Ternyata Grogi Juga

Saya mau berlatih mengajar dulu bersama para guru senior sebelum mulai mengajar. Saya janji mau mempersiapkan materi pembelajaran saya dengan sebaik-baiknya.

Senin, 24 Oktober 2022 | 08:02 WIB
0
50
Ternyata Grogi Juga
Satria Dharma (Foto: dok. Pribadi)

Seorang teman dosen bercerita pengalamannya mengajar pertama kali. Dia bilang bahwa dia sangat grogi waktu pertama kali mengajar dulu. Saya tertawa karena jadi ingat pengalaman saya juga.

Ketika saya lulus dari PGSLPYD (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama Yang Disempurnakan) IKIP Surabaya pada tahun 1978, saya belum sempat berlatih mengajar di kelas seperti teman-teman saya yang lain. Memang ada mata kuliah praktek mengajar selama satu semester dan kami bergiliran diminta untuk praktek mengajar teman-teman sekelas. Tapi saya tidak pernah dapat giliran karena saya suka bolos. Ketika jadwal giliran praktik mengajar saya tiba saya sedang bolos mendaki gunung entah di Welirang, Arjuna, atau Semeru. Saya memang tidak serius kuliah untuk jadi guru. Saya ikut program ini hanya karena program ini ada uang tunjangan ikatan dinasnya setiap bulan yang sungguh besar untuk saya waktu itu.

Jadi saya hanya masuk kelas kalau uang TID-nya sudah mau keluar dan menghilang lagi begitu uang TID-nya sudah saya terima. Uang TID inilah yang saya pakai untuk traveling ke mana-mana dan mblakrak mendaki gunung bersama teman-teman sesama pecinta alam. 

Ketika saya sedang masuk kelas dan meminta agar diberi kesempatan untuk praktek mengajar tentu tidak bisa karena saat itu adalah jadwal teman-teman yang lain. Jadi saya hanya menonton teman-teman sekelas praktek mengajar.

Meski pun hanya praktek mengajar dan yang jadi audiens adalah teman-teman sekelas ternyata teman-teman saya ini grogi juga dan bahkan ada yang pucat pasi, tidak mampu mengeluarkan suaranya, tangannya berkeringat mengucur sampai keringatnya menempel semua di papan tulis.

Melihat situasi tersebut saya jadi ngakak. Ngapain sih kalian itu sampai begitu grogi? Kata saya pada mereka. Kan kami ini teman-temanmu semua. We’re no strangers. Just relax, kata saya. Tapi mereka tetap grogi dan saya tetap tidak bisa menahan ketawa melihat mereka mematung dan pucat pasi seperti itu. Semakin grogi mereka semakin senang saya menggoda mereka. Saya sengaja bertanya yang saya tahu mereka tidak akan bisa menjawab. Dan mereka akan semakin grogi. 

Kamu jangan tertawa seperti itu, kata dosennya kepada saya melihat saya terus tertawa. Lihat saja nanti kalau tiba giliranmu. Kamu juga akan mengalami hal yang sama, tambahnya. Never, ever…ever…, kata saya dalam hati. Ngapain saya grogi menghadapi teman-teman sendiri. Bisa-bisa malah mereka saya setrap saya suruh maju ke depan berdiri dengan satu kaki, kata saya dengan jumawa. Entah mengapa saya kok yakin banget bahwa saya tidak akan pernah grogi mengajar di depan kelas.

Ada darah guru mengalir di tubuh saya, kata saya dalam hati. Lha memang ayah dan ibu saya dulunya adalah mantan guru. Jadi mengajar di kelas itu sudah printed in my DNA. It’s in the blood. 

Menjadi guru itu sebenarnya tidak pernah menjadi cita-cita saya. Cita-cita saya itu pingin kerja jadi psikolog, guide, atau wartawan. Jadi guru itu sama sekali tidak terlintas di kepala saya.

Tapi kalau saya kemudian jadi guru sampai pensiun maka itu mungkin sudah suratan nasib. You said it’s in the blood and printed in your DNA, right? Yo wis iku badoken. 

Jadi ketika saya lulus dan ditempatkan di SMPN Caruban saya benar-benar belum pernah punya sekali pun pengalaman mengajar, meski hanya pada teman-teman di kelas. Pokoknya bagaimana mengajar di depan kelas itu belum pernah saya alami. Tapi saya kan punya belasan tahun pengalaman diajar di kelas dan melihat orang mengajar di kelas. Mestinya tidak terlalu sulitlah… Wong cuma gitu-gitu aja kok! Kata saya dalam hati.

Anak-anak, coba buka bukumu halaman sekian dan mari kita pelajari bersama.

Berdasarkan buku ini dijelaskan bahwa…..

Oleh sebab itu….

Dengan demikian berarti….

Apakah ada yang perlu Bapak jelaskan lebih lanjut…?!

