Wartawan Kok Baca Buku tentang Menulis?

Laporan Adinegoro sangat deskriptif, hidup, mengalir, dan terkadang puitis. Adinegoro mengajak kita bertamasya ke tempat-tempat yang dilalui dan disinggahinya.

Kamis, 26 Maret 2020 | 08:00 WIB
0
69
Wartawan Kok Baca Buku tentang Menulis?

“Usman, untuk apa Anda membeli buku tentang menulis? Bukankah Anda wartawan
senior?” begitu kira-kira tanya pemandu kami. Si pemandu yang saya lupa namanya, memandu dan menemani saya dan tiga wartawan dari Amerika, Rusia, dan Jepang, yang berkunjung ke Taiwan pada 2010.

Sang pemandu bekerja di Kementerian Informasi Taiwan. Si pemandu bertanya seperti itu ketika saya menunjukkan buku “Travel Writing” yang baru saya beli di toko buku di mal tempat kami bersantap siang. Saya menjawab sekenanya bahwa wartawan mestinya pembelajar seumur hidup karena jurnalisme dan media merupakan dunia yang terus berkembang.

Buku “Trevel Writing” itu terbitan Lonely Planet, penerbit buku-buku travel. Bila hendak bepergian ke luar negeri, saya biasanya membeli buku panduan wisata negara tujuan yang diterbitkan penerbit ini. Saya, misalnya, membeli buku “Netherland” ketika berwisata ke Belanda pada 2018. Saya juga membeli buku “New Zealand” saat berwisata ke Selandia Baru pada 2019. Pun, saya membeli buku “Sydney” sewaktu berwisata ke Sydney, Australia, pada 2015.

Buku “Travel Writing” ditulis Don George. Ia berpengalaman menulis laporan perjalanan. Satu pelajaran penting dari buku ini ialah ketika menulis laporan perjalanan harus deskriptif dan detail. Tentu saja bila menulis laporan perjalanan harus menyertakan foto-foto.

Saya merasa perlu membaca buku itu karena saya gemar menulis perjalanan atau wisata yang saya lakoni. Laporan perjalanan pertama yang saya tulis ialah tentang pengalaman saya dan keluarga berlayar dua hari dua malam bersama Kapal Pelni dari Pelabuhan Belawan ke Pelabuhan Tanjung Priok pada 1997.

Saya reporter Republika ketika itu. Saya ceritakan dalam tulisan berbagai fasilitas yang ada di kapal, mulai kafe, masjid, tempat ibadah untuk penumpang Kristiani, bioskop yang kalau tengah malam memutar film tanpa sensor, pertunjukan band, dll. Saya ceritakan pula bagaimana saya dan penumpang muslim memperingati Maulid Nabi di masjid kapal.

Saya membagi tulisan saya plus foto-foto dalam tiga laporan yang dimuat di satu halaman. Tulisan utama diberi judul ‘Pada Sebuah Kapal’, meminjam judul novel klasik NH Dini.

Laporan perjalanan saya juga pernah dimuat di Koran Tempo. Ketika itu, tahun 2007, saya mendapat tugas mengantarkan duit hasil sumbangan untuk Buyung “si manusia gerobak” di Limapuluh Kota, Sumbar.

Disebut manusia gerobak karena setiap hari ia menghela gerobak yang di dalamnya ada
ibunya yang berjualan sapu lidi keliling kampung. Dia menjadi nara sumber di program Kick Andy di Metro TV. Saya ketika itu menjabat Manager Current Affairs, departemen yang membawahi program talkshow. Simpati berupa sumbangan duit berdatangan melalui Kick Andy. Uang senilai Rp120 juta terkumpul.

Saya mendapatkan tugas mengantar duit sebanyak itu tunai untuk didepositokan di BRI. Bunga deposito itu dipakai untuk keperluan sehari-hari si manusia gerobak dan ibunya. Setelah menjalankan tugas, saya diajak kontributor Metro TV ke Lembah Harau, satu lokasi wisata alam di Payakumbuh. Wisata singkat ke Lembah Harau itu saya buat laporan perjalanan dan saya kirim ke Koran Tempo.

Laporan perjalanan saya ke Museum Mahathir Mohamad, Perdana Menteri Malaysia , di Langkawi, Malaysia, pada 2007, juga dimuat di Koran Tempo. Waktu itu saya ditugaskan Metro TV ke Malaysia. Tempat yang saya kunjungi selain Kuala Lumpur, adalah Langkawi, satu jam penerbangan
dari Kuala Lumpur. Di Langkawi saya mengunjungi Museum Mahathir Muhammad yang waktu itu sudah mantan perdana menteri. Museum itu menyimpan cindera mata yang diterima Mahathir dari para kepala negara lain.

Saya menulis cukup banyak laporan perjalanan ketika saya bekerja di Media Indonesia. Laporan perjalanan saya tulis terutama ketika saya bertugas meliput ke luar negeri. Saya pernah menulis laporan perjalanan saya naik balon udara di Cappadocia, Turki, pada 2012. Saya pernah
menulis laporan perjalanan tentang rumah komponis Wolfgang Amadeus Mozart yang dijadikan museum di Kota Salzburg, Austria, pada 2015.

Saya juga menulis laporan perjalanan saya terbang dengan helikopter mengitari Patung Liberty di New York, Amerika Serikat, pada 2016. Pun, saya menulis laporan perjalanan saya menelusuri toko-toko buku di Sydney, Australia, ketika saya berlibur ke sana bersama istri, pada 2015.

Indonesia memiliki wartawan hebat yang menulis laporan perjalanan. Namanya Adinegoro. Adinegoro dikenal sebagai wartawan pertama Indonesia. Namanya diabadikan untuk penghargaan di bidang jurnalistik setiap peringatan Hari Pers Nasional. Bukunya “Melawat ke Barat” yang pertama kali terbit pada 1926 ini, menurut saya, bisa menjadi ‘buku pelajaran’ menulis laporan perjalanan.

Saya mendapat buku ini pada peringatan Hari Pers Nasional di Padang, Sumatera Barat, pada 9 Februari 2018. Bagian-bagian awal buku ini saya baca di tepi 'Danau Di Bawah', Solok, Sumbar, sambil ngopi “sasetan.” Tak jauh dari sana, ada 'Danau di Atas.' Laporan perjalanan di buku ini awalnya merupakan tulisan berseri yang dimuat di Majalah Pandji Pustaka.

“Melawat ke Barat” berisi kisah perjalanan Adinegoro dengan kapal laut. Perjalanannya berawal di Pelabuhan Tanjung Priok menuju Eropa dan kembali lagi ke Tanah Air. Dia menyinggahi sejumlah kota di Tanah Air, seperti Medan dan Sabang. Ia juga menyinggahi Mesir di Afrika, dan sejumlah negara di Eropa, yakni Jerman, Turki, Belanda, Yunani. Ia menuliskan semua yang dialaminya baik di kapal yang mengarungi samudera maupun di kota atau negara yang disinggahinya.

Laporan Adinegoro sangat deskriptif, hidup, mengalir, dan terkadang puitis. Adinegoro mengajak kita bertamasya ke tempat-tempat yang dilalui dan disinggahinya. Kita seperti sedang belajar ilmu bumi dan sejarah ketika membacanya.

***