Pelemahan TVRI, Penyingkiran Helmy

Migrasi analog ke digital yang selalu dihambat kelompok modal kuat. Penyingkiran Helmi Yahya tak lepas dari operasi politik jelang 2024.

Sabtu, 25 Januari 2020 | 10:04 WIB
0
715
Pelemahan TVRI, Penyingkiran Helmy
Helmu Yahya (Foto: CNN Indonesia)

Sejarah pelemahan TVRI sudah ada sejak 1997 dilakukan oleh mafia kartel informatika namun saat itu Pak Harto masih menganggap kekuatan TVRI diperlukan. Di tahun 1997 pemain pemain industri pertelevisian semuanya masih dikendalikan cabang cabang bisnis Cendana.

Ketika 1998 kekuatan politik Cendana melemah, para pemain cabang ini menggunakan beberapa cara menguasai industri informatika dengan main sendiri. Di tahun 2002 mereka punya kekuatan politik dengan menggantung pada kekuatan kekuatan politik baru non Cendana yang bersemi di masa reformasi.

Tahun 2003-2005 bisa dikatakan TVRI dihabisi. Di masa pemerintahan Jokowi ada keinginan membangkitkan kembali TVRI sebagai pusat kekuatan informasi karena informasi adalah salah satu aset penting kekayaan bangsa. Namun hal ini dilemahkan oleh para pemain politik di luar Jokowi.

Satu satunya partai besar yang tak punya TV adalah PDIP yang masih percaya pada permainan politik darat. Bukan permainan politik udara yang sampai saat ini dikuasai partai partai di luar PDIP.

Berdirinya TVRI tak lepas dari program revolusi Bung Karno yang saat itu menjadikan Indonesia sebagai kekuatan mercusuar peradaban dunia juga alat propaganda politik di masa masa Takem 1963 (Takem = Tahun Tahun Kemenangan) yang dilanjutkan membereskan sisa imperialisme Inggris di Asia Tenggara.

Namun oleh Suharto TVRI dan RRI jadi alat Goebbels Informatika dan ini menjadikan TVRI sebagai sumber kekuatan politik dan itu menjadi sempurna di era Subrata tidak ada lagi strategi geopolitik tapi lebih menitikberatkan strategi kamtibmas.

Jelang akhir kekuasaannya kekayaan informatika dikuasai Cendana, itu merupakan strategi geopolitik Pak Harto agar dunia informasi kita tidak dikuasai agen agen berita Amerika yang sudah bermunculan di Malaysia dan Singapura.

Dari Analog ke Digital

Pelemahan TVRI dengan disingkirkannya Helmi Yahya sama kayak kasus analog ke digital.

Migrasi analog ke digital yang selalu dihambat kelompok modal kuat.

Pemodal kuat yang sudah ada di zona nyaman tidak rela berbagai kue iklan karena dengan siaran digital memungkinkan makin banyak channel siaran baru. Sampai persoalannya terkatung katung dah muncul youtube, para pemodal ini juga mulai sempoyongan dihajar youtube. Satu satunya peluang mereka ya maen politik, sayangnya Jokowi lebih percaya orang orang TV ketimbang orang media sosial akhirnya ring satu Istana termasuk BUMN dikuasai orang TV.

Kebangkitan TVRI sebagai nantinya pusat informatika dikuatirkan secara politik para mafia ini hajarlah TVRI dengan massif, kasar dan cenderung memalukan.

Tapi ya itulah politik dan helmi yahya terlalu lugu di soal ini tidak sesederhana bikin acara bola basket...
 
 Media informasi publik itu harusnya bukan center profit tapi memang liabilitas, acara liga Inggris itu adalah Killer Content yang jadi katalisator acara acara baru TVRI. Dan agenda populis TVRI.

Sebenarnya angka liga Inggris bisa ditutupi bila ada political will juga dari Presiden Jokowi serta Erick Tohir bantu TVRI bikin aja CSR untuk bantu TVRI melakukan agenda agenda penyiarannya.

Dan lagi angka untuk liga inggris bisa dimasukkan sebagai investasi jangka panjang TVRI, karena kelak ke depan TVRI bukan sebagai siaran frekuensi saja tapi juga agenda penetrasi ke internet yang lumayan hegemonik karena cabang cabang TVRI banyak di daerah daerah.

Penyingkiran Helmi Yahya tak lepas dari operasi politik jelang 2024.

***