Akibat Anak Disekolahkan Terlalu DIni

Jika anak tetap disekolahkan terlalu dini, potensi blast (Bored, Lonely, Afraid/ Angry, Stress, Tired) malah berkembang. Hal tersebut tentu tidak baik bagi perkembangannya kelak.

Minggu, 6 Februari 2022 | 07:22 WIB
0
46
Akibat Anak Disekolahkan Terlalu DIni
Ilustrasi anak (Foto: khoiruummahciledug.sch.id)

Ada yang beranggapan bahwa anak-anak yang disekolahkan formal sejak dini mempermudah mereka dalam menyerap setiap ilmu yang telah diajarkan di sekolah.

Anggapan itu pun tak sepenuhnya salah, tetapi juga tak sepenuhnya bisa dikatakan benar.
Anggapan tersebut mungkin dapat dikatakan benar karena memang usia perkembangan anak khususnya usia dini adalah masa keemasannya dalam bertumbuh kembang. Pada fase tersebut, anak memiliki kemampuan berkembang yang sangat pesat dibandingkan dengan fase usia pertumbuhan lain. Anak akan sangat sensitif dalam menerima segala informasi lingkungan sekitar dan pengaruh dari luar.

Perkembangan tersebut berkaitan dengan perkembangan dari sisi berpikir, emosi, dan kecerdasan serta perkembangan motorik, maupun sosialnya.

Namun, di sisi lain, kemampuan anak secara mental belumlah matang secara sempurna. Hal tersebut berpotensi mengakibatkan anak akhirnya cepat jenuh dalam mengikuti proses belajar mengajar.

Mereka (orang tua) yang tak peka terhadap kondisi anak juga rentan membuat anak mengalami kondisi tertekan. Kondisi tertekan tersebut disebabkan oleh proses belajar mengajar berbasis pendidikan formal yang cenderung menjemukan. Anak yang seharusnya bahagia dengan dunia bermainnya harus dihadapkan dengan pelajaran-pelajaran yang tak semuanya sesuai dengan umur perkembangannya.

Problem lain pun hadir dari rekan-rekannnya yang secara umur lebih dewasa dari usianya. Masalah tersebut dapat berupa kemampuan berinteraksi dengan dunia seusia rekannya, yang notabenenya berusia lebih dewasa dari dirinya. Jika anak tak mampu untuk mengikuti dunia dan pola pikir anak yang lebih dewasa, ditakutkan sang anak berpotensi mengalami pengucilan atau bulliying dalam peer groupnya.

Dalam psikologi, pengaruh dari peer group seorang anak akan lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh lingkungannya. Terlebih lagi jika hubungan orang tua dan anak memiliki kerenggangan.

Oleh karena itulah, orang tua perlu meninjau kembali keinginan menyekolahkan anak secepat mungkin dalam pendidikan formal. Pada usia dini, pendidikan terbaik adalah didikan orang tua.

Apabila dicitrakan dengan sebuah ketenaran seorang artis, anak yang disekolahkan terlalu cepat sebelum usianya mirip dengan seorang artis karbitan dari ajang pencarian bakat atau artis musiaman yang fenomenal akibat sosial media. Ia akan cepat untuk melejit, tetapi cepat pula turun, jatuh, terperosok dan akhirnya hilang.

Diperlukan kesabaran bagi orang tua untuk mendidiknya di lingkungan keluarga. Ajarkan ia terlebih dahulu tentang nilai-nilai moral, sopan santun, dan akhlak yang baik dari keluarga. Jadilah orang tua yang menjadi role model utama bagi anak. Karena basis utama dari pendidikan terbaik adalah menanamkannya sebuah karakter yang bermartabat.

Terkadang kita lupa memperhatikan akhlak, nilai moral, dan sopan santun. Sebagian besar orang tua hanya terfokus pada pencapaian prestasi-prestasi yang bersifat keduniawian. Anak dituntut secara paksa mengikuti pola-pola pendidikan era kolonial yang harus pakem dengan pencapaian yang baku.

Akhirnya, kreativitas dan potensi anak yang dimiliki pun teredam dengan bentuk standar yang sudah dibakukan. Bahkan terkesan haram dilakukan pembaharuan oleh anak didik. Maka jangan heran jika banyak generasi bangsa saat ini yang menjadi intelektual, tetapi sepi dengan kreativitas yang membangun.

Selain itu, kesadaran orang tua mengenai apa yang paling tepat bagi anak terkadang luput untuk dilakukan. Perhatian orang tua hanya melihat dari pencapaian nilai di atas kertas. Tak sedikit yang menyunat waktu bermain anak dengan memberikan les ini dan itu yang justru bikin bosan bukan main kepalang bagi anak.

Pagi-pagi berangkat sekolah, pulang sekolah les bahasa, malam les matematika, sepulang les mengerjakan tugas sekolah begitu seterusnya setiap hari. Yang terpenting bagi anak usia dini hanyalah mereka bisa bahagia dengan bermain. Titik...

Sekolah seharusnya menjadi urusan nanti ketika anak memang sudah siap. Takut jika anak tertinggal? Apakah benar anak merasakan hal yang sama? Yuk mari renungkan kembali pertanyaan tersebut.

Ketakutan tersebut alangkah lebih baiknya diinvestasikan dengan berusaha keras mencintainya dengan kasih sayang yang sebenar-benarnya. Tanpa ada embel-embel gengsi dan harapan pada pencapaiann selembar kertas.

Anak umur 5 tahun, bahkan kurang dari itu, merupakan masa-masa anak belum begitu memahami cara bersosialisasi dengan baik. Jika memaksanya bersekolah, ia tentu kesulitan mengikuti aturan-aturan yang diterapkan oleh pihak sekolah. Hal itu bisa membuat anak merasa tertekan dan tidak nyaman di lingkungan sekolahnya.

Jika anak tetap disekolahkan terlalu dini, potensi blast (Bored, Lonely, Afraid/ Angry, Stress, Tired) malah berkembang. Hal tersebut tentu tidak baik bagi perkembangannya kelak.
Membuat anak menjadi cemerlang tak mesti harus dimasukkan ke dalam pendidikan formal sedini mungkin. Anak bukanlah miniature atau benda mati yang dengan sesuka hati dapat kita perlakukan tanpa persetujuan sang anak. Ingatlah bahwa ia merupakan buah hati yang sudah sepatutnya untuk didengarkan pendapatnya pula.

Karena kasih sayang adalah kasih yang tak mengekang dan menekan. Karena kasih adalah saling pengertian dan pemberian rasa aman dan nyaman yang di landasi cinta tulus ikhlas. Ingat, masa kecil yang sedemikian indahnya itu hanya bisa dinikmati sekali seumur hidup. Jangan rampas hak anak demi gengsi orang tuanya.

Semangat pagi....

***