika bermasyarakat sudah tidak ada lagi.

Etika sosial ini bukan berada di ranah hukum. Dia berada di ranah moral yang harus ditanamkan dan diajarkan mulai dari usia dini. Bahwa setiap perbuatan kita harus menimbang kepentingan orang lain. Kalau dirasa barang bawaan (bagasi) kita cukup besar dan banyak sehingga dapat mengganggu kelancaran penumpang lain keluar pesawat, ya etikanya kita duduk dulu membiarkan penumpang lain keluar duluan dan kalau sudah lengang baru menurunkan bagasi.

Kasus pertengkaran di dalam pesawat ini memang masalah kecil dan dibesarkan karena ada video viral. Tapi di balik insiden kecil ini sebetulnya ada fenomena gunung es yang cukup mencemaskan. Yaitu merosotnya etika sosial dalam masyarakat.

Masyarakat menjadi sangat egois, apalagi kalau di belakang dirinya ada "backing" status pangkat, jabatan atau agama. Dia merasa paling berhak melanggar etika dan kalo ada coba-coba menegurnya tinggal dikeluarkannya mantra pamungkas "Hey, Anda tahu siapa saya?" baik secara tersurat atau pun tersirat.

Arogansi memang satu paket dgn tirani sosial.

***