Mengapa Negara yang Terobsesi pada Agama Cenderung Miskin dan Terbelakang?

Indonesia jelas masih ada harapan. Sebagian besar bangsa ini mampu bernalar sehat dan memiliki nurani yang jernih. Hanya sebagian kecil yang radikal, dan merusak kebaikan bersama.

Kamis, 29 April 2021 | 08:49 WIB
0
678
Mengapa Negara yang Terobsesi pada Agama Cenderung Miskin dan Terbelakang?
Kemiskinan di India (Foto: Boombastis.com)

Bilangan Kemang, Jakarta Selatan, sekitar jam 7 malam, Senin 26 April 2021, saya sedang parkir motor. Terdengar suara gaduh begitu keras dan begitu lama. Saya bertanya kepada tukang parkir, suara apakah itu. Suara orang berdoa, jelasnya.

Mengapa begitu keras? Saya sampai tak bisa mendengar suara tukang parkir itu. Saya bahkan tak bisa mendengar suara saya sendiri. Mengapa berdoa harus begitu keras?

Saya tengok tempat ibadah terkait. Orangnya sedikit sekali, tetapi suaranya keras sekali. Apakah perlu sekeras itu? Bukankah itu menganggu lingkungan sekitar? Bukankah itu polusi suara? Gejala apakah ini?

Konon, jika dibicarakan dengan baik-baik, orang bisa dituduh menistakan agama. Akhirnya, orang takut, dan mendiamkan suara bising yang sangat menganggu lingkungan sekitar tersebut.

Beginilah nasib para pencinta sunyi di negara yang terobsesi agama. Orang sakit, orang yang butuh istirahat dan para pencinta sepi harus dipaksa mendengar doa yang tak bermakna, dan seringkali merusak telinga.

Hipotesis yang Kemungkinan Benar

Saya sudah lama punya hipotesis sederhana. Hipotesis berarti pendapat yang belum diuji dalam penelitian. Bunyinya begini, semakin suatu negara terobsesi pada agama, semakin negara itu terbelakang dan miskin. Dengan beberapa ketikan di keyboard, “Professor Google” langsung menyajikan data-data yang berguna.

Data diambil oleh lembaga riset PEW dalam bentuk survey dari tahun 2008 sampai 2017. Ini adalah lembaga riset mandiri yang bermarkas di Washington, Amerika Serikat. Mereka melakukan penelitian secara rutin tentang berbagai hal yang terkait dengan kehidupan bersama. Mereka menggunakan metode penelitian terbaru untuk menggali data yang diinginkan. Ini data yang saya dapatkan:

Mari kita bedah data tersebut. Ada lima negara yang melihat agama sangat penting. Mereka adalah Ethiopia (98%), Pakistan (94%), Indonesia (93%), Honduras (90%) dan Nigeria (88%). Jelas, ini adalah negara-negara yang gagal menghadirkan kemakmuran dan keadilan bagi warganya. Ketimpangan sosial antara yang kaya dan yang miskin begitu tinggi. Konflik bersenjata, mulai dari teror bom sampai perang saudara, pun belum juga berakhir.

Kita lihat sisi lainnya. Ada lima negara yang tidak melihat agama sebagai sesuatu yang penting. Mereka adalah Cina (3%), Swedia (10%), Jepang (10%), Inggris (10%) dan Jerman (10 %). Ini adalah daftar negara-negara yang luar biasa.

Cina sudah menjadi negara adidaya dengan pengaruh politik, ekonomi dan budaya yang amat besar di dunia. Banyak kritik yang ditujukan pada Pemerintah Cina. Namun, kita tak bisa membantah, mereka sangat luar biasa.

Bagaimana dengan Swedia, Jepang, Inggris dan Jerman? Ini adalah negara-negara maju, tempat orang-orang dari seluruh dunia ingin hidup, bekerja dan belajar.

Tanyakan ke diri anda. Apakah anda mau hidup, bekerja dan belajar di Ethiopia, Nigeria atau Indonesia (kecuali yang sudah lahir di sana, seperti saya)? Saya rasa, sebagian besar akan menjawab tidak. Apakah anda mau belajar, bekerja dan hidup di Cina, Jepang atau Jerman? Saya rasa, sebagian besar akan menjawab ya.

