Rahasia yang Belum Terungkap, Kompasiana Nyaris Tinggal Nama

Kompasiana tinggal memetik hasilnya. Ia sudah menjadi entitas bisnis sendiri di lingkup Kompas-Gramedia. Ia sudah menjadi "gacoan" bagi perusahaan induk karena kekhasan yang dimilikinya.

Senin, 7 Oktober 2019 | 21:16 WIB
1
12548
Rahasia yang Belum Terungkap, Kompasiana Nyaris Tinggal Nama
Saya diwawancarai Mbak Ana Mustamin di MarajaTV (Foto: Tantri Sulastri)

Saya memenuhi undangan Mbak Ana Mustamin untuk sebuah wawancara Maraja TV, "program televisi personal" yang memproduksi mata acara #RuangBaca. Karena saya punya waktunya malam hari, ya malam-malam saya menuju Cibubur untuk tapping, pengambilan gambar dan suara. Mbak Ana sendiri yang berlaku sebagai host acara literasi tersebut. Ya, saya mau hadir karena sesuai bidang saya.

Tapi sejujurnya, saya tidak tahu apa yang akan dibahas di dalam acara tersebut. Tahunya pada saat saya dikasih mike mungil yang direkatkan di bawah kerah baju, tanpa polesan "touch up" di wajah biar wajah tidak seperti raja minyak (berminyak maksudnya), tiba-tiba mbak Ana bilang, "Tentang Kompasiana, ya!"

Oalah... 

Make sense sih, ga perlu didebat macam-macam. Saya jawab, "Siyaappp..."

Bagaimanapun, orang tetap saja melekatkan nama saya dengan Kompasiana, meski saya sudah undur diri hampir 3 tahun lalu dari Harian Kompas, yang sekaligus juga mundur total dari Kompasiana. Toh masih mengingat dengan baik blog sosial yang saya dirikan itu.

Pun isi buku "Kompasiana, Etalase Warga Biasa" (diterbitkan Gramedia Pustaka Utama) masih lekat dalam ingatan. Jadi saya okay-okay saja jika yang ingin dibahas tentang Kompasiana.

Sudah banyak yang saya bicarakan perihal Kompasiana. Bahkan di buku yang saya tulis itu, saya membuka bahasan dengan sebuah "drama" yang terjadi saat Rapat Reboan Harian Kompas, di mana di dalam rapat itu saya sedang menjadi "pesakitan", tersebab adanya konten Kompasiana yang bisa dianggap mencemarkan nama baik Harian Kompas. Di situlah sang editor muda nyeletuk, "Tutup saja Kompasiana!"

Sejujurnya, buku itu pun ditolak oleh Penerbit Buku Kompas (PBK) karena mungkin agak-agak berkata jujur tentang hubungan Kompasiana dan Kompas, dua tubuh yang menyatu dalam satu jiwa; jiwa saya.

Penilai layak diterbitkan-tidaknya sebuah buku di PBK harus melalui para boss di Harian Kompas yang sudah berada minimal di level redaktur pelaksana. Saya tahu tidak bakal diloloskan (padahal dua buku saya sebelumnya lolos diterbitkan PBK, yaitu "Menulis Sosok" dan "Citizen Journalism"), tapi mencoba apa salahnya. 

Langit tidak berarti runtuh seketika ketika naskah buku tentang Kompasiana ditolak PBK, toh masih ada penerbit lain. Masih satu atap di Kompas-Gramedia, yaitu GPU alias Gramedia Pustaka Utama. Lolos....

Nah, di acara talkshow ringan dengan Mbak Ana itu saya mengungkapkan hal yang sebelumnya belum pernah saya ungkapkan; Kompasiana nyaris diberangus! Nyaris dimatikan!

Diberangus? Maksudnya dimatikan, begitu? Iya, dimatikan! Dibredel!

Gila! Sebuah media yang menampung ratusan ribu penulis warga mau diberangus begitu saja, apa salahnya!?

Inilah yang kemudian saya ceritakan blak-blakan kepada Mbak Ana. lewat program #RuangBaca itu. Anda semua bisa tahu jawaban dan musabab mengapa Kompasiana nyaris dibikin tidak bernyawa itu hanya oleh sebuah puisi dengan mengikuti video yang menayangkan tanya-jawab itu.

Tetapi satu hal yang ingin saya tekankan adalah, bahwa Anda, khususnya para Kompasianer, harus mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap Kompasiana. Sebab, saya katakan dalam wawancara, membangun Kompasiana itu dilakukan dengan"berdarah-darah". 

Ya, mungkin terlalu lebay istilahnya. Tetapi intinya, membangun Kompasiana dan membuatnya tetap hidup di tengah induknya yang tidak meyakini keniscayaan hadirnya media baru, bukan pekerjaan mudah.

Sekarang Kompasiana berada di tangan Nurulloh, anak muda (sebenarnya ga muda-muda banget sih) yang sangat paham luar-dalam tentang Kompasiana. Anak ini yang sering saya reweli, teriaki, ketika ia baru masuk di tahun 2008, saat Kompasiana hamil tua dan siap dilahirkan. Saya percaya betul Kompasiana akan menjadi lebih maju di tangan anak ini!

Boleh jadi penulis Kompasiana sekarang ini sudah mendekati angka setengah juta jiwa. Jika ini benar, sungguh suatu jumlah yang sangat-sangat buesssaaaar... untuk sebuah komunitas penulis.

Kompasiana tinggal memetik hasilnya. Ia sudah menjadi entitas bisnis sendiri di lingkup Kompas-Gramedia. Ia sudah menjadi "gacoan" bagi perusahaan induk karena kekhasan yang dimilikinya. Jika Tribunnews.com menjadi media online nomor wahid, untuk Kompasiana dengan sedemikian banyak penulis di dalamnya, harus diberi tempat di podium terhormat KG. 

Di balik itu semua, tidak banyak yang tahu kalau Kompasiana sebenarnya nyaris tinggal nama.

***