Bangsa Zigzag

Lha kok silver-man di prapatan jalan tidak viral? Karena cara nyari duitnya sangat lugu. Diam mematung, terus ketika lampu bangjo selak-ijo selak-ijo, buru-buru mereka mengatungkan kotak amal kemiskinan.

Jumat, 29 Juli 2022 | 06:10 WIB
0
23
Bangsa Zigzag

Setiap membacai soal Citayam yang konon fashion week itu, dengan segala pernak-perniknya, saya kok jadi ingat sajak Chairil Anwar yang berjudul ‘Hampa’.

Sajak Chairil Anwar yang herannya paling saya hapal dalam kepala. Karena nggak kebayang jikalau hapal luar kepala. Gimana cara? Karena hippocampus, bagian kecil di otak saya, ada dalam tempurung kepala. Betapa tidak mengenakkannya proses transformasi itu, jika semua terjadi karena faktor eksternal, bukan faktor internal. Terutama dalam ngadepin jaman milenial dengan gadet dan revolusi teknologi dan informasi ini.

Jaman dulu kala, sebelum kakek-nenek kita lahir, terjadi dialog kebudayaan yang disebut inkulturasi dan akulturasi. Semua berjalan biasa saja. Smooth. Landai. Barangkali karena jagoannya para komunikator ulung, sehingga perubahan pun terjadi tanpa gejolak.

Konflik sosial ataupun konflik budaya, lebih ketika peran relasi kuasa lebih dominan. Lebih diwarnai unsur politik kepentingan individu atau kelompok dominan. Di kalangan bawah, rakyat jelantah sangat tergantung, pada centhelan. Yakni centhelan elitenya yang selalu digambarkan bercitra-budi-tuhan.

Sampai pada jaman kiwari, seni jathilan pakai kacamata item, pakaian berumbai-rumbai percampuran India dan China, tak ada masalah. Sampai pun pakaian para ningrat kraton, yang dipundi-pundi sebagai warisan leluhur, padal diadopsi dari kultur Belanda, Portugis, China, Arab, India, Turki.

Maka jadi lucu kalau etnis Betawi jaman gabener membenci China, dan lebih mengunggulkan Arab. Padal etnis itu bukan barang lama, melainkan produk asimilasi kolonial yang berasal dari Sunda, Aceh, Bali, Jawa, Arab, Portugis, Makassar, China. Bahkan seni-budaya, fashion, kuliner, kayaknya lebih banyak diserap dari China.

Inilah bangsa yang tidak belajar dari sejarah. Muncul orang macam Riziek dan Bahar yang anaknya Smith cum-suis. Dengan agamanya memaksa-maksa orang lain. Seolah mereka tak bisa berkomunikasi dengan baik, padal memang iya. Mengkafirkan liyan, menghalalkan darah manusia, mengharamkan darah babi.

Dan ketika muncul sosmed atau medsos, dengan karakter dan filsafat bawaannya, semua tidak siap, karena memang tidak pernah dipersiapkan, terutama dari dunia pendidikan termasuk pendidikan agama. Entah itu oleh guru, mantri, dosen, profesor, da’i, ustadz, ulama, pendeta, pastor, diakon, kyai, bedande, suhu, budayawan, akademisi, peneliti, fesbuker, kepala studi, ketua prodi, dekan, rektor, ketum partai, buzzer, sjw (tetap: social joker warrior), pemimpin redaksi, jurnalis rasa wartawan, guru sastra, guru tari, penyelenggara kursus nulis online, pernerbit buku, pelukis yang lebih suka disebut perupa, dan seterusnya dan sebagainya.

Fenomena Citayam tidak akan pernah terjadi jika (1) Pemerintah (mau pusat mau daerah, seterah) memahami dan mampu memfasilitasi raung dan ruang publik. (2) Tidak ada gadget dan medsos.

Jika pun ada unsur gadget dan medsos, jika syarat pertama dipenuhi, mungkin kekacauan tetap ada tetapi lebih tereduksi. Karena ini bangsa zigzag, tumbuh secara pragmatis dari disain kekuasaan Orde Bau Soeharto. Bukan sebagaimana gelombang-gelombang perubahan seperti dituliskan Alvin Toffler.

CFW ada karena pola-hidup medsos. Jauh-jauh hari sebelumnya di Melawai ada JJS, di Malioboro, di Jember, Bandung. Waktu itu disebut fenomenal, tetapi tidak viral. Yang sekarang ini viral, tetapi sesungguhnya tidak fenomenal. Biasanya saja. Tapi algoritma medsos, bisa menjadikan seolah fenomenal.

Lha kok silver-man di prapatan jalan tidak viral? Karena cara nyari duitnya sangat lugu. Diam mematung, terus ketika lampu bangjo selak-ijo selak-ijo, buru-buru mereka mengatungkan kotak amal kemiskinan.

Coba pakai cara model Yusuf Mansyur atau model ACT!

Sunardian Wirodono

***