Mengapa ini Terjadi?

Data dari PEW tidak menyebut soal obsesi. Namun, dari pengamatan dan bacaan saya, agama sudah menjadi obsesi hidup di kelima negara yang saya sebutkan di atas. Kebenaran hanya ada di dalam agama, terutama agamaku, yang diberikan pada waktu aku lahir, dan tak punya hak untuk memilih, atau pindah. Yang lain sesat, bahkan harus dibom untuk dimusnahkan dari muka bumi.

Ada tujuh hal yang penting untuk diperhatikan. Pertama, obsesi adalah gejala batin yang tak sehat. Orang memuja sesuatu, tanpa sikap kritis. Orang kehilangan nalar sehat, dan hanyut dalam obyek pujaanya.

Orang yang terobsesi sulit diajak berbicara dengan baik. Mereka mengalami kebutaan nalar. Mereka tak bisa, atau tak mau, melihat dari sudut pandang lain, atau dari sudut pandang yang lebih luas. Akhirnya, mereka pun cenderung sensitif, dan siap melakukan kekerasan, jika merasa terpojok.

Obsesi pada agama berdampak serupa. Orang buta pada data dan fakta yang berbeda dengan pandangannya. Orang menjadi keras kepala di dalam kebodohannya. Di masyarakat yang terobsesi pada agama, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan tak akan berkembang.

Dua, obsesi juga akan membunuh nalar sehat. Orang tak mampu berpikir logis, dan melihat sebab akibat secara nyata di dunia. Sikap kritis juga lenyap. Tradisi dan pandangan lama yang sesat tetap dipertahankan, walaupun sudah terbukti salah total.

Tiga, buta data dan buta nalar sehat akan berujung pada kemiskinan. Korupsi akan tersebar luas, bahkan terpaut erat dengan hidup beragama. Berbagai kebijakan justru akan memperbodoh dan mempermiskin rakyat. Kemiskinan dan kekumuhan pun merajalela, diikuti dengan secuil orang kaya dengan perumahan mewah mentereng yang menganggu pemandangan.

Tanpa pegangan data dan nalar sehat, masyarakat tidak akan bisa membuat hukum yang adil. Kebijakan juga akan salah kaprah. Berbagai masalah sosial, seperti kemiskinan, kriminalitas, diskriminasi dan korupsi, hanya akan bertambah besar.

Empat, semua ini akan menciptakan intoleransi terhadap perbedaan cara hidup. Konflik antara kelompok dan antar agama akan rutin terjadi. Korban nyawa dan harta benda akan menjadi tak terhitung. Indonesia sudah kenyang dengan pengalaman semacam ini.

Lima, negara juga akan terjebak pada perdebatan sia-sia. Soal berpakaian akan menjadi perdebatan publik yang menyita banyak waktu dan tenaga. Soal dosa, neraka dan surga juga akan menjadi wacana publik yang sia-sia. Di dunia yang sedang giat melawan pandemik, mengembangkan energi terbarukan dan mempersiapkan perjalanan antar planet, negara-negara yang terobsesi agama semakin jauh tertinggal di belakang.

Enam, negara yang miskin dan terbelakang akan menjadi mangsa dunia internasional. Kekayaan alamnya akan dikeruk habis. Negaranya hanya akan menjadi tempat jualan semata. Budayanya hancur tergilas pengaruh asing. Di dalam kemiskinan budaya dan ekonomi, konflik dan kehancuran pun sudah menunggu di depan mata.

Tujuh, pada akhirnya, negara-negara yang terobsesi pada agama akan menjadi negara gagal (failed state). Pemerintah tidak mampu menyediakan kemakmuran dan keadilan bagi warganya. Konflik berdarah akan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian. Dalam waktu tertentu, negara tersebut akan lenyap dari muka bumi.

