Dari Pinggiran, PDIP dan Jokowi Wujudkan Visi Membangun Peradaban

Rabu, 9 Januari 2019 | 12:01 WIB
0
1397
Dari Pinggiran, PDIP dan Jokowi  Wujudkan Visi Membangun Peradaban
PLBN, batas antar negara menjadi salah satu fokus membangun Indonesia dari pinggiran

Bangsa Indonesia hari ini terbentuk oleh warisan peradaban dunia di masa lalu, sejarah membuktikan berbagai pengaruh peradaban dari Cina, India, Eropa, Timur Tengah telah membingkai Indonesia seperti hari ini.

Saya tertegun saat melihat sebuah video ceramah di media sosial yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia diperjuangkan oleh satu kelompok agama dan bertanya-tanya apakah penceramah tersebut memahami proses terbentuknya NKRI dengan baik.

Saya jadi teringat ungkapan terkenal dari Proklamator RI, Ir. Soekarno yaitu "Jasmerah", kepanjangan dari "Jangan Sekali-Sekali Meninggalkan Sejarah".

Para pendiri negara ini memahami betul budaya dan sejarah Indonesia sebagai bangsa, tak heran saat berkonsensus memproklamirkan NKRI mereka telah menoropong jauh tentang masa depan negara ini. Pertimbangan mereka untuk mendirikan NKRI dan menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal adalah puncak perenungan kolektif yang panjang.

Pancasila adalah sebuah gagasan indah, bermakna dalam dari ekstrasi gagasan, sejarah dan harapan Indonesia di masa depan, istilah akademisnya ideologi bangsa Indonesia.

Mengapa saya menuangkan sedikit tentang esensi Pancasila dan ungkapan Jasmerah di awal tulisan ? Saat ini muncul arus deras di tengah masyarakat tentang gagasan untuk menyeragamkan budaya, politik, sosial dan ekonomi dengan satu asas lain, sudah pasti ide tersebut bertolak belakang dengan gagasan mulia para pendiri bangsa ini yang ingin "Membangun Peradaban Indonesia Berlandaskan Pancasila".

Peradaban, ya peradaban sebuah istilah tak umum, barangkali hanya familier dikalangan ilmuwan sosial, padahal istilah ini bermakna dalam. Seperti kita tahu, kebudayaan dunia hari ini terbentuk oleh peradaban - peradaban besar, mulai dari Babylonia, Mesir, Persia, Yunani, Romawi, Islam, Cina, India dan lain - lainnya. Peradaban dalam pengertian sempit dapat diartikan cara manusia mengembangkan kehidupan di segala aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Kesadaran tentang peradaban dan mempertahankannya agar tak punah perlu dimiliki oleh segenap elemen bangsa Indonesia agar kita mengetahui sipaa diri kita dari mana berasal sehingga tak kehilangan jati diri dan identitas sebagai sebuah bangsa. Indonesia adalah bangsa besar, terbangun oleh peradaban lokal dari berbagai suku bangsa, budaya, agama yang ada di sini jauh sebelum NKRI berdiri.

Visi Moncong Putih

Awalnya saya tidak menangkap maksud pernyataan dari Sekjen PDIP, Hasto Kristiyo saat bertemu di kantor DPP PDIP Jalan P. Diponegoro, Jakarta tentang visi PDIP "Membangun Peradaban Indonesia". Apa maksudnya? Setelah merenungkan beberapa saat, membuka kembali lembar-lembar sejarah Indonesia dan mengingat kembali gagasan-gagasan Bung Karno saya mengerti.

Dalam hati saya, inilah gagasan yang harus di dorong ke tengah - tengah pusaran arus pikiran yang ingin mendorong asas negara ini ke bentuk ideologi lain yang seragam.

Memang tak mudah bagi PDIP untuk membumikan gagasan ini, adu gagasaan, ide dari kelompok-kelompok masyarakat lain akan terus mewarnai, namun saya yakin partai yang diperjuangkan lewat darah dan air mata ini mampu memperjuangkannya.

Di tengah perilaku pragmatis, asal bisa berkuasa, asal cepat kaya, visi gagasan "Membangun Peradaban Indonesia" ibarat sebuah khayalan.

Apakah demikian ?

