Pandemik di Era Media Sosial
Setelah virus corona menjadi pandemik, skenario terburuk apa yang mungkin? Seberapa banyak populasi dunia akan terjangkit virus itu? Berapa banyak pula kematian yang akan terjadi?
New York Times 14 Maret 2020 menurunkan tulisan yang cukup menyentak (Worst-Case Estimate For Coronavirus Deaths). Sebanyak 50 ahli pandemik dari berbagai universitas dan negara berkumpul membuat prediksi. Berdasarkan data yang ada, kecepatan penyebarannya, dengan asumsi tak ada perubahan penangan yang berarti, sebuah model prediksi dikembangkan.
Untuk penduduk Amerika Serikat, skenario terburuk: sebanyak 160 juta-214 juta penduduknya akan terkena virus corona. Sekitar 200 ribu - 1.7 juta penduduk Amerika Seikat akan mati.
Itu tak lain, 50-70 persen dari seluruh penduduk Amerika Serikat akan terkena virus. Sekitar 1 persen yang terkena virus akan mati.
Jika untuk negara yang sistem kesehatannya bagus saja seperti Amerika Serikat akan terkena sebanyak itu, bagaimana dengan penduduk dunia lain?
Katakanlah prosentasenya sama. Karena penduduk dunia kini 7 milyar, berarti inilah skenario terburuk yang mungkin terjadi. Sekitar 3.5 - 5 milyar manusia akan terkena virus. Satu persen dari itu, sekitar 35 juta- 50 juta penduduk dunia akan mati.
Ha??? 50 penduduk dunia pada waktunya akan mati terkena virus corona???
Jumlah kematian karena virus corona akan lebih besar dibandinngkan korban perang dunia pertama yang hanya 40 juta. Tapi jumlah korban virus corona masih kalah dibanding pandemik lain dalam sejarah.
Pandemik Flu di tahun 1918 memakan korban yang sama banyaknya: 20-60 juta manusia. Bubanic Pandemik Bubonic Plague di tahun 1346-1353 memakan korban 75-200 juta manusia. Ini momen yang disebut Black Death.
Astaga! Ternyata virus pandemik lebih membunuh manusia dibanding grup teroris paling bahaya sekalipun. Bukan bom nuklir yang daya ledak maha dahsyat, tapi virus kecil tak kasat mata yang lebih membunuh kita.
Tapi benarkah puncak dari virus corona akan memakan nyawa hingga 50 juta manusia? Kapankah itu terjadi?
Prediksi di atas dibuat berdasarkan model jika penanganan virus corona tak banyak berubah dari saat ini. Yaitu: belum ditemukannya obat penyembuh yang signfikan. Kecepatan penyebarannya juga menambah jumlah total korban dua kali lipat setiap enam hari.
Mencegah penyebaran sementara yang dapat dilakukan hanyalah mengurangi pertemuan orang- orang di keramaian. Menutup sekolah. Menutup lapangan udara. Menyetop umroh. Membatalkan pertandingan sepak bola. Membersihkan tangan.
Di era virus corona, bahkan panggilan adzanpun disesuaikan. Muadzin di Kuwait dianjurkan dalam adzannya menghimbau itu: Sholatlah di rumahmu! Jangan dulu berkumpul di mesjid.
Dari sisi fatality rate (prosentase kematian), virus corona memang masih kalah jauh. Prosentase kematian penderita virus corona dibandingkan penderitanya hanya 1-2 persen. Sementara fatality rate Flu Burung dan Ebola sekitar 50-60 persen. Mers sekitar 35 persen. Flu Spanish sekitar 10 persen.
Tapi kepanikan yang diciptakan oleh Virus Corona jauh lebih besar. Kepanikan itu ikut pula menjatuhkan harga saham. Diberitakan 10 orang terkaya di era panik virus corona kehilangan uang sekitar 1179 trilyun rupiah.
Inilah pandemik pertama di era maraknya media sosial. Hingga awal maret 2020, total info soal virus corona sebanyak 1.1 milyar kali. Sementara penyakit yang fatality ratenya lebih tinggi: berita HIV hanya 40 juta kali. Berita Mers hanya 23 juta kali. Berita SARS hanya 56 juta kali.
Melalui media sosial banyak info soal virus corona yang diragukan akurasinya. Tapi apa daya. Kecepatan penyebaran berita melalui media sosial jauh melampaui media konvensional yang akurasinya lebih terjaga. Banyak berita asal heboh dan asal sensasional melalui media sosia ikut menciptakan histeria massa itu.

Kaki saya gemetar merenungkannya. Tapi hati saya meyakini sebaliknya. Kecerdasan manusia segera menumpas virus corona sebelum ia mencapai puncak penyebarannya.
Kitapun menyaksikan begitu banyak prediksi para ahli yang tidak terjadi karena manusia sebagai satu species tak henti melahirkan keajaiban, yang tak terduga sebelumnya.
Maret 2020
***
Denny JA
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews