Hikayat Kali Code [1] Asal Usul Nama dan Arti Penting

Denyut nadi yang serba kontradiktif inilah, yang kemudian melahirkan gagasan besar tentang Kampung Code yang dibangun YB Mangunwijaya.

Jumat, 8 Januari 2021 | 21:55 WIB
0
50
Hikayat Kali Code [1] Asal Usul Nama dan Arti Penting
Kali Code (Foto: Istimewa)

Beberapa bulan lewat, sekelompok fotografer muda Jogja di bawah komando Eko Susanto yang berencana membuat pameran foto (atau buku sic) tentang Garis Imajiner Yogyakarta. Lalu mereka berkunjung ke rumah saya dan bertanya, apa dan bagaimana memahami tentang "Garis Imajiner Kota Jogja" itu?

Apa yang sering dipahami secara sederhana poros Utara-Selatan pada dua hal pokok.

Pertama, tentang hubungan filosofis Gunung Merapi-Kraton-Laut Selatan, yang diterjemahkan sebagai Mbah Merapi-Ngarsa Dalem-Ratu Kidul. Dan Kedua, tentu dalam perwujudan fisik bangunan tetenger kota yang berbentuk poros Tugu-Alun-alun Lor- Kraton-Alun-alun Kidul-Kandang Menjangan.

Sialnya, mereka tidak sadar bahwa poros inilah yang sedang diperjuangkan oleh Pemerintah Provinsi Yogyakarta sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Sites). Kok bisa tak terinformasikan dengan baik?

Saya punya sedikit penjelasan. Bahwa di Yogyakarta dan sekitarnya, selain Kawasan Candi Borobudur dan Prambanan yang telah ditetapkan sebagai Situs World Heritage.

Sesungguhnya Kraton Yogyakarta pun pernah diajukan pada 19 Oktober 1995, hanya karena berbagai alasan akhirnya pencalonannya gugur atau minimal tertunda sampai entah kapan. Kegagalan ini yang akan dikoreksi dengan membuat ajuan pencalonan baru.

Tanya kenapa yang dulu gagal?

Sependek yang saya tahu, dengan pengalaman menyusun buku Ensiklopedi World Heritage. Sebuah situs akan bersaing pada tahun tertentu dengan usulan dari berbagai negara lain untuk ditetapkan sebagai situs resmi World Heritage. Tentu saja proposal pengajuannya sangat kompleks. Bukan saja menyangkut teknis kawasan yang diusulkan, arti penting, otentisitas, dll. Namun terutama menyangkut kesiapan si negara pengusul untuk mengelola situs tersebut lebih lanjut.

Seunik apa pun itu? Tanpa perhatian dan kepedulian, juga harus memiliki cara pandang yang sama. Bagaimana kerjasama antar sektor untuk kemudian mengelola secara bersama-sama. Dan apakah itu dimiliki oleh kota Jogja?

Kalau ukurannya, sebagai contoh kecil saja. Bagaimana selama ini pemerintah melakukan penanganan "kawasan sak upil" Tugu saja, yang nyaris never ending story. Dari tahun ke tahun berubah terus, tak pernah tuntas. Kok rasanya muskil dikabulkan.

Kalau usulan pertama hanya sebatas Kraton Jogja saja ditunda atau tidak diterima. Bagaimana mungkin kawasan yang lebih luas dan kompleks dari Puncak Merapi hingga Pinggir Laut Selatan, melewati bangunan-bangunan yang setiap hari bergerak terus penataannya.

Sependek yang saya tahu, terdapat tiga karakter yaitu Situ Budaya, Situ Alam, dan Kombinasi Keduanya. Barangkali pengusulan "Kawasan Sumbu Filosofis" akan menjadi alternatif ketiga. Artinya dalam satu kesatuan, namun terpisah2 letaknya. Dalam konteksnya menjadi sumbu "imajiner" itu.

Akankah kali ini berhasil? Kita tunggu?

Kalau menurut saya, dengan perbandingan yang hingga tahun 2019 telah mencapai 1121 situs yang tersebar di 167 negara itu. Kok berat yah? Apalagi nyaris selama dua dekade terakhir ini. Penambahan untuk Indonesia hanya bertambah tiga buah. Jadi total hanya 9 buah situs. Di luar kurang gigih dan bersungguh, selalu persiapan pengajuannya selalu terburu-buru dan gagal memahami selera para juri di UNESCO. Mau dibantu? Wani pira....

