Jogja... Jogja... Jogjakarta...

Orang harus selalu tepa selira, karena kita tidak hidup sendiri. Ada orang lain. Ada kelompok lain. Ada yang berbeda dengan kita. Kita ada di tengah masyarakat yang plural, yang majemuk, yang macam-macam dalam segala hal.

Minggu, 3 April 2022 | 06:19 WIB
0
63
Jogja... Jogja... Jogjakarta...
Jalan Malioboro, Jogjakarta (Foto: liputan6.com)

I

Bila ingat Yogya—ada yang nulis Jogja—selalu ingat kata aman dan damai, toleran, berbudaya, santun, ramah, terbuka, dan serentetan istilah atau kata lain yang menggambarkan sifat, karakter, watak baik masyarakat. Juga ingat gotong-royong, rembug desa, dialog, budaya angkringan, dan berbagai kebiasaan baik dalam hidup bermasyarakat.

Ingat Yogya juga ingat slogan yang berbunyi  “Yogya Berhati Nyaman” (Perda Kota Yogyakarta No.1, Th 1992). Tentu, ada maksudnya mengapa memilih sesanti yang dijiwai oleh sesanti Mengayu Hayuning Bawana, memperindah keindahan dunia (sesanti yang ditulis dalam lambang Kota Pradja Djogjakarta)  itu.

Sesanti yang memiliki asas harmoni, kelestarian, lingkungan, sosial budaya ini dicetuskan oleh Sultan Agung. Konsep ini sejatinya mengupayakan keselamatan, memelihara kehidupan, menjaga alam dari kerusakan, serta mempertahankan keseimbangan hubungan antar-makhluk di dunia.  KBBI mengartikan kata “nyaman” sebagai segar, sehat, sedap,  sejuk, dan enak. 

Ingat Yogya, juga ingat konsep tata ruang sumbu nyegara gunung (poros laut gunung). Rasanya tidak ada kota di dunia ini memili konsep tata ruang seperti itu. Konsep sumbu nyegara gunung diwujudkan dengan membuat garis imajiner lurus dari selatan ke utara, yang menghubungkan Laut Kidul (Samudra Indonesia), Parangkusumo, Panggung Krapyak, Keraton, Tugu Pal Putih (Tugu Golong-gilig), dan Gunung Merapi. Hal ini merupakan pembagian dari aspek Jagat Alit (mikrokosmos) dan Jagat Ageng (makrokosmos) sehingga keberadaan Gunung Merapi tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakatnya (National Geographic Indonesia, 2015).

Filosofi  Poros Imajiner yakni sumbu nyegara gunung dapat dimaknai sebagai sebuah harmonisasi antara lingkungan dan fisik. Yakni, melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablum Minallah), manusia dengan manusia (Hablum Minannas) maupun manusia dengan alam termasuk lima anasir pembentuknya yakni api (dahana) dari Gunung Merapi, tanah (bantala) dari bumi Ngayogyakarta dan air (tirta) dari Laut Selatan, angin (maruta) dan akasa (ether). Demikian juga tiga unsur yang menjadikan kehidupan (fisik, tenaga dan jiwa) telah tercakup di dalam filosofis sumbu imajiner tersebut (jogjaprov.go.id/)

Poros-poros tersebut didapat dari akulturasi faham Hindu dan Islam yang memiliki maksud jalan lurus menuju akhirat. Gunung Merapi ditempatkan disebelah Utara atau bagian atas yang berarti disakralkan karena Gunung Merapi merupakan wilayah yang penting bagi wiayah-wilayah di bawahnya, sekaligus menjadi pemasok utama sumber  daya alam bagi wilayah sekitarnya (Zaenal Abidin Eko Putro, 2010).

II

Poros Imajiner, sumbu nyegara gunung itu, sekarang masih ada, sebagai kearifan lokal yang menjaga budaya apa adanya. Jalan Malioboro, misalnya, ada di poros imajiner itu. Pasar Beringharjo yang dibangun dalam konteks sumbu nyegara gunung, ada di sisi poros imajiner itu. Gedung Agung, juga demikian. Yang bisik-bisik sering ditanyakan adalah, apakah “Yogya Berhati Nyaman” itu masih ada?

Sebenarnya agak berat mempertanyakan hal itu. Sebab, ada yang mengartikan kata “Yogyakarta” diambil dari kata “ayodya” yang berarti “tidak ada perang” berarti ada “kedamaian” dan “karta” yang berarti “baik.” Sejarawan Peter Carey mengatakan, toponimi Yogyakarta berasal dari kata “Ayodhya” dalam bahasa Sansekerta (bahasa Jawa baru : “Ngayodya”), yang mengacu pada ibu kota Rama dalam epos Ramayana. Gagasan ini diperkuat oleh buku Thomas Raffles yang sangat terkenal, History of Java  (1871), yang menegaskan bahwa kota ini “diberi nama oleh pendirinya menurut nama Ayudhya, ibu kota Rama…” (krjogja.com, 2017).   

