Kisah Soleman dan Moral Sebuah Cerita

Minggu, 6 Januari 2019 | 11:28 WIB
0
88
Kisah Soleman dan Moral Sebuah Cerita
Foto Ilustrasi (Foto: FB Satria Dharma)

Alkisah ada seorang santri hafiz Alquran bernama Soleman yang naksir seorang gadis cantik di kampungnya bernama Fatimah. Fatimah ini anak seorang janda kaya raya bernama Bu Solekah. Sayangnya si Soleman ini selain wajahnya kurang ganteng (kata lain dari elek) juga gak punya modal financial. Tapi namanya cinta tak iya… Hatinya ngebet sekali untuk bisa memperoleh Fatimah. 

Soleman lalu memberanikan dirinya untuk mendatangi kyainya dan menyampaikan apa yang ada dalam hatinya. Sang kyai sebetulnya ya kasihan ya agak gimana gitu mendengar keinginan Soleman untuk memperoleh Fatimah yang cantik dan anak janda yang kaya raya. Lha wong Soleman itu gak punya modal apa-apa selain hafiz Alquran. Tapi namanya kyai tak iya… Resep dan rumus untuk mendapatkan Fatimah pun diberikannya pada Soleman.

Soleman harus tirakat selama 40 hari dengan khatam Alquran setiap hari dan juga salat malam. Pada saat salat malam itulah Soleman harus menyampaikan doanya pada Tuhan. (Wistalah, Cak Nanang Ahmad Rizali, peno gak bakal kuat nglakoni tirakat iki... Jangan pernah membayangkannya) 

Soleman pun melaksanakan apa tirakat yang disuruhkan oleh kyainya selama 40 hari 40 malam tersebut dengan penuh kesungguhan dan ketaatan. Alhamdulillah sukses…! Pada hari ke 41 Soleman pun pergi menuju ke rumah Fatimah dengan penuh rasa percaya diri.

Begitu Soleman mengetuk pintu rumah Fatimah ternyata yang membukakan pintu adalah Bu Solekah, Ibu Fatimah si janda kaya raya tersebut. Soleman diterima dengan sangat baik oleh Bu Solekah. Soleman memang sudah dikenal sebagai seorang hafiz yang alim di kampungnya. Ketika ditanya apa keperluan Soleman datang ia langsung mengutarakan keinginannya untuk melamar Fatimah. 

Begitu mendengar keinginan Soleman untuk melamar Fatimah, Bu Solekah langsung menangis tersedu-sedu tanpa bisa dicegah. Soleman kaget karena tidak menyangka bahwa lamarannya justru membuat Bu Solekah menangis. Ia tidak tahu mengapa Bu Solekah menangis dan tidak tahu harus berbuat apa.

Cukup lama Bu Solekah menangis dan Soleman terpaku tidak tahu harus berbuat apa. Setelah tangis Bu Solekah mereda barulah Soleman bertanya mengapa Bu Solekah menangis. Apakah lamarannya tersebut membuat Bu Solekah sedih dan kecewa atau mungkin marah karena tahu bahwa Soleman bukanlah orang kaya yang sesuai untuk anaknya yang cantik tersebut.

Ternyata Bu Solekah menangis karena merasa kecewa. Ia lalu bercerita pada Soleman bahwa sebenarnya sudah lama ia ingin memiliki suami yang hafiz seperti Soleman. Untuk itu ia selalu berdoa setiap malam agar suatu hari Soleman datang ke rumahnya untuk melamarnya. Memang benar bahwa akhirnya Tuhan mengirim Soleman datang ke rumahnya untuk melamar. Tapi kok yang dilamar justru Fatimah anaknya. Itulah sebabnya Bu Solekah menangis. 

Soleman bingung kok jadi begini akhirnya. Apakah malaikat ini salah catat atau bagaimana kok yang ia inginkan Fatimah tapi yang kena sambit malah emaknya, Bu Solekah. 

Soleman lalu pamit untuk mempertimbangkan keinginan Bu Solekah. Ia lalu langsung bergegas ke rumah kyainya untuk berkonsultasi. 