Dibanding "sumbu imajiner" saya lebih ingin menyoroti "sumbu nyata", yang konkret menjadi penanda kota ini untuk melengkapi hal-hal filosofis yang ada dalam konteks imajiner di atas. Dan dalam konteks Yogyakarta, hal ini sangat konkret terwakili oleh Kali Code.

Walau saya tahu bahwa Keraton Yogyakarta dianggap suci karena diapit enam sungai secara simetris yaitu Sungai Code, Gajah Wong, Opak Winongo, Bedhog dan Progo. Dengan hulu di sekitaran Gunung Merapi, yang disebut salah satu pasak penyeimbang Pulau Jawa,
di mana dari keenam sungai itu bila diringkas akan tersisa dua sungai besar yaitu: Progo dan Opak.

Karena keempat yang lainnya akan bermuara di kedua kali besar itu dengan ujung hulu di Laut Selatan yang bermakna melambangkan perjalanan manusia kembali ke Sang Pencipta. Sumbu Filosofis Yogyakarta itu melambangkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan alam.

Kenapa Kali Code istimewa?

Ya karena posisi-nya paling tengah. Ia adalah pengawal sesungguhny kraton yang dianggap sebagai pusat kehidupan manusia dia alam lahir. Kali inilah yang membelah dua kota Yogyakarta. Menjadi kawasan yang disebut Kulon Kali dan Wetan Kali, untuk menyebut kawasan hegemoni Kraton Ngayongyakarta dan Pura Pakualaman. Dua kakak beradik pewaris Kerajaan Mataram, yang ironis punya leluhur yang dulu punya istana sederhana di sisi Timur Kali Gajahwong di Kotagede.

Code memiliki peran sentral, karena kali ini untuk menandainya masuknya "area manusia" di kawasan Kraton yang berada di bawah kekuasaan Ngarsa dalem Hamengku Buwono. Walau dalam satu arus yang sama, namun di hulunya ia bernama Kali Boyong, dan di hilirnya bernama Kali Opak. Hal ini sebagaimana sumbu imajiner itu merujuk pada pembatasan kawasan pada kawasan "area lelembut" Mbah Merapi dan Kanjeng Ratu Kidul.

Bila ditotal panjang kali ini ± 41 km (jarak rambu dari muara) terbagi menjadi 2 (dua) yaitu: Sungai Boyong (sebelah hulu) panjang sungai 24 km dan Sungai Code (sebelah hilir) panjang sungai 17 km. Angka panjang 17 ini, juga dipahami bukan asal hitung. Ini adalah angka yang berniali spiritual, menunjukkan jumlah rakaat shalat yang harus dijalani para Muslim. Yang kemudian juga jadi tanggal pilihan Bung Karno untuk menetapkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Suatu kebetulan? Saya tidak tahu!

Lalu darimana asal usul nama Code itu?

Berdasar penelusuran saya pilihan kata Code tidak saya temukan dalam kamus bahasa Jawa Kontemporer, bahkan dalam Kamus Bausastra Jawa sekalipun tidak dikenal. Saya menemukan sebuah kosa kata yang mendekati justru dalam Kamus Jawa Kuno. Ada kosa kata "codya", yang kalau dilafalkan dalam lidah Jawa mendekati Code. Ia memiliki arti memaksa, mendorong, atau meminta. Ia bisa juga berarti mempertanyakan, mengajukan kritik, atau singkat kata "suka mendebat dan berdebat".

Saya lebih membaca makna "codya" adalah simbol perlawanan, tidak mudah takluk. Ia mengisyaratkan sikap pribadi yang merdeka. Sebagaimana juga menjadi prinsip banyak warganya yang memiliki watak terbuka yang mewarnai sepanjang sejarah kota Yogyakarta. Yang dalam sejarah tidak pernah benar-benar tertaklukan. Kalah sering, tapi terjajah itu bagian yang selalu dibantah. Jogja adalah proses negosiasi yang tak pernah putus dan selesai!