Yogyakarta adalah nama pendek dari Ngayogyakarta Hadiningrat. Ia juga dikenal sebagai nama kota Arjuna, pahlawan dalam Mahabharata (Woodward 1999:20). Meskipun ada yang membantah pendapat tersebut. Tetapi,  kata ”Yogya” sekarang memiliki arti baru yakni “sesuai, layak, pantas, pas”. Artinya layak dan pantas memberikan kedamaian kepada siapa saja, semua orang Yogya dan pendatang.

Tetapi, hasil survey Setara Institute tentang kota Indeks Kota  Toleran Tahun 2021 yang kemarin dulu disiarkan, sungguh mengejutkan sekaligus memrihatinkan kalau dikaitkan dengan makna kata “Yogyakarta.” Dari 94 kota di seluruh Indonesia yang disurvey, Yogyakarta ada di peringkat 22 dengan skor Indeks Kota Toleran (IKT) 5,483. Kota yang paling toleran adalah Singkawang dengan skor IKT 6,483. Kota yang paling rendah tingkat toleransinya adalah Depok dengan IKT 3,577.

Memang, dibandingkan hasil survey sebelumnya (2020) peringkat Yogyakarta naik atau membaik. Pada survey 2020, Yogyakarta ada di peringkat 33 dengan skor IKT 5,233. Meski demikian, itu berarti ada persoalan besar dari Yogyakarta yang selama ini populer dengan sebutan “Kota Budaya” bahkan disebut sebagai “jangkar budaya Jawa” dalam hal bertoleransi.

Padahal, toleransi adalah bagian yang tak terpisahkan dalam budaya Jawa, yang hidup di Yogyakarta. Maka sahabat saya Zuli Qodir mengatakan, masyarakat Yogyakarta sebenarnya toleran; bibitnya memang sudah kuat. Secara kultural, masyarakat Yogyakarta adalah masyarakat terbuka. Masyarakat Jawa atau Yogyakarta adalah masyarakat kultur.

Yang biasa terjadi, segala bentuk sikap yang akan disampaikan pada orang lain, ditimbang-timbang terlebih dalu tingkat kepantasannya. Dari ini orang Jawa mengenal konsep tepa selira. KBBI mengartikan kata tepa selira sebagai dapat merasakan (menjaga) perasaan (beban pikiran) orang lain sehingga tidak menyinggung perasaan atau dapat meringankan beban orang lain; tenggang rasa; toleransi.

Dengan demikian, konsep tepa selira lebih mengarah pada fungsi sosial. Yakni diterapkan bagi orang lain. Sikap yang dihasilkan oleh tindakan yang mengacu pada konsep tepa selira, terutama diterima dan dirasakan oleh orang lain. Melalui konsep tepa selira inilah segala sesuatu yang ada pada orang lain dapat dirasakan seakan-akan sebagai sesuatu yang menjadi miliknya sendiri. Inilah yang sering disebut sebagai golden rule, “Lakukan kepada orang lain seperti yang Anda ingin mereka lakukan kepada Anda.”

III

Mungkin, sekarang, masyarakat Yogyakarta sudah berubah, sehingga menjadi kurang toleran atau mementingkan diri sendiri, kelompoknya sendiri. Tetapi, semestinya watak, karakter, jiwa, rohnya, dan budaya Yogyakarta, tidak.  Orang Yogya, masyarakat Yogya semestinya masih mengenal kata-kata bijak ini, ngono ya ngono neng aja ngono. Secara bebas dapat diartikan “Begitu ya begitu (mungkin kamu betul), tapi ya jangan begitu (apa tidak ada cara yang lebih baik?)”.

Mengapa ngono yo ngono, ning aja ngono itu penting dalam kehidupan masing-masing orang sehari-hari dan apalagi dalam bermasyarakat? Sebab, urip iku mung mampir ngombe, hidup itu sekadar berhenti sejenak untuk minum. Itu berarti bahwa dunia ini sebagai realitas adalah tempat persinggahan sejenak. Karena hanya sejenak, maka yang sejenak itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi kebaikan bersama.

Maka orang harus selalu tepa selira, karena kita tidak hidup sendiri. Ada orang lain. Ada kelompok lain. Ada yang berbeda dengan kita. Kita ada di tengah masyarakat yang plural, yang majemuk, yang macam-macam dalam segala hal. Jadi jangan menang-menangan…seperti yang pernah diingatkan oleh Sri Sunan Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh aja sok “Adigang, Adigung lan Adiguna”. Manusia hendaknya tidak mengandalkan kelebihan yang dia miliki, yakni kekuatan (antara lain jumlahnya banyak, ibarat kata asu gedhé menang kerahé…), kekuasaan, dan kepandaian.

Itulah nasihat para pinisepuh, orang-orang tua tentang toleransi di Yogyakarta yang tidak lepas dari budaya gagasan yang muncul sebagai pengetahuan sehari-hari masyarakat Yogyakarta.  Hanya mereka yang sudah “ilang jawane” saja yang sudah lupa akan nasihat para pinisepuh itu.

Jogja…Jogja…Jogjakarta….

***