Ratapan-ratapan di Bulan Ramadan

Apa pun bentuknya, itu sekadar keragaman penyangkalan belaka. Intinya adalah ratapan. Demi tetap tegaknya martabat dan harga diri yang telah koyak.

Kamis, 9 Mei 2019 | 17:00 WIB
0
398
Ratapan-ratapan di Bulan Ramadan
Ilustrasi ratapann (Foto: Facebook/Tomi Lebang)

Banyak yang kini menghilang di linimasa, dari kolom-kolom komentar. Orang-orang yang dulu --tak ada angin tiada hujan-- kerap datang dan menyerang sungguh-sungguh atau sambil lalu: “Sudah angkat bendera putih?”, “Silakan menghibur diri”, “Tanda-tanda orang kalah”, “Panik ni ye” .... dan aneka komentar ad hominem untuk tulisan status selembut apa pun.

Mereka bisa datang seperti gerombolan, kerap pula jadi pengelana kesepian yang berjalan ke belantara dengan bersarungkan pedang di punggung.

Ada yang datang tanpa wajah, atau muncul dengan tampang sangar, bahasa kasar dan suara menggelegar. Banyak pula yang hanya pandai menyindir-nyindir, sinis, dan seolah menggenggam fakta yang paling benar.

Main-mainlah sekarang ke rumah orang-orang itu --nama-nama yang komentar-komentarnya masih tersimpan rapi di bulan-bulan dan tahun-tahun lalu.

Sekarang mereka meratap-ratap dengan caranya sendiri-sendiri.

Ada yang masih terlihat garang, bersoal dengan yang remeh-temeh, dan yang mengungkit-ngungkit soal-soal pinggiran, mengangkat remah-remah yang masih membuat kepala tegak. Ada juga yang menghitung-hitung dengan rumus yang dibuatnya sendiri, entah didapat di mata kuliah kalkulus yang ke berapa.

Eh, dan ada juga yang sekarang memenuhi lapaknya dengan kata-kata bijak.

Apa pun bentuknya, itu sekadar keragaman penyangkalan belaka. Intinya adalah ratapan. Demi tetap tegaknya martabat dan harga diri yang telah koyak.

Tapi tidak apa-apa. Saya hanya ingin menjadi pembaca setia sahaja. Tak perlu balik merundung, mengejek, apalagi menagih kata-kata lama di kolom-kolom komentar.

Di bulan yang suci ini, mari memaafkan mereka, seraya berharap aneka ratapan itu tak berumur lama.

Ingat kata Cicero: "tak ada yang mengering lebih cepat dari air mata."

***