Terlalu Cinta

Rasa nyaman di antara kami berdua sudah sirna. Jika diteruskan maka yang timbul hanya rasa gerah dan emosi yang tertahan. Saya yakin itu.

Rabu, 9 Juni 2021 | 07:54 WIB
0
29
Terlalu Cinta
Ilustrasi cinta (Foto: nusantaranews.co)

Pada dasarnya pasangan itu berpisah karena sudah tidak ada rasa cinta di antara mereka. Sementara saya dengan suami masih penuh dengan cinta. Bahkan suami terlampaui mencintai saya, sehingga rasa cintanya berubah menjadi menyakitkan buat saya.

Suami overprotective dan merasa saya ini miliknya secara mutlak, sehingga saya tidak ada ruang untuk bernafas. Saya merasa sesak dan butuh udara segar untuk bernafas dengan lega.

Kami pasangan yang gokil. Suami selalu out of the box, begitu juga dengan saya. Pertengkaran kami tidak bisa bertahan lama. Karena sifat suami yang tidak suka masalah berlarut-larut, maka dalam sekejap saja suami akan menyelesaikan masalah tersebut sampai tuntas.

Sungguh lucu, alasan perpisahan kami justru hal yang di luar dugaan. Suami tidak ingin melihat saya terlalu sesak ketika bernafas, maka suami mengambil keputusan keluar dari rumah. Pergi dan memilih membawa hatinya dalam diam.

Saya ingat banget, suatu malam kami mengobrol dari hati ke hati. Sebenarnya saat itu boleh dibilang kami bertengkar. Tetapi bertengkar dengan cara yang berbeda.

Suami bilang karena terlalu mencintai saya, sehingga yang timbul di hatinya adalah rasa benci dan tertekan melihat saya yang terlalu pragmatis jadi orang. Terlalu simpel dan selalu bisa menyelesaikan masalah yang kami hadapi.

Suami juga bilang kalau saya terlalu power full jadi perempuan, sehingga suami bingung harus bersikap bagaimana. 

Mendengar itu semua hati saya terasa sunyi. Saya memahami perasaannya. Saya juga mengerti posisinya. Maka ketika suami memilih meninggalkan rumah, saya memilih membiarkannya. Dengan harapan saat itu agar suami tidak menatap ke belakang.

Ternyata suami saat itu tidak menoleh ke belakang sedikitpun, dan di situlah saya bisa paham betapa putus asanya suami hidup dengan saya. Sehingga saat itu juga saya memahami keputusannya itu. Saya juga sangat mengerti sikapnya tersebut, makanya saya tidak berusaha mencegahnya. 

Saya juga menyadari bahwa keputusan tersebut memang yang terbaik buat kami. Mungkin bagi orang lain alasan tersebut terlalu mengada-ada. Tetapi saya justru melihat betapa kuatnya alasan perpisahan kami tersebut.

Hidup serumah hanya akan membuat hati kami hambar dan sibuk mencari alasan untuk selalu perang mulut. Sebelum hal tersebut terjadi, kami memilih mengakhirinya. Karena kami berdua tau itulah yang terbaik buat kami, terutama buat kedamaian hati anak-anak kami.

Rasa nyaman di antara kami berdua sudah sirna. Jika diteruskan maka yang timbul hanya rasa gerah dan emosi yang tertahan. Saya yakin itu.

Serang, Banten 25 mei 2021

***