Tentang Ledakan Lumpur di Oro-oro Kesongo Blora

Tanah tua itu sudah memberi pertanda. Dalam video, banyak orang berteriak dengan lafal-lafal yang menunjukkan "bahasa yang tidak disukai" atau minimal tak dikenal oleh pemilik tempat ini.

Jumat, 28 Agustus 2020 | 16:28 WIB
0
339
Tentang Ledakan Lumpur di Oro-oro Kesongo Blora
Semburan lumpur Blora menenggalamkan 9 kerbau (Foto: tribunnews.com)

Dari laman Kang Pepih Nugraha, saya melihat cuplikan video pendek tentang ledakan lumpur di Blora. Sependek itu ceritanya buat orang lain. Tapi buat saya ini terkait kisah panjang pribadi saya di situs ini. Membuka memori lama, nyaris 12 tahun lalu. Ketika saya menyusun buku legendaris yang membuat saya nyaris bangkrut: Ensiklopedi Blora.

Sedemikian besarnya pekerjaan ini, minimal jangkauan liputan dan kajiannya. Walau kalau boleh sedikit bangga, setidaknya saya punya sedikit sumbangan secara metodologis keilmupengetahuanan. Setidaknya, orang lain yang ingin membuat ensiklopedi daerah lain, tinggal copy paste saja metodenya. Apa saja yapa saja yang harus dicakup, yang bisa ditulis, apa saja yang harus difoto, dst dst-nya.

Sedemikian sulitnya kerja ini, sehingga lebih dari sepuluh tahun buku ini terbit. Saya menemukan tak ada yang happy dengan karya besar ini. Ya penulis, ya tim kerja, ya penerbit, ya percetakan, siapa pun yang terlibat di dalamnya. Singkat kata semua buntung!

Sedemikian sialnya, minimal dari sisi pendapatan. Kenapa investasi yang sedemikian besar, kerja yang sedemikian tulus atas nama idealisme ini-itu, kok berakhir dengan cerita sedih.

Sedemikian frustasinya hingga salah seorang kawan menemui paranormal sepuh yang punya cukup pengaruh dan bisa dipercaya. Saya sendiri, sebagaimana biasa memilih tepekur dan semeleh! Daripada musti selalu bertanya-tanya kenapa?

Dari beberapa jawaban para pinisepuh lokal berbeda yang ditemui, memberikan jawaban yang relatif sama. Bahwa semua terkait dengan situs Oro-oro Kesongo, sebuah tempat yang letaknya termasuk Kawasan Pemangku Hutan (KPH) Kesongo di Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora.

Disebut oro-oro karena pada dasarnya adalah daerah terbuka, yang berlumpur. Bukan lumpur biasa tentu saja, karena mengandung unsur-unsur gas yang sangat beracun. Yang tak berhenti meletup, walau sangat kecil. Menunjukkan bahwa bumi juga berjantung, ia terus berdegup. Singkat kata, berbeda dengan tanah wingit lainnya: Oro-oro Kesongo adalah apa yang disebut Pramudya Ananta Toer sebagai bumi manusia. Bumi itu hidup sebagaimana manusia...

Secara ekologis, Oro-Oro Kesongo adalah rawa-rawa lahan basah. Yang konon memiliki keunikan khusus sebagai tempat persinggahan burung-burung migran dari daerah sub-tropis ketika mereka ulang-aling ke utara dan selatan. Bermigrasi komuter ketika musim dingin tiba dan pindah ke daerah yang lebih hangat. Di sini mereka beristirahat, cari makan dan minum air.

Banyak sekali burung-burung langka yang hanya ditemui di daerah Utara, seperti China dan Jepang pada musim-musim tertentu dapat ditemui di daerah ini. Beberapa berhasil saya dokumentasikan.

Dalam konteks inilah, kenapa kawasan seluas 119,1 hektar ini dimasukkan kawasan milik Perhutani, barangkali dianggap sebagai kawasan konservasi. Walau lucu karena betul-betul tak ada satu-pun pohon besar di dalamnya. Hanya rumput, dan pada beberapa rawa terdapat tanaman air...

Minimal ada dua alasan yang saya tangkap. Pertama, tim kami dianggap tidak 'kulanuwun" dulu ketika akan menyusun buku ini. Kedua, saya sebagai penulis dianggap kurang memberi porsi tulisan yang cukup besar terhadap situs ini! Padahal sependek yang saya lakukan bahkan saya telah menuliskannya setiap sudut dari kawasan ini. Tapi tentu hal-hal yang sifatnya wadag dan terlihat belaka.  Apa pasal?

Bagi orang Jawa, menurut kepercayaan Kejawen. Oro-oro Kesongo adalah bumi Jawa paling tua, tanah yang dianggap tempat Aji Saka moksa dan berdiam diri. Sebagaimana kita tahu, Aji Saka minimal kita tahu sebagai pencipta huruf Jawa yang tidak sekedar legendaris, kaya makna, namun sekaligus sangat mistis tersebut.

