Asal Muasal Kompas [34] Tahun Baruan di Kompas

Ketika Kompas mendirikan usaha-usaha baru yang notabene harus bersaing dengan produk lain, barulah mereka sadar perlunya sikap “menjual” itu. Apalagi ketika oplah Kompas stagnan selama beberapa tahun.

Minggu, 1 Agustus 2021 | 08:17 WIB
0
180
Asal Muasal Kompas [34] Tahun Baruan di Kompas
Ilustrasi Harian Kompas (Foto: Motorplus.com)

Berbagai kisah di bawah ini saya tampilkan untuk memberikan gambaran, betapa “kebesaran” yang disandang Kompas saat ini merupakan kumpulan pengorbanan, kreativitas, dan kerja total banyak karyawannya yang kini rata-rata sudah pensiun atau bahkan tiada lagi. Kompas ibarat bangunan yang dibangun bata demi bata, diukir satu per satu, terkadang mau roboh yang kemudian ditegakkan lagi, sebelum akhirnya menjadi lembaga prestisius seperti sekarang.

Dalam perjalanan dari awal hingga sekitar 40 tahun berjalan,  hampir selalu ada saja karyawan termasuk wartawan yang bekerja total bahkan menjurus ke “gila kerja” atau workaholic.  Dan ini terdapat di hampir semua unit kerja, apalagi pada masa awal terbit.

Di Redaksi umpamanya, tercatat nama Valens Goa Doy (alm). Ketika ia menjabat sebagai Redaktur Daerah (1985-1987), seusai menurunkan berita pada malam hari, ia langsung membuat perencanaan liputan untuk keesokan harinya. Pada zamannya, para koresponden gerah karena lewat tengah malam ada saja telepon dari Valens yang memberikan pekerjaan untuk esok hari.

Pagi sekitar pukul 04.00 ia pulang ke Depok, sekitar 30 kilometer sebelah selatan Jakarta mengendarai mobil. Dalam perjalanan karena mengantuk, seringkali ia memarkir mobilnya di pinggir jalan dan tidur. Beberapa kali mobil jemputan karyawan dari arah Depok ke kantor pagi hari sekitar pukul 07.00 memergokinya kemudian berhenti di seberang jalan dan membangunkannya. Valens pun bangun dan memutar mobilnya, balik ke kantor! Ini dilakukan walau sudah beranak-istri.

Adalah Laksono (almarhum), mahasiswa yang dropout dari Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Res Publika (kini Universitas Trisakti). Ketika percetakan dalam persiapan, sekitar tahun 1971-72, ia diperbantukan di toko buku Gramedia. Dari pagi hingga toko tutup ia membaca buku-buku di tempat kerjanya sambil melayani orang yang mencari buku. Bisa dikatakan hampir semua buku yang dijual di toko itu dibaca habis oleh Laksono sehingga ia hafal judul maupun isi buku yang dijual.

Pelayan toko buku tinggal memanggil dia untuk melayani calon pembeli yang tidak tahu judul buku yang hendak dibelinya. Ketika ia bertugas di percetakan, pernah tiga hari tidak pulang karena keasyikan memperbaiki mesin. Pernah juga ia diusung ke rumah sakit karena HB-nya tinggal enam.

Kinerja yang total tanpa kenal waktu dan pamrih, pada tahun-tahun awal memang mewarnai lingkungan Kompas. Kemungkinan karena mayoritas karyawannya adalah bujangan sehingga tidak ada tuntutan kebutuhan finansial maupun waktu untuk keluarganya. Dan dalam hal ini perusahaan memberikan kesejahteraan yang setimpal. Walaupun tidak diberikan secara sistematis, namun ada saja alasan untuk membagikan keuntungan kepada karyawan.

Pada awal tahun 1970-an, selain gaji  karyawan mendapatkan tunjangan beras, susu, payung, jas hujan, jam tangan, dan sebagainya seolah tak ada habisnya. Semua tunjangan itu ada maknanya. Dengan pembagian beras dan susu, tidak ada alasan bagi karyawan untuk membolos atau mencari pekerjaan sampingan; dengan payung atau jas hujan, tidak alasan datang terlambat atau tidak bekerja karena hujan; dengan jam tangan tak ada alasan untuk datang terlambat.

