Budaya Proaktif Wujudkan BPL HMI Cabang Gowa Raya yang Aktif, Profesional, dan Adaptif

Satu kalimat yang menjadi rekomendasi saya, “buat apa yang boleh”, namun jangan pernah pesimis dengan menyatakan “apa boleh buat”.

Rabu, 28 April 2021 | 02:12 WIB
0
54
Budaya Proaktif Wujudkan BPL HMI Cabang Gowa Raya yang Aktif, Profesional, dan Adaptif
Pelantikan BPL HMI Cabang Gowa Raya (koleksi BPL Cagora)

Sebuah kehormatan untuk bisa turut hadir dan juga menyuarakan pandangan saya sekaitan dengan pelantikan Badan Pengelola Latihan, HMI Cabang Gowa Raya.

Kehadiran saya, semata-mata memenuhi undangan pelantikan. Namun, pada yang sama justru diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan pada momentum pelantikan sebagai masa yang sakral, dimana para pengurus menyatakan ikrarnya untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT melalui amal terbaik sebagai pengurus BPL.

Tri Budaya Badan Pengelola Latihan disingkat dengan PROAKTIF. Dimana terbagi atas tiga Aktif, Profesional, dan Adaptif. Tri Budaya tersebut menjadi peta jalan untuk kepengurusan selama setahun yang akan datang.

Pertama, apa yang menjadi kesempatan BPL yaitu menyatukan persepsi kader melalui Latihan kader baik formal maupun nonformal dan informal bahwa kader HMI juga merupakan kader umat dan bangsa.

Sehingga kemampuan untuk bersinergi atau berkolaborasi yang dibahasakan dalam istilah agama kita yaitu berjamaah merupakan platfrom yang harus dikuasai semua kader sebagai sebuah kemahiran tersendiri.

Tidak lagi kita berada di masa-masa beraktivitas secara mandiri. Illustrasinya, bahwa warga Indonesia sangat mahir dan punya kemampuan yang bolehjadi tidak terkalahkan untuk kemampuan individual. Bahkan bisa mencapai juara dunia.

Itu terlihat dalam permainan badminton. Namun, untuk permainan sepakbola yang memerlukan kerja bersama dalam bentuk kelompok, kita melaluinya di awal tahun 1980-an. Setelah itu, medali emas sepakbola di regional Asia Tenggara tidak dapat lagi kita capai.

Padahal, kita saksikan perkembangan dunia hari ini. Kolaborasi antara Samsung dan Google kemudian mendominasi dunia. Menyisihkan Nokia, dan Blackberry. Padahal keduanya, tidak melakukan kesalahan apapun.

Hanya saja, dengan jalinan antara Samsung dan Google dalam penyedian gawai, memungkinkan fitur dan juga layanan bagi pemakai lebih lengkap berbanding dengan perusahaan lainnya.

Akhirnya Xiomi, Huawei, dan pelbagai merek lainnya juga turut menggunakan Google sebagai penyedia aplikasi perangkat lunak.

Kedua, melalui latihan kader, diperlukan wujudnya kader-kader yang memiliki kemampuan professional. Tidak saja latihan kader yang dikelola secara profesional disertai dengan instruktur yang juga professional. Tetapi pada saat yang sama, ada keahlian professional yang dicapai kader-kader HMI.

Ini sudah diingatkan Anas Urbaningrum menjelang Kongres XXI Yogyakarta 1997 bahwa kader-kader HMI harus ditempa untuk menguasai kemampuan professional dalam bidang keilmuannya masing-masing.

Tidak saja bagaimana terkait dengan kekuasaan semata (Sidratahta Mukhtar, 2005). Tetapi juga dalam kemahiran kerja yang memerlukan penguasaan teknis.

Ketiga, tata kelola organisasi yang memanfaatkan sarana digital. Satu pertanyaan terkait dengan laman web yang boleh jadi merupakan kesempatan pertama yang harus diwujudkan. Sehingga setiap pengurus dan instruktur mendapatkan pemutakhiran informasi dimana untuk mobilitas ke sekretariat terbatasi selama pagebluk covid-19.

Begitu pula keberadaan sekretariat yang dapat dibentuk menjadi co-working space. Sehingga peralatan yang memungkinkan untuk diadakan adalah jaringan internet yang berkecepatan tinggi sehingga dapat menyelesaikan agenda-agenda digitalisasi.

Satu hal lagi, tata kelola latihan kader dengan instrumen pengarsipan yang perlu dilengkapi. Termasuk bagaimana membentuk penomoran keanggotaan yang akan menjadi pangkalan data bagi kader. Walaupun ini tidak dilakukan secara nasional, bolehjadi HMI Cabang Gowa Raya melakukan prakarsa, sehingga kader mendapatkan nomor kader yang tertera dalam lembaran kader yang diterimanya.

Sekaligus, ini menjadi sebuah identitas tersendiri. Sehingga dapat dilakukan verifikasi jikalau ada seseorang yang menyatakan dirinya sebagai seroang kader HMI.

Terakhir, bolehjadi ini dapat menjadi utopis. Namun apapun itu, kehadiran BPL sudah menjadi langkah maju sehingga dapat memastikan bahwa di HMI Cabang Gowa Raya, tetap berada di rel yang tepat untuk mewujudkan tujuan HMI.

Satu kalimat yang menjadi rekomendasi saya, “buat apa yang boleh”, namun jangan pernah pesimis dengan menyatakan “apa boleh buat”.

Keterangan foto:

*Pelantikan Badan Pengelola Latihan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gowa Raya, Senin 26 April 2021 di Baruga Anging Mammiri, Makassar.

***

***