Bulliying oh Bulliying

Minggu, 2 Oktober 2022 | 20:41 WIB
0
54
Bulliying oh Bulliying
stop bulliying

Menindas terhadap orang lain merupakan tindakan memalukan yang dapat merugikan korban bahkan mempengaruhi kesehatan psikologisnya. Kasus-kasus bulliying juga kadang biasa terjadi dimana saja.Contoh perilaku bullying adalah menghindari atau mengucilkan teman, mengganggu teman, membully, dan memberikan sisa makanan kepada korban. Hal itu akan membuat korban sedih, tertekan dan merasa tidak nyaman, bahkan merasa tidak berarti. Dalam bahasa Indonesia, bullying disebut menyakat yang artinya mengusik (supaya menjadi takut, menangis, dan sebagainya), merisak secara verbal. Sementara itu, mengutip hasil ratas bullying Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), bullying juga dikenal sebagai penindasan/risak. Bullying merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus.

Menurut Ariesto (2009) yang dikutip dalam jurnal Faktor yang Mempengaruhi Remaja dalam Melakukan Bullying Universitas Padjadjaran, faktor-faktor penyebab terjadinya bullying antara lain:

  1. Keluarga. Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan atau situasi rumah yang penuh stres, agresi, dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian menirunya terhadap teman-temannya.
  2. Sekolah. Pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini. Akibatnya anak-anak sebagai pelaku bullying akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan  intimidasi terhadap anak lain.
  3. Faktor Kelompok Sebaya. anak-anak ketika berinteraksi dalam  sebuah lingkungan kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. Beberapa anak melakukan bullying dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut.
  4. Kondisi Lingkungan Sosial. Kondisi lingkungan sosial dapat pula menjadi penyebab timbulnya perilaku bullying. Salah satu faktor lingkungan sosial yang menyebabkan tindakan bullying adalah kemiskinan. Mereka yang hidup dalam kemiskinan akan berbuat apa saja demi memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak heran jika di lingkungan sekolah sering terjadi pemalakan antarsiswanya.
  5. Tayangan Televisi dan Media Cetak. Televisi dan media cetak membentuk pola perilaku bullying dari segi tayangan yang mereka tampilkan. Survei yang dilakukan salah satu media massa, memperlihatkan bahwa 56,9% anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya, umumnya mereka meniru geraknya 64% dan kata-katanya 43%.

Menurut Suyatno (2003) yang dikutip dalam buku Model Intervensi Psikologi Islam Konseling Kelompok Tazkiyatun Nafsi: Salah Satu Bentuk Upaya dalam Menangani Siswa Korban Bullying, menyebutkan beberapa dampak negatif yang dialami anak-anak korban bullying yaitu:

  1. Kurangnya motivasi atau harga diri,
  2. Problem kesehatan mental, misalnya kecemasan berlebihan, problem dalam hal makan, susah tidur.
  3. Sakit yang serius dan luka parah sampai cacat permanen: patah tulang, radang karena infeksi, dan mata lebam, termasuk juga sakit kepala, perut, otot, dan lain-lain yang bertahun-tahun meski bila ia tak lagi dianiaya.
  4. Problem-problem kesehatan seksual, misalnya: mengalami kerusakan organ reproduksinya, kehamilan yang tak diinginkan, ketularan penyakit menular seksual.
  5. Mengembangkan perilaku agresif (suka menyerang) atau jadi pemarah atau bahkan sebaliknya menjadi pendiam dan suka menarik diri dari pergaulan.
  6. Mimpi buruk dan serba ketakutan, selain itu kehilangan nafsu makan, tumbuh, dan belajar lebih lamban, sakit perut, asma, dan sakit kepala.
  7. Kematian.

Karena begitu besarnya dampak dari bulliying maka kita bisa melakukan pencegahan sedini mungkin terhadap perbuatan tersebut. Pengontrolan terhadap anak merupakan salah satu hal yang sangat memungkinkan dilakukan oleh orangtua, baik pendidikanya, lingkungan maupun teman sebaya. stop bulliying