Kesempatan bertemu antarkeluarga di Harian Kompas yang secara resmi diselenggarakan perusahaan, jarang terjadi.  Pada era tahun 1970 hingga 1980an, pernah secara rutin diadakan Malam Tahun Baruan, itu pun terbatas pada kalangan redaksi dan pucuk-pucuk pimpinan di bagian nonredaksi. Setelah itu mengendur dan berganti dengan acara sendiri-sendiri atau dengan kelompoknya.

Perusahaan sendiri tidak pernah secara resmi menyelenggarakan acara tahun baruan. Awalnya bagian redaksi, wartawan khususnya pada malam tahun baru berdatangan ke rumah Pak Jakob, ngobrol-ngobrol sambil makan malam menanti datangnya tahun yang baru.  

Acara ini tanpa pemberitahuan resmi, hanya mulut ke mulut saja, tidak ada panitianya. Di redaksi hanya ada tempelan pemberitahuan di papan tulis, misalnya: Jangan lupa tahun baruan di rumah Pak JO! Baik Pak Jakob maupun perusahaan, tidak pernah membuat undangan. Lama kelamaan jumlah yang hadir makin banyak, tidak saja dari nonredaksi tetapi juga dari suku usaha yang lain bersama keluarga, paling tidak istrinya.

Membawa-bawa istri dalam kegiatan kantor sejak awal Kompas berdiri tidak pernah ada ceritanya. “Konco wingking” baru pergi bersama kalau ada undangan perkawinan, kematian, dan tahun baruan!

Asalmuasalnya, sejak awal tidak ada pimpinan Kompas, baik Pak Jakob maupun Pak Ojong, yang melibatkan istrinya dalam kegiatan perusahaan. Jauh beda dengan istri pegawai negeri atau BUMN  yang bahkan mempunyai wadah untuk bersosialisasi antarmereka. Bahkan ditetapkan, istri pejabat tertinggi otomatis memimpin organisasi tersebut.

Pernah suatu saat ada rekan yang berusaha membentuk semacam paguyuban para istri karyawan Kompas namun usul itu tidak mendapat respons dan mati dalam kandungan pemikiran saja. Bagaimanapun budaya mengikuti langkah pimpinan masih begitu kuat. Akhirnya yang terbentuk hanya organisasi ibu-ibu di kompleks-kompleks perumahan Kompas Gramedia, Ciputat  dan Puri Media misalnya. Itu pun tidak eksklusif istri karyawan Kompas Gramedia tetapi  termasuk penghuni non KG serta masyarakat sekitar.

Bagaimana bentuk perayaan tahun baruannya?

Ya standar KG saja. Tamu-tamu berdatangan sejak pukul 22.00, bersalaman dengan tuan rumah dan tamu-tamu yang lain, ngobrol sana-sini sambil makan yang disediakan prasmanan atau makan cemilan. Apa yang diobrolkan? Awalnya masalah keluarga masing-masing (bagi yang sudah berkeluarga), ujung-ujungnya balik ke masalah pekerjaan kayak di kantor saja.

Baca Juga: Jakob Oetama, Forum Indonesia Muda dan Zaman yang Berubah

Menjelang pergantian tahun semua berdiri, berdoa bersama, kemudian satu per satu pamit dengan alasan meninggalka anak kecil, mau meliput suasana tahun baru, dan apa saja. Dalam setengah jam rumah itu pun sudah ditinggalkan semua tamunya.

Awalnya acara seperti ini menyenangkan namun lama-kelamaan membosankan, apalagi bagi para bujangan (khususnya bagi wartawan baru) . Suasana menyambut tahun baru sungguh “anyep”, tempat pesta tanpa hiasan, tanpa musik hingga kalau bicara  harus berbisik-bisik, tamunya pun orang-orang berjabatan setingkat kepala bagian kecuali wartawan yang semua bisa datang. Bagi kami kaum bujangan, acara itu justru menyiksa, bayangin menunggu tahun baru kok kayak di pelayatan!

Beberapa tahun pertama acara selalu diadakan di rumah Pak Jakob baik di Pejompongan atau kemudian di Kebayoran. Kemudian hari bergantian dengan rumah Mas Swantoro di Cipinang Muara.  Di Cipinang ini agak bebas karena tuan rumahnya juga bersikap bebas banget sehingga membawa tamunya ikut-ikutan “kurang ajar”.

