Sejatining Jati, Sejatine Saya Itu...

Untuk itulah barangkali, buku ini menjadi penting bagi saya. Mudah-mudahan (juga) ada gunanya bagi sesama. Sesama para pejalan kehidupan....

Jumat, 14 Januari 2022 | 07:56 WIB
0
74
Sejatining Jati, Sejatine Saya Itu...
Buku Sejatining Jati (Foto: dok. Pribadi)

Ketika tulisan serial saya tentang "jati" berhenti di nomer ke-28. Saya merasa aneh sendiri, kenapa tiba-tiba kehilangan daya tulis.

Problem yang selalu berulang, dengan penyebab yang saya sendiri tidak pernah tahu. Mungkin kerja riset, bukanlah kerja fiksi apalagi fiktif. Yang butuh "berujung", "nyampe", "selesai".

Tapi sebagai penggemar "mistikus angka", kemudian saya sedikit paham. Angka 28 jika dijumlah (2+8-red) adalah 10. Sepuluh (1+0) itu berarti 1. Artinya saya kembali ke tahap awal, tanpa sadar baru mengulang lagi dari mula. Kok? 

Pointnya ternyata tulisan-tulisan itu gak jelas, tanpa struktur dan tentu saja bukanlah suatu rangkaian cerita yang runtut yang nyaman untuk dinikmati. Padahal semangat saya adalah bercerita. Menceritakan gambar-gambar dan foto-foto lama maupun baru yang barangkali masyarakat awam tak pernah lihat. Dasar berpikir awal saya, tentu buat apa saya memilikinya, tapi saya tak pernah berbagi dan menceritakannya pada orang lain.... 

Saya merasa terlalu "dungu" untuk berbicara tentang kajian ilmiah, atau seperti Mas Cebolang dalam Serat Centhini berguru kepada semua tokoh ini itu untuk mengejar ilmu dan pengetahuan.

Saya tak melakukannya sama sekali. Saya hanya berjalan kesana-kemari, tanpa catatan dan sekedar mengandalkan ingatan yang rapuh. Di kepala yang barangkali karena pilihan hidup saya sebagai dokumentator, catatan itu bisa setiap saat hilang. Karena wadahnya soak, rusak atau hank karena kapasitasnya yang terbatas. 

Karena itulah mulai akhir tahun lalu, saya merapikan kembali banyak catatan saya. Saya kembali ke ruang sunyi, dan sedikit tidak mempedulikan tentang banyak hal. Bahwa ternyata saya telah (juga) melakukan sedemikian banyak hal, selama nyaris dua tahun masa pandemi ini. Terlalu banyak malah., hingga lupa untuk apa saya melakukannya... 

Hingga akhirnya, dari sekian banyak catatan yang kembali saya rapikan itu saya berhasil menyusun ulang catatan tentang sejatinining jati menjadi "hanya" sekitar 99 cerita saja. Tampak agak sombong, dengan angka 99! Saya tahu, saya sadar, saya sangat paham....

Secara teknis, sebenarnya saya telah mengumpulkan mungkin lebih dari 200 cerita yang bisa saya tulis. Tentu saja itu terlalu banyak. Mau jadi berapa buku? Mosok cuma ngurusi "perkara jati" saja. Lalu munculallah angka2 lain, yang ndilalah itu adalah angka double. Sesuatu yang menyiratkan semangat tahun 2022. 

Bila jumlahnya 66 terlalu sedikit, terlalu pendek, dan itu angka setan. 77 terlalu banyak tujuan dan terlalu berharap minta pitulungan. Emang butuh pertolongan? Katanya "sejatining" kok masih "ngarep" ini itu. 88 malah kayak merek salep obat kulit kesayangan eyang saya. Lalu kenapa tidak angka 99, supaya semuanya merasa dicukupkan? Ah, rempong amir!

Saya hanya ingin mematahkan mitos2 bahwa angka 99, juga bukan berarti monopoli 99 nama Tuhan Yang Mulia itu. Apa yang kita kenal sebagai Asmaul Husna. Saya jauh dari semangat menyamai, atau menandinginya. Apalah saya!  