Dalam batas-batas tertentu ini adalah sikap kompromi yang terus menerus terjadi, yang dalam konteks hari ini. Tersimbolkan dalam prasasti yang ada di Tugu Jogja. Tulisan yang ada di keempat sisi Tugu tersebut yang letaknya sekira 200 meter di Barat Kali Code.

Keempat sisi Tugu tersebut, yang sesungguhnya adalah Tugu Baru yang dibangun pada masa HB VII. Sedangkan tugu aslinya yang bernama Tugu Golong Gilig dari masa HB I sebagai pendiri Kota Yogyakarta sudah lama runtuh karena gempa pada tahun 1867.

Keempat sisi prasasti tersebut menunjukkan kerjasama erat dengan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dengan pihak Kraton Yogya. Terdapat sikap saling menghargai dan mengakui. Prasasti ini menyebutkan bahwa pelaksanaan pembangunan tugu dipimpin oleh Patih Danurejo V (1879-1899), dan arsitektur tugu dirancang oleh YPF Van Brussel, seorang petugas Dinas Pengairan Belanda yang bertugas di Yogyakarta.

Lalu apa arti penting Kali Code?

Saya punya catatan yang cukup banyak tentang denyut nadi kehidupan di sepanjang pinggir kali ini. Bagaimana kampung-kampung di sisi kanan-kiri membentuk kampung-kampung unik dengan spesifikasi yang khas. Bukan saja sebagai bagian dari penempatan para abdi dalem kraton untuk tugas-tugas tertentu. Namun kemudian tumbuhnya juga budaya modern yang menyertainya, apakah itu fotografi, radio pemerintah maupun swasta. Tumbuhnya kuliner-kuliner khas yang menjadi ikonik. Juga rumah-rumah ibadah inklusif yang menjadi tetenger kota.

Rata-rata sifat kampung di sepanjang Kali Code adalah sebuah Ledok, karena topografi dan kontur tanahnya suatu bentuk cekungan. Yang membuatnya memiliki kultur tersendiri. Dimana pada sisi Tengah Kota lebih bersifat priyayi, namun dengan ujung Utara dan Selatan ditempati kaum wong cilik dengan karakter yang sangat berbeda. Tak heran di kedua ujung adalah kawasan slum, kumuh, dan tak bertuan. Di masa lalu ia penuh dengan mitos kemiskinan, kebodohan, dan kekerasan.

Denyut nadi yang serba kontradiktif inilah, yang kemudian melahirkan gagasan besar tentang Kampung Code yang dibangun YB Mangunwijaya. Satu-satunya sisi kota Yogyakarta yang memperoleh pengharagaan internasional dan menjadi legenda hingga hari ini. Code itu melahirkan banyak orang besar dari Kassian Chepas fotografer pribumi pertama hingga Devi Dja sebagai artis internasional Indonesia pertama. Jangan lupa, Sukarno, eh Fatmawati Sukarno melahirkan Megawati juga di pinggir Kali Code. Terlalu banyak cerita dari pinggir kali ini...

Paling tidak tujuh puluh enam hari ke depan, saya akan bercerita tentang sisik melik, berbagai segi dan sisi Kali Code dari kacamata saya. Bukan kebetulan, saya lahir, besar dan tinggal di kawasan ini. Sehingga bagi saya Kali Code itu adalah tanah air terkecil. Dimana semasa kecil, saya mandi, menyusur kali, bermain pasir. Dan saya terpanggil untuk sedikit memberikan kesaksian banyak hal untuk dituliskan ulang dari sekacau, sependek, dan sebego cara saya berpikir dan membaca.

Siapa tahu tulisan sepele, sesepele upil hidung ini bisa jadi buku untuk menandai 76 Tahun Indonesia Merdeka kelak.

NB: Ilustrasi adalah foto tertua yang berhasil saya temukan tentang Kali Code. Buah karya Kassian Cephas bertarikh tahun 1896, yang menjadi koleksi Mayor H.A.L. Wichers, seorang perwira KNIL di yang sempat terlibat Perang Aceh. Saat Code masih benar2 sungai yang steril dari pemukiman.

Catatan: Tulisan kedua besok tentang Loji Kecil.

***