Namun seiring berjalannya waktu, acara tahun baruan itu kurang peminat. Mula-mula para tamu terutama wartawan datang sekedar setor muka, mereka datang sepuluh menit sebelum pergantian tahun, bersalaman dan kemudian kabur.  Acara di luar memang jauh lebih menarik. Lama kelamaan tuan rumah pun merasa tidak ada gunanya menyelenggarakan pesta itu, dan akhirnya acara tahun baruan bersama itu pun tak terdengar kabarnya, paling tidak hingga saya pensiun tahun 2004.

Ketidakterlibatan para istri/suami karyawan dalam perusahaan memang tidak terlepas dari asalmuasal Kompas itu sendiri. Para perintis yang kebanyakan berasal dari seminari dan umumnya kurang bersosialisasi, membuat peran para istrinya tidak terlalu diperhitungkan. Atau jika istri seorang aktivis maka ia mencari kegiatan di luar Kompas.  Sikap para perintis itu pun diikuti para yunior yang kala itu umumnya datang dari lingkungan yang tak jauh beda\

Sikap dan sifat pendiam dan lebih suka berkelompok pada teman sendiri itu nampak tatkala kita menghadiri suatu resepsi atau mengikuti seminar di luar Kompas. Sosialisasi yang kurang membuat para pimpinan Kompas saat itu selalu mengelompokkan diri tidak berbaur dengan orang lain. Kebanyakan mereka didatangi dan bukan mendatangi tamu atau peserta yang lain.

Kebesaran nama Kompas memang membuat  mereka cenderung didatangi. Walaupun bagian iklan memerlukan para pemasang namun karena saat itu halaman terbatas dan ruang iklan jadi rebutan maka para pemasanglah yang memerlukan datang. Para agen apalagi, nasib jatahnya ditentukan orang Kompas sehingga mereka harus “munduk-munduk” mendatanginya. Itu dulu!.

Memang ada satu-dua person di Kompas yang “blater” mendatangi relasi atau rekan-rekan di luar Kompas dalam suaru resepsi, tapi itu bisa dipastikan bukan berasal dari “kelompok sepatu sandal” (istilah bagi para eks seminari yang biasanya selalu bersepatu sandal). Celakanya, person itu menjadi nampak aneh di lingkungan Kompas,  dinilai sok menonjolkan diri, pamer, dan sebagainya.

Perlunya kiat “menjual” produk sebenarnya sudah mereka sadari melalui berbagai seminar yang mereka ikuti namun budaya asalmuasalnya jauh lebih kuat, apalagi tanpa harus menggunakan kiat “menjual”, para pemasang iklan sudah antre untuk mengantarkan uang, para agen memperebutkan jatah koran.

Bahkan ketika Kompas menerbitkan tabloid olahraga BOLA pada tahun 1984, bagian pemasaran tidak perlu susah-susah. Awalnya tabloid itu dijadikan satu dengan Kompas sehingga oplahnya langsung besar (sama dengan Kompas), mau tidak mau agen ikut mengedarkan.

Ketika akhirnya pada tahun 1988 tabloid BOLA dilepas sebagai tabloid yang dijual sendiri, oplahnya sudah besar. Apalagi ada “ancaman” pada agen, kalau tidak mengambil /menjual BOLA bisa berpengaruh pada pemberian jatah Kompas. Bagi para agen, Harian Kompas yang menjadi produk prima, tentu saja harus dipertahankan. Nah, perlukah sikap “menjual”?

Ketika Kompas mendirikan usaha-usaha baru yang notabene harus bersaing dengan produk lain, barulah mereka sadar perlunya sikap “menjual” itu. Apalagi ketika oplah Kompas stagnan selama beberapa tahun, dan konsultan yang datang bilang, Kompas harus mau “menjual” dirinya agar tidak dilupakan pembaca dan calon pembacanya.

Barulah kemudian muncul billboard “Kompas kata hati, mata hati”.  Dan itu pun berjalan setelah melalui perdebatan panjang antara kelompok perintis dan kelompok pembaharu ,  karyawan baru yang direkrut dengan benar, bukan “jawilan”.

Dunia sudah berubah, kini cerita di atas mungkin sudah menjadi barang aneh bagi Anda. Tetapi itulah asalmuasal Kompas yang sebenarnya.

***

Tulisan sebelumnya: Asal Muasal Kompas [33] Kasus Sriwijaya Post