Kalimat hanacaraka/ datasawala/padajanya/ magabathanga. Adalah rangkaian patah huruf, yang sangat filosofis yang menggambarkan betapa fananya hidup di dunia. Bahwa sejaya-jayanya hidup manusia, pasti ujungnya adalah kematian. Apa yang dalam larik terakhir secara agak sarkas disebut magabathanga. Dadi bathang, menjadi bangkai.

Dalam keseharian Oro-oro Kesongo adalah bumi yang sangat tenang, kalau pun ada letupan-letupan kecil sangat ritmik dan menimbulkan kedamaian. Berbeda dibandingkan dengan "saudara"-nya Bleduk Kuwu di Purwodadi yang cenderung meledak-ledak dan berakhir sebagai obyek wisata geologis itu. Di Oro-oro Kesongo, hanya sedikit orang mau dan "bisa" masuk. Di siang hari sangat terik dan panas, sebaliknya kalau malam hari sangat dingin, mistis, dan angin yang berubah wajah.

Di salah satu sudutnya terdapat kandang kerbau komunal, yang berisi banyak kerbau milik banyak orang. Di siang hari, kerbau-kerbau tersebut senang berkubang, di beberapa rawa. Bercengkerama dengan banyak jenis burung yang mampir di rawa tersebut. Konon terdapat satu titik dimana burung dan kerbau tersebut tak mau mendekat. Karena bila menuju arah sana, tak lama kemudian pasti ambruk dan mati.

Dalam beberapa titik-titik di pusat letupan lumpur, banyak bekas bakaran dupa dan menyan. Tentu dengan taburan kembang tujuh rupa. Kononnya lagi, hanya sedikit orang yang berani "meminta keingina"-nya di sini. Orang biasa pasti jeri, artinya pasti orang yang benar-benar kuat secara "spiritual" saja yang berani mampir.

Saya sih melihatnya, secara geologis saja. Untuk mencapai titik pusat "ritual", dari pohon terakhir kita harus berjalan sekira 1 km. Mana ada orang yang mau tengah malam, duduk tepekur di tengah padang dengan hantaman angin yang bisa berubah-ubah besarannya itu. Itu untuk ukuran orang biasa dan normal. Bagi mereka yang bisa melihat, konon, lebih mengerikan lagi.

Tentu karena dianggap siti sepuh, tanah yang sangat tua. Tentu penampakan secara spiritual akan lain. Yang kata orang setempat dibahasakan sebagai "isa mlebu, ora isa bali", bisa masuk tak bisa pulang. Dan ketika ledakan itu terjadi, apa yang sesungguhnya terjadi dan akan terjadi?

Bagi orang tambang, tentu ini adalah fenomena geologis belaka. Yang dalam kurun waktu tertentu akan berulang. Ledakan yang terakhir terjadi pada tahun 2013 lalu, menjelang naiknya Jokowi. Dan berulang 6 tahun kemudian. ketika untuk kesekian kali Jokowi mengalami tekanan yang paling hebat namun tak tampak. Saya bisa melihatnya, entah orang lain....

Ledakan itu memang tidak menimbulkan korban manusia, hanya beberapa yang keracunan gas. Tapi tetap meminta tumbal sembilan ekor kerbau. Jumlah dan angka 9 ini juga aneh, menurut saya. Sesuai dengan nama toponim tempat ini. Sembilan adalah angka tertinggi dalam "hitungan spiritual dalam kultur apapun". Sesuatu yang untuk ke sekian kalinya, saya terlambat menyadarinya.

Saya hanya teringat betapa "bandel"-nya saya sepuluhan tahun yang lalu. Jeprat-jepret sana-sini. Unylak-unyul injak ini itu. Merasa sebagai bagian modern. Tanpa kulanuwun, tanpa ba bi bu. Hanya karena saya selalu percaya, diri saya ini sebagaimana orang-orang selalu bilang "dhemit ora dulit, setan ora doyan". Hantu takkan berani menyentuh, setan tidak akan doyan memakannya. Hal-hal yang selalu saya tabrak begitu saja, dalam banyak kali hidup saya....

Tanah tua itu sudah memberi pertanda. Entah untuk siapa. Dalam video ini, banyak orang-orang berteriak. Justru dengan lafal-lafal yang menunjukkan "bahasa yang tidak disukai" atau minimal tak dikenal oleh pemilik tempat ini. Menunjukkan jurang pemisah yang sedemikian lebar antara "penghuni lama" dengan "pemukim baru".

Mungkin orang akan menafikan, tapi saya sangat percaya terhadap pertanda alam sepert ini. Bukan apa-apa saya sudah merasakannya langsung tulah, sepata, atau pamali dari tanah tua ini. Hingga hari ini....

Bila saya ditanya fenomena apakah ini? Saya akan berpikir positif dan menyampaikan kepada publik: semoga tanda bahwa pageblug segera berlalu.

Selebihnya biarlah jadi rahasia saya saja....

***