"Problem-Based Learning" Pengaturan Kohe

Beternak kambing akan menjadi unit pembelajaran dan juga usaha keren bagi anak-anak muda. Ini barangkali titik awal tumbuhnya peternakan dan pertanian "keren" dan "gaya" di Indonesia.

Sabtu, 15 Januari 2022 | 22:52 WIB
0
97
"Problem-Based Learning" Pengaturan Kohe
Kotoran hewan (Foto: Dok. pribadi)

KOHE adalah singkatan dari "kotoran hewan". Saat anda beternak kambing, kotoran mereka seringkali jatuh ke bawah berserakan atau tertumpuk. Air kencingnya menetes mengalir ke mana-mana. Bila tak dikelola dengan baik, kohe itu akan mendatangkan bau tak sedap dan menggangu para tetangga.

Padahal, kohe ini adalah sumber pupuk organik yang sangat berguna. Kohe padat dan cair perlu dipisah. Perlu teknologi sederhana yang perlu diterapkan. Itulah tantangan yang harus diselesaikan salah satu kelompok mahasiswa yang kini magang di Kampung Ilmu.

Hari ini saya mendapat kiriman hasil awal pemecahan masalah ini. Rupanya di bawah kandang kambing sedang dirancang alat pengatur kohe sederhana dengan memasang terpal miring. Tujuannya saat kohe jatuh dari atas saat kambing buang hajat, kohe akan menggelontor ke bawah dan siap ditampung.

Untuk memisahkan kohe cair (air kencing kambing) dan kohe padat, di ujung terpal ada jaring yang menjadi jalan air kencing menetes ke bawah dan dikumpulkan dalam wadah penampung. Yang unik, kohe padat yang terkumpul menumpuk akan didorong oleh conveyor masuk ke dalam karung.

Saya tak sabar menunggu hasil dari percobaan ini. Nampaknya, ini yang akan menjadi inovasi kelompok mahasiswa bagian kambing ini.

Saat ini, percobaan masih belum selesai. Masih ada "trials and errors" yang harus dijalani. Namun saya sangat senang melihat proses pembelajaran berbasis "problem based learning" semacam ini. Bagi saya, ini salah satu contoh "personal discovery" dalam belajar yang harusnya terus dikembangkan.

Semoga ke depan akan tumbuh beragam penemuan tepat guna bagi kehidupan masyarakat. Beternak kambing akan menjadi unit pembelajaran dan juga usaha keren bagi anak-anak muda. Ini barangkali titik awal tumbuhnya peternakan dan pertanian "keren" dan "gaya" (fashionable) di Indonesia. 

***