"Revolusi Seksual dan "7 Dosa" Mona Eltahawy

Menurut Mona Elthawy, perempuan dan anak perempuan harus menentang sistem patriarki yang mengukuhkan nilai-nilai lama yang dianggap "dosa" sehingga tidak patut dilakukan mereka.

Kamis, 27 Februari 2020 | 10:09 WIB
0
96
"Revolusi Seksual dan "7 Dosa" Mona Eltahawy
Mona Eltahawy (Foto: smithsonianmag.org)

Empat tahun lalu, 2015, dia menghebohkan publik dengan karyanya, HEADSCARVES AND HYMENS: Why the Middle East needs a Sexual Revolution (KERUDUNG dan SELAPUT DARA: Mengapa Timur Tengah perlu Revolusi Seksual).

Kali ini wartawati, penulis dan feminis Amerika asal Mesir itu, Mona Eltahawy, kembali menggebrak dengan buku terbarunya, THE SEVEN NECESSARY SINS FOR WOMAN AND GIRLS (September 2019).

Mona seperti melanjutkan gebrakan Nawal al-Sa'dawi, yang karyanya sudah banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Nawal juga dari Mesir, seorang dokter, penulis, novelis, aktivis, dan feminis kontroversial, yang sering dijuluki "Simone de Beauvoir dari Dunia Arab".

Simone de Beauvoir, filsuf dan feminis yang juga kekasih filsuf Jean-Paul Sartre ini dikenal luas, antara lain lewat karya besarnya, THE SECOND SEX (1949), juga sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Menurut Mona Elthawy, perempuan dan anak perempuan harus menentang sistem patriarki yang mengukuhkan nilai-nilai lama yang dianggap "dosa" sehingga tidak patut dilakukan mereka.

Mona justru mendorong keberanian mereka untuk bisa melakukan "tujuh dosa" yang perlu: - "to be angry, ambitious, profane, violent, attention-seeking, lustfull, and powerful" -.

Sila disimak argumennya dalam buku terbarunya ini, yang disebut sebagai suatu "manifesto feminis paling berani dan tanpa kompromi".

Atau simak juga penuturan Mona Elthawy: "MY BODY BELONGS TO ME" di saluran video TEDxEuston....

***