Ketujuh hal ini juga bisa dibalik, guna memahami negara-negara yang tidak terobsesi pada agama. Mereka cenderung peka pada data, dan menggunakan nalar sehat maupun kritis di dalam membuat kebijakan. Mereka berhasil keluar dari kemiskinan maupun konflik yang berkepanjangan di wilayahnya. Toleransi terhadap perbedaan cara hidup sangatlah tinggi. Mereka menjadi negara-negara maju dalam hal budaya, ekonomi dan politik, serta menjadi teladan bagi negara-negara lainnya.

Beragama Secara Wajar

Saya tergoda untuk menolak keberadaan agama di dunia. Tapi, ini tampaknya berlebihan. Tak bisa dipungkiri, agama telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan peradaban manusia. Tanpa agama dalam segala bentuknya, manusia mungkin sudah hancur oleh ketidakpastian alam.

Belajar dari Aristoteles dan Buddha Gautama, jalan tengah yang moderat adalah jalan terbaik. Maka, kita harus tetap beragama. Namun, jangan sampai kita jatuh ke dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Ada lima hal yang penting untuk diperhatikan.

Pertama, lepaskan segala bentuk obsesi. Ia tidak sehat. Ia membunuh nalar sehat dan hati nurani. Ia membunuh empati.

Beragama boleh, namun jangan terobsesi. Beragamalah dengan santai dan penuh tawa. Tetap belajar bernalar sehat. Tetap mengembangkan hati nurani dan empati. Silahkan beribadah, sambil tetap peka pada kepentingan orang lain, dan kebaikan bersama.

Dua, hidup manusia itu punya banyak sisi. Jangan hanya agama yang dikembangkan. Kembangkan sisi seni dan budaya juga. Kembangkan sisi ilmiah dan filsafat juga. Hidup kita akan menjadi seimbang, dan jauh dari jebakan obsesi.

Tiga, secara khusus, kita harus belajar mengembangkan ilmu pengetahuan dan seni. Ini akan mengasah akal sehat dan nurani. Sistem pendidikan harus mengembangkan budaya ilmiah dan kecintaan pada seni budaya. Ini dimulai dengan memilih menteri pendidikan maupun pejabat-pejabat pendidikan yang tepat.

Empat, jika ingin beragama, belajarlah sampai ke inti. Jangan terjebak pada kulit permukaan yang dangkal. Jangan terjebak pada tafsiran-tafsiran yang sesat yang memperbodoh. Inti semua agama adalah kesatuan dengan Tuhan dan segala yang ada. Cinta dan kedamaian akan muncul secara alami dari kesatuan ini.

Lima, pada satu titik, kita harus melampaui agama, dan memasuki spiritualitas. Artinya, kita tak lagi melihat diri kita sebagai semata anggota kelompok sosial tertentu, tetapi sebagai warga semesta. Di dalam filsafat, ini disebut juga sebagai kosmopolitanisme. Kita akan hidup berdampingan dengan damai dengan segala yang ada, termasuk tumbuhan dan hewan di sekitar kita. Kita akan terhindar dari segala bentuk obsesi yang menyiksa, termasuk obsesi pada agama.

Indonesia jelas masih ada harapan. Sebagian besar bangsa ini mampu bernalar sehat dan memiliki nurani yang jernih. Hanya sebagian kecil yang radikal, dan merusak kebaikan bersama. Mereka kecil, namun suka sekali ribut di media sosial dan media massa nasional.

Mari kita kembangkan Indonesia yang beragama, namun makmur dan cerdas. Kita bisa menjadi teladan bagi seluruh dunia dalam hal ini. Saya bermimpi, suatu saat, semua tempat ibadah di Indonesia akan terbuka untuk semua agama. (Roetting, 2021) Orang lalu bisa melakukan Yoga di Gereja, ataupun Sholat di Wihara, tanpa ada rasa risih ataupun takut. Kita melampaui obsesi tak sehat pada agama, dan menjadi bangsa yang tercerahkan.

Semoga ini tidak menjadi mimpi belaka, tetapi kenyataan yang bermakna. Itu tergantung pada kita semua. Mari mulai bekerja!

***