Coba kamu yang duduk di pojok, jelaskan apa maksud dari kalimat ini. Yang lain perhatikan baik-baik. Jangan cengengesan….

Kamu yang cantik, coba perlihatkan senyum manismu pada Bapak… 

Halaaah…! Ya cuma begitu-begitu saja. Apalagi saya kan mengajar anak SMP. Apa susahnya sih ngajar anak SMP itu. 

Pada tahun 1978 (saya lupa tepatnya) saya melapor ke SMPN Caruban di mana saya ditugaskan. SK saya sebagai guru sudah turun beberapa bulan sebelumnya tapi saya masih ogah-ogahan untuk memenuhi kewajiban saya. Kan saya memang tidak tertarik untuk menjadi guru. Saya masih mulet saja dan berharap ada kesempatan untuk bekerja di lain tempat. Tapi saya diingatkan oleh ayah saya, diancam tepatnya, bahwa saya HARUS memenuhi kewajiban menjadi guru. Saya mendapat tunjangan dinas waktu kuliah dan sudah menandatangani kontrak untuk bersedia ditempatkan dimana saja di seluruh Indonesia. Jadi saya sudah terikat janji dengan negara. Sudah untung tidak ditempatkan di Maluku atau di Buton. 

Jadi saya berangkatlah ke Caruban. Kalau kewajiban saya mengajar selama dua tahun sudah selesai, seperti yang tertulis dalam kontrak, saya akan cabut dan cari pekerjaan lain, demikian kata saya dalam hati. Preketek dengan pekerjaan sebagai guru. 

Ada yang tidak saya sadari waktu itu, yaitu bahwa saya akan sangat menyukai pekerjaan sebagai guru setelah menjalaninya. Saya jatuh cinta pada pekerjaan mengajar ini dan tidak pernah mau mencari pekerjaan lain setelahnya. You said it’s in the blood and printed in your DNA, right? Yo wis iku badoken.

Begitu melapor pada kepala sekolah di SMPN Caruban saya lalu diajak ke ruang guru dan diperkenalkan dengan para guru yang ada di sana. Saya juga langsung diberi meja dan kursi sendiri. Hari itu saya resmi jadi guru di situ.

Ketika sedang asyik-asyiknya saya menikmati duduk di kursi guru milik saya itu, tiba-tiba saya diberitahu bahwa ada kelas kosong. Kebetulan guru bahasa Inggris, Pak Haryono namanya, di Kelas 2 D sedang tidak masuk. Jadi saya diminta untuk mengisi kelas itu…

Whaat….! 

Sing bener ae, rek…! Saya sungguh tidak siap untuk mengajar atau untuk mengisi kelas kosong pada hari itu. Saya hanya mau melapor bahwa saya siap untuk jadi guru di sini. Maksud saya kalau bisa saya mulai mengajar minggu depan gitu loh…! Saya ini sengaja melapor terlambat supaya tidak kebagian jam mengajar. Kan sekolah sudah dimulai dan semua mata pelajaran sudah dibagikan ke guru-guru yang ada. Saya mau magang dulu sama guru bahasa Inggris yang lain di sekolah ini. Jadi semacam asistenlah.

Saya mau berlatih mengajar dulu bersama para guru senior sebelum mulai mengajar. Saya janji mau mempersiapkan materi pembelajaran saya dengan sebaik-baiknya. Saya akan buka-buka buku pelajaran bahasa Inggris SMP yang akan saya ajarkan. Pokoknya saya akan mempersiapkan diri. Nanti kalau saya sudah merasa mantap baru saya siap menghadapi anak-anak SMP ini.

Lha ini kok tiba-tiba saya diminta untuk mengisi kelas kosong. Pale lu peyang…! 

Tapi tidak mungkin saya menolak dengan alasan tiba-tiba kena diare atau vertigo dan tidak bersedia masuk kelas. Itu kelakuan seorang pecundang. I’m no loser. Pantang bagi saya lari dari tugas. Kalau perlu nyawa saya pertaruhkan demi bangsa dan negara ini. Jangankan hanya mengajar, bertempur di medan perang pun akan saya hadapi. Bukankah darah guru mengalir di tubuh saya? It’s in the blood, right? 

Jadi saya pun melangkah diantar ke Klas 2 D dengan kepala berpikir keras apa yang harus saya lakukan nantinya di sana. Jantung saya berdegup keras dan keringat mulai mengalir di telapak tangan saya.

Saya berusaha menenangkan diri saya. Saya mensugesti diri saya dengan mengatakan bahwa I will just be fine there. Mereka hanya anak-anak ndeso dan saya adalah seorang lulusan sekolah guru yang penuh percaya diri. 

Dan terjadilah bencana itu…. 

(Cerita saya hentikan sementara. Sudah 1 000 kata lebih ini. Nanti kalau ada mood saya teruskan lagi ceritanya….). 

Surabaya, 24 Oktober 2022

Satria Dharma

***