Secara teknik, saya hanya ingin bercerita. Titik, tak lebih! 

Dan karena di nomor terakhir, di angka 99 saya ingin menuliskan (ketika) sebetapa pun mulianya kayu jati itu di masa ia berguna secara maksimal. Di ujungnya sebagai sebuah residu, ia berhenti sebagai arang. Kayu yang dibakar, sebagai sebuah perjalanan akhir. Sebagaimana manusia, sebagaimana makluk hidup lainnya. Ia toh juga akhirnya akan kembali menjadi abu, from dust to dust, dari tanah kembali ke tanah...

Bedanya ia punya cerita tersendiri: ia bisa menjadi arang apa saja. Tak banyak yang paham bubuk kayu jati jika dicampur ramuan tertentu bisa jadi obat nyamuk terbaik karena terawet nyalanya. Jika ia sekedar dibakar sampai gosong menghitam. Menjadi bongkahan kayu kecil2, ia akan menjadi arang sebagai bahan bakar di dapur atau mendukung kerja pandai besi atau para bakul makanan. Atau siapa saja yang ingin menikmati sesuatu...

Ketika dihancurkan menjadi serbuk, yang tidak banyak orang tahu, ia adalah campuran bubuk mesiu. Secara historis, hal yang dilupakan atau tak dicatat oleh sejarah bahwa pemanfaatan kayu jati pertama kali oleh VOC bukanlah untuk membangun rumah atau membuat kapal. Ia justru (hanya) dibakar, lalu ditumbuk halus, menjadi bahan campuran bubuk mesiu. Dari sinilah awal kolonisasi terjadi. Di masa kini ketika bubuk2 itu dipadatkan lagi dalam cetakan ia menjadi sebuah briket. Sayang terlalu mahal jika dijual di dalam negeri. Aneh! 

Dalam ujung buku ini, saya hanya ingin bercerita bahkan sebuah di titik akhir kehancurannya pun, kayu jati tetaplah migunani. Ia tetap berguna, ketika ia lenyap menjadi partikel atom, saat ia harus kembali ke bumi pertiwi. Rumah sejati dimana ia berasal....

Buku Sejatining Jati: 99 Cerita tentang Filofi, Sejarah, dan Kegunaan ini hanya secuplik sejarah kehidupan saya. Barang-barang terbuat dari kayu jati yang saya kumpulkan selama 28 tahun pernikahan saya. Dari hal-hal yang remeh temeh, peralatan dapur, mebel ini itu, altar sembahyang, hingga rumah joglo dan omah lumbung. Dimana tentu saja di setiap barangnya adalah sebuah cerita. Cerita2 petualangan saya keluar masuk hutan jati, nyaris di seantero Jawa. Mengenali secara dekat masyarakatnya. Belajar banyak hal daripadanya....

Terlalu banyak, tapi sekaligus terlalu sedikit. Kesadaran akan "kemewahan hidup" yang telah saya alami, sekaligus menyadari semakin kerdil dan sempit ruang syukur yang saya miliki. 

Untuk itulah barangkali, buku ini menjadi penting bagi saya. Mudah-mudahan (juga) ada gunanya bagi sesama. Sesama para pejalan kehidupan....

Nyuwun pangestu mugi dumugi ing karsaning. Mohon doa restu semoga semua sampai ke tujuannya...

NB: Saya tentu saja harus menyebut Kangmas Willy Pramudya, sebagai pribadi baik yang tak lelah mendorong tulisan-tulisan tak karuan itu menjadi buku. Saya tentu bangga bahwa beliau sebagai ahli bahasa yang menjadikan Grup Kompas-Gramedia menjadi penerbit paling bermutu sak-Endonesah kersa menjadi editor dari buku ini. 

Juga banyak teman lain yang tak bisa saya sebutkan satu persatu, maklum malah takut lupa menyebut, kalau keliwatan malah nambah beban perasaan saya. Matur nuwun atas budi baik sejauh ini. Lemeh teles, Gusti Allah sing mbales.