“Publish or Perish” dalam Tradisi Publikasi Ilmiah

Pendekatan digunakan Thomson Reuters untuk membantu pustakawan mengidentifikasi jurnal-jurnal yang akan dibeli, bukan digunakan untuk mengukur atau mengases kualitas sebuah karya akademik.

Rabu, 14 April 2021 | 15:21 WIB
0
119
“Publish or Perish” dalam Tradisi Publikasi Ilmiah
Ilustrasi penelitian (idcloudhost.com)

Awalnya, saya mengenal istilah “publish or perish” sebagai sebuah aplikasi komputer (software program) yang dikembangkan oleh Anne-Wil Harzing sejak 2006. Program ini dapat digunakan oleh peneliti/penulis untuk melacak, mengambil dan menganalisis sitasi akademik yang terdapat di berbagai sumber data digital (seperti Web of Science, Scopus, Google Scholar, Microsoft Academic Search, dll.). Kemudian, menampilkannya dalam bentuk matriks sitasi (citation metrics).

Melalui matriks sitasi ini, peneliti/penulis dapat memilih dan menetapkan variable-variabel masalah penelitian yang layak diteliti, memiliki unsur kebaruan atau keaslian (novelty, originality), dan memiliki dampak menguntungkan terhadap pengembangan bidang ilmu.

Namun demikian, terlepas dari keberatan terhadap penggunaan istilah “publish or perish” karena dianggap bukan mendeskripsikan secara akurat tentang akademisi, juga bukan nasihat yang baik bagi akademisi, seperti dinyatakan oleh Carmen Delgado (2020), sesungguhnya di balik itu, ada misi atau pesan lebih substantif, yaitu, agar peneliti/penulis anggota komunitas keilmuan dan profesional (scientific or professional community) memiliki kesadaran, kemauan, dan komitmen yang kuat untuk mempublikasikan karya-karya akademik.

Publikasi ilmiah dapat dilakukan dalam bentuk yang serius (melalui proses review atau editorial oleh mitra bestari) seperti di jurnal-jurnal ilmiah terindeks dan bereputasi, forum-forum pertemuan ilmiah (seminar, konferensi, dll.) beserta prosidingnya; di buku-buku terbitan (referensi, non-buku ajar, monograf, dll.), hingga publikasi populer di media massa (cetak, terekam, dan terkoneksi), dan media jurnalisme publik yang dimoderatori.

Pandangan awal tentang publikasi menyatakan, bahwa semakin banyak, sering atau produktif peneliti/penulis dalam mempublikasikan karya-karya akademik, semakin baik dan bermanfaat. Tentu saja, rambu-rambu kelayakan dan kepatutan dari sisi jumlah publikasi yang dihasilkan, baik secara normatif, akademik, dan etik tetap harus menjadi acuan.

Hal ini dibenarkan oleh de Round & Miller (2005), bahwa “publish or perish” sesungguhnya merupakan sebuah aforisme yang telah menjadi “way of life” dalam kehidupan universitas dan komunitas akademik sejak empat dekade akhir 1990an. Ia juga menjadi ukuran bagaimana kecendekiaan/kepakaran (scholarliness) itu didefinisikan dan dievaluasi.

Namun di sisi lain, kata de Round & Miller mengingatkan, bahwa publish or perish juga merupakan paduan simbolisasi antara ambisi, kebanggaan, introspeksi, kegelisahan, kecemasan, dan rasa tidak aman (tertekan) di kalangan komunitas akademik (junior dan senior) terkait dengan penciptaan dan publikasi karya-karya akademik di jurnal-jurnal elite/bereputasi.

Bahkan, penciptaan dan publikasi karya-karya akademik di jurnal-jurnal elite/bereputasi kerap dijadikan kriteria utama dalam rekrutmen dan promosi jabatan-jabatan akademik universitas/fakultas. Akademisi yang tidak meneliti dan mempublikasikannya di jurnal-jurnal elite/bereputasi pun kariernya akan terhenti, atau tidak memiliki karier akademik yang baik dan cemerlang (perish).

Pandangan ini pula yang sejak dasawarsa kedua 2000an menjadi kebijakan yang diterapkan di Indonesia bagi setiap akademisi (dosen dan peneliti). Kebijakan ini pula yang kemudian membuat Indonesia berhasil mengejar ketertinggalan dalam jumlah (kuantitas) publikasi akademik dari negara-negara di Kawasan ASEAN. Menurut Menristekdikti/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro (28/5/2020) dalam tiga tahun terakhir ini (sejak 2017) jumlah publikasi ilmiah Indonesia bergerak secara eksponensial dan menjadi yang tertinggi di negara-negara ASEAN. Fenomena ini yang pertama kali terjadi sejak 20 tahun ikhtiar kementerian dalam rangka peningkatan dan pengembangan publikasi ilmiah di Indonesia.

Dari sisi keilmuan, publikasi karya akademik secara "scholarliness" harus berkualitas, inovatif, memuat kebaruan, dan memiliki dampak keilmuan yang signifikan. Tanpa itu, ilmu pengetahuan dan disiplin ilmu (academic disciplines) akan dihadapkan pada situasi krisis, stagnasi, dan akhirnya “musnah, binasa” (perish).

