Curhatan Menggebu Relawan Antihoaks

Rabu, 13 Maret 2019 | 20:04 WIB
0
1273
Curhatan Menggebu Relawan Antihoaks
Contoh postingan hoax (Foto: Okezone News)

Periksa fakta itu bukan hal yang mudah. Sebagaimana dokter mendiagnosis pasien melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan, mengecek kebenaran suatu berita membutuhkan penggunaan berbagai tools internet untuk menemukan informasi pembanding yang kuat.

Sebagaimana dokter juga tidak bisa hanya mengandalkan metode tertentu untuk mendiagnosis dan mengobati pasien, factchecker juga tidak bisa bergantung hanya pada tools tertentu saja. Perlu kombinasi dua atau lebih tools.

Tadi malam, saya membutuhkan kurang lebih satu jam untuk melakukan periksa fakta terhadap foto mozaik 'Betawi Pilih Nomor 2' yang ternyata adalah suntingan dari foto mozaik maba UNS 2017. Satu jam itu mulai dari mengumpulkan informasi hoaksnya, mengecek gambar melalui Google Reverse Images, lalu merangkum hasilnya dalam sebuah kiriman di grup FB Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH). Padahal ini kasus yang terhitung sederhana.

Malam Sabtu lalu, saya menghabiskan tiga jam untuk mengecek klaim bahwa Prabowo sudah berkuliah di Amerika Serikat dengan beasiswa pada saat berusia 12 tahun. Awalnya repot mencari sumber dari situs-situs berita dan situs pribadi beliau, kemudian tersadar bahwa informasi ini tinggal dicari di situs jaringan KPU. Tinggal unduh berkas riwayat hidup Prabowo, saya bisa susun hasil periksa fakta.

Ada juga yang lebih sederhana, yaitu mengunggah klarifikasi dari Ilyas Daeng Ila, warga belepotan lumpur yang dituduh merupakan bagian dari sandiwara kampanye Sandiaga Uno. Yang ini, klarifikasi Ilyas dari Detik tinggal saya rangkum dan kirim ke FAFHH.

Saya sih belum seberapa, karena saya hanya kalau luang saja melakukan periksa fakta, dan hanya untuk kasus sederhana. Om Aribowo Sasmito dan tim pemeriksa fakta kantor MAFINDO yang bekerja penuh waktu, ya setiap hari melakukan periksa fakta. Mereka menangani berbagai kasus hoaks mulai dari yang 'receh' seperti yang beberapa kali saya tangani, sampai kasus rumit 'bendera tauhid di Markas PBB' yang memerlukan jungkir balik memeriksa Google Earth.

Hasilnya? Dituduh tidak netral, dituduh macam-macam lah. Periksa yang ini, dituduh cebong. Giliran kiriman yang ini, dituduh disusupi kampret. Seakan-akan cuma kubunya saja yang paling benar dan kubu lawannya saja yang bisa sebar hoaks. Lupa bahwa produsen hoaks tidak kenal kubu politik, yang penting mereka dapat untung milyaran rupiah.

Kiriman saya tentang periksa fakta riwayat pendidikan Prabowo, dilaporkan dan dihapus oleh pihak FB. Kalau kiriman yang lain, komentar-komentarnya aneh-aneh. Saya berterima kasih sekali kepada Master Jedi Harry Sufehmi yang sudah menjembatani dengan pihak FB terkait kiriman saya yang diturunkan karena hujan laporan.

Untuk sahabat-sahabat saya di FB, tolong, hargailah kerja kami yang aktif di MAFINDO dan komunitas antihoaks yang lain dalam upaya mewujudkan media sosial yang sehat. Kerja kami tidak mudah, karena hoaks bermunculan lebih cepat daripada kecepatan upaya periksa fakta yang bisa kami lakukan. Padahal selain periksa fakta, masih banyak yang harus dilakukan seperti edukasi masyarakat, kampanye publik, advokasi ke pihak terkait, dan banyak hal lain.

Kami periksa fakta secara netral. Hoaks adalah hoaks, tidak peduli dari kubu mana dan menyerang kubu mana. Jangan hanya karena kerja kami tidak sesuai preferensi politik kalian, kalian tuduh kami tidak kredibel, kesusupan, dan semacamnya.

Kalaupun kami ada salah dalam melakukan cek fakta, kami siap dan wajib mengoreksi, kok. Namun tolong sampaikan dengan baik, tidak dengan marah-marah menuduh kami boneka pemerintah, kesusupan, tidak netral, tidak bisa dipercaya, dan semacamnya.

***