Salah satu kebijakan Presiden Jokowi Widodo yang tertuang dalam Nawacita, yaitu membangun dari daerah pinggiran sesungguhnya adalah salah satu wujud visi PDIP "Membangun Peradaban". Bagaimana mungkin berbicara visi, bila rakyat di daerah untuk keluar dari tempat domisilinya harus menempuh seharian perjalanan. Bisa jadi kegiatan itu hanya untuk urusan sepele, seperti memperpanjang SIM, atau membeli kebutuhan sehari - hari.

Lepas dari teori - teori ekonomi tentang prosentase antara supply infrastruktur dan kebutuhan masyarakat, Indonesia memang harus dibangun kehidupan masyarakatnya di berbagai sektor kehidupan secara konsisten dan kontinyu untuk mewujudkan cita - cita NKRI sebagai bangsa adil dan makmur.

Ibarat sebuah mainan kartu puzzle, dalam tahun kelima, Presiden Joko Widodo sukses menyatukan kartu - kartu "puzzle" sehingga samar - samar membentuk gambar peradaban Indonesia di masa depan lewat program - program infrastruktur listrik, transportasi, pertanian, pariwisata, tehnologi informasi, industri.

Saya yakin belum banyak rakyat Indonesia melihat gambaran ini, karena tertutupi oleh pemikiran pragmatis yaitu "apa yang bisa dimakan hari ini" sehingga melupakan anak - anak, cucu-cucu kita akan apa ?

Saya yakin PDIP juga berpikiran sama, membangun peradaban Indonesia tak boleh meninggalkan kebutuhan pokok rakyat, Jokowi sebagai punggawa tertinggi negara ini pun tak melupakannya. Berbagai instrumen kebijakan sudah digelontorkan untuk sebagai penyangga, seperti bidang kesehatan (Kartu Indonesia Sehat), pendidikan (Kartu Indonesia Pintar), warga kurang mampu (Program Keluarga Harapan), pembangunan kawasan pedesaan (Program Dana Desa), subsidi pasar (Kebijakan Satu Harga Bahan Pokok dan BBM).

Pendapat rakyat tidak makan infrastruktur tidak ada yang salah, budaya makan Indonesia adalah makan nasi, dan harus setiap hari terhidang di meja makan, namun tak ada salahnya bila melihat sedikit ke depan. Penduduk Indonesia lebih 200 juta jiwa, untuk menyediakan kebutuhan pangan nasi mau tak mau pemerintah harus menempuh kebijakan ekstrim untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Tidak mungkin kita membangun peradaban bila rakyat lapar, jangankan untuk berpikir, bekerja pun tak sanggup bila perut keroncongan. Infrastruktur pertanian, transportasi dan ketersambungan antar daerah (konektifitas) adalah sebuah rangkaian membangun peradaban Indonesia modern sekaligus membangun ketahanan pangan nasional untuk hari ini dan esok.

Tak urusan perut, rakyat Indonesia juga butuh pekerjaan agar terus bergairah membangun peradaban Indonesia, negara butuh pendapatan untuk pembiayaannya, lalu apa yang sudah dilakukannya. Satu lagi kartu puzzle ditemukan untuk menjawabnya, kebijakan membangun 10 destinasi wisata Internasional bisa dimaknai upaya meningkatkan pendapatan negara dan memberdayakan masyarakat lokal yang saat ini terpinggirkan. Kebijakan ini menyempurnakan kebijakan pembangunan infrastruktur lainnya.

Apa artinya semua itu bila rakyat di daerah tak mempunyai daya beli yang layak ?

Sesungguhnya masih banyak kartu - kartu puzzle lain yang bisa memberikan gambaran visi "Membangun Peradaban" , seperti pengambilalihan Sumber Daya Alam (SDA) dikuasai asing seperti Blok Rokan dan Pembelian Saham Freeport 51% yang bisa mengembalikan kedaulatan SDA nasional di tangan bangsa sendiri.

Saya setuju, mental kita bangsa Indonesia perlu ditransformasi untuk menangkap gagasan kemajuan sehingga tak berpikir seperti "katak dalam tempurung". Kerja, Kerja, Kerja, Revolusi Mental, Nawacita adalah gagasan yang harus terus dibenamkan untuk "Membangun Peradaban Indonesia Modern.

Salut, PDIP dan Jokowi mampu mewujudkan visi Membangun Peradaban dari pinggiran, saat ini orang banyak meragukannya tapi tak sedikit juga yang merasakan manfaatnya untuk Indonesia hari ini dan esok. 

***