Hal ini didasarkan pada pandangan, bahwa ilmu pengetahuan itu bukan hanya akumulasi pengalaman dan pemikiran manusia dari waktu ke waktu tentang alam (natural, sosial, dan relasi keduanya). Ilmu Pengetahuan sejatinya merupakan hasil rekonstruksi dinamis dari serangkaian proses verifikasi, falsifikasi dan/atau revolusi paradigmatik yang berkesinambungan menuju ke arah pengertian yang lebih baik dan maju tentang alam (natural, sosial) dan enigmanya.

Selain diterbitkan di jurnal bereputasi/terindeks, publikasi yang bernilai dan berkualitas juga harus memiliki indeks sitasi yang tinggi, dan memiliki faktor dampak (impact factor) yang bagus. Atau lazim disebut “scientometric approach”. Fenomena inilah yang sejak awal 2000an menjadi paradigma baru dalam menilai derajat "scholarliness" sebuah karya akademik.

Bahkan, publikasi di jurnal-jurnal elite/bereputasi telah menjadi industri dan bisnis akademik tersendiri, yang untuk menerbitkannya setiap penulis artikel dikenai biaya (fee). Demikian pula, bagi siapapun yang menginginkan artikel jurnal tersebut harus membeli (purchase). Walaupun, dalam beberapa tahun belakangan, dengan adanya jurnal yang bersifat “open access”, beberapa jurnal bereputasi juga bisa diakses secara gratis (free charge) oleh publik. Tetapi, penulis artikel tetap dikenai biaya publikasi.

Untuk mendukung paradigma tersebut, saat ini beragam program komputer (aplikasi) yang semakin canggih dan kompleks telah dikembangkan untuk mendeteksi kualitas publikasi (terutama jurnal dan prosiding).

Aplikasi seperti PlagScan, PlagiarismChecker, Copyscape, dll. dikembangkan untuk membantu peneliti/penulis mendeteksi plagiarism. Aplikasi Publish or Perish, Elsevier’s Scopus, Analytics Web of Science, dan Google Scholar untuk analisis matriks jaringan sitasi akademik, Hirsch's h-index, dan  Egghe's g-index, impact factor (IF) atau rerata jumlah sitasi dari artikel-artikel yang dipublikasikan di jurnal-jurnal yang terindeks.

Lapak Institute for Scientific Information (ISI), Science Citation Index (SCI), Social Sciences Citation Index (SSCI), Arts and Humanities Citation Index (AHCI), dll. dikembangkan untuk membantu peneliti/penulis melacak riwayat atau genealogi publikasi sebuah karya ilmiah (indeks sitasi) dari yang paling awal hingga mutakhir dalam bidang kajian ilmiah tertentu. Aplikasi Mendeley, Zotera, EndNote, dll. dapat digunakan untuk membuat daftar pustaka/referensi secara akurat; dan program-program komputer lainnya yang mudah di-googling di Internet.

Semua program komputer (aplikasi) tersebut, tentu sangat membantu peneliti/penulis untuk menghasilkan publikasi karya-karya ilmiah yang berkualitas, memiliki dampak keilmuan dan nilai kebaruan/keaslian (novelty/originality) yang tinggi bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Namun demikian, tidak semua pakar sepakat bahwa tingkat “scholarliness” sebuah karya akademik didefinisikan dan dinilai hanya semata-mata berdasarkan pada tempat artikel tersebut diterbitkan (jurnal elite/bereputasi atau tidak), dan pada penggunaan index dan impact factor jurnal.

Diakui atau tidak, disadari atau tidak, kata Lee (2012), seperti juga de Round & Miller (2005), sistem ini telah menciptakan elitisme dalam tradisi publikasi akademik, dan telah menyebabkan banyak akademisi (tua dan muda) mengalami stress dan cemas. Bahkan, dalam American Society of Cell Biology tahun 2012 dalam deklarasinya berjudul “San Francisco Declaration on Research Assessment: Putting Science into the Assessment of Research (DORA)” menegaskan (Dani, 2018), bahwa pendekatan impact factor jurnal “has its deficiencies and should not be used for the quality assessment of scientific research.” (h.20).

Awalnya, menurut Dani, pendekatan itu digunakan oleh Thomson Reuters untuk membantu para pustakawan untuk mengidentifikasi jurnal-jurnal yang akan dibeli (karana banyak yang berminat, tertarik), bukan digunakan untuk mengukur atau mengases kualitas sebuah karya akademik.

Karenanya, menurut Lee (2012), akan lebih tepat jika "scholarliness" menggunakan faktor derajat diseminasi dan kontribusi atau signifikansinya terhadap kemajuan bidang keilmuan dari karya akademik yang dipublikasikan sebagai parameter. "scholarliness" should be defined by knowledge dissemination and advancement in our field, rather than indexes or journal impact factors”. Bukan pada indeks dan impact factor jurnal.

Apapun kontroversi yang muncul dari aforisme “publish or perish,” terpenting adalah, bahwa tujuan publikasi bukan hanya semata-mata untuk kepentingan keberhasilan dan kecemerlangan karier akademik peneliti/penulis secara personal (adagium: jika ingin dikenal dunia, menulislah), melainkan untuk kesinambungan, perkembangan dan kemajuan tradisi intelektual/keilmuan secara keseluruhan.

Sejumlah saran konformistis dari Dani (2018) sangat baik terkait dengan bagaimana menyikapi pendekatan scientometric dalam publikasi karya akademik.

Salam.