Sebagai Model Yesus Sekaligus Yudas

Dengan mata letih, Da Vinci mengamati wajah napi. Ia menggelengkan kepala, “Tidak, saya tidak pernah melihat anda sebelumnya, hingga anda diizinkan ke luar dari penjara bawah tanah Roma.”

Senin, 5 April 2021 | 09:05 WIB
0
28
Sebagai Model Yesus Sekaligus Yudas
Ilustrasi Yesus dan Yudas (Foto: jawaban.com)

Di dunia ini, tak ada lukisan yang bisa melampaui kedahsyatan Il Cenacolo, karya Leonardo da Vinci. Lukisan yang kita kenali sebagai ‘the last supper’ atau ‘perjamuan terakhir’. Sebenarnyalah hanya sebuah lukisan mural, ditabalkan di dinding atas ruang makan Konven Santa