“Yok nopo niki, Yai? Sing kulo jaluk anake kok yang kena malah ibuknya? Mosok malaikatnya salah catat?” demikian protesnya pada kyainya dengan nada gregetan. 

Si Kyai sebetulnya pingin ngakak tapi kan gak sopan. Tapi kalau kalian yang baca cerita ini mau ngakak ya silakan. Tidak apa-apa. Lha wong saya saja ngakak kok mendengar kisah ini. 

Si Kyai kemudian ngedem-ngedem alias berusaha untuk menenangkan hati Soleman yang rusuh. Beliau bilang bahwa Tuhan itu tidak pernah salah dalam membuat keputusan. Kalau Tuhan sudah membuat ketentuan maka tentu ada kebaikan di balik ketentuannya tersebut. Lagipula tidak semua doa itu diterima atau dikabulkan seperti yang diminta oleh manusia. Kadang Tuhan menggantikannya dengan sesuatu yang lain yang mungkin lebih baik daripada yang diminta oleh manusia tersebut. 

Bottom linenya Si Kyai secara halus meminta Soleman untuk menerima saja cinta Bu Solekah. (Lumayanlah, Man…! Gak oleh anake oleh emake. Opo maneh sing sugih kan emake. Timbang ditolak sama sekali kan rugi besar kamu tirakat ngebleng begitu). 

Singkat kata singkat cerita Soleman kembali ke rumah Fatimah dan menyampaikan kesediaannya menerima Bu Solekah menjadi istrinya. Bagaimana pun sebenarnya Soleman ini mbati alias beruntung. Lha wong dia itu wajahnya gak ganteng (sakjane ngono elek) gak gablek finansial dan cuma bermodalkan hafiz Alquran.

Akhirnya diputuskan bahwa mereka akan menikah pada bulan berikutnya. Segala persiapan pernikahan pun dilakukan. Modin dihubungi, KUA dikabari, gedung ditetapkan, uang sewa dibayar lunas, katering dipilih dan dibayar lunas sekalian, undangan segera dibagi, pokoknya segalanya beres tinggal naik pelaminan.

Eh…! Lha kok ndilalah (ini bahasa Indonesianya apa ya?) seminggu sebelum resepsi pernikahan Bu Solekah kecelakaan lalu lintas dan meninggal di tempat. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga Bu Solekah husnul khatimah dan anak cantik yang ditinggalkannya mendapatkan perlindungan. 

Saya tidak akan meneruskan kisah ini dan saya serahkan pada Anda sebagai pembaca untuk meneruskannya. Suka-suka Andalah bagaimana sebaiknya kisah ini hendak Anda bawa. Saya tidak tega meneruskan kisahnya (saya masih bersedih karena kepergian Bu Solekah ini). 

Yang penting Anda tahu bahwa segala persiapan pernikahan telah siap, undangan telah tersebar, dan katering juga telah dibayar lunas. Ada soto, ada kikil, ada gule kambing, ada es cao, es krim, buah-buahan segala macam, pokoknya terserah Andalah sebagai pembaca mau diapakan menu tersebut.

Mohon tidak protes sama saya soalnya kisah ini saya dapatkan dari ustad yang memberi ceramah Subuh di masjid tadi. Cerita tidak saya rekayasa sama sekali. Nama pelakunya ya memang Soleman, Fatimah dan Bu Solekah. Saya hanya tidak meneruskan kisahnya sampai the end sesuai Pak ustad karena faktor tidak tega tadi itu. 

Moral of the story :

1. Jangan ragu-ragu untuk menjadi seorang hafiz. Banyak manfaatnya. Rungokno iki, Dul. 

2. Tuhan itu Maha Kuasa dan Maha Mendengarkan doa umatnya yang bersungguh-sungguh. 

3. Jika ada kesamaan nama tokoh dan cerita maka itu sumprit hanya kebetulan yang sungguh sangat mengherankan. 

Wis ngono ae… Have a nice Sunday. 

***

Surabaya, 6 Januari 2018

NB: Ini bukan fotonya Fatimah, juga bukan fotonya Bu Solekah. Ojok kakehan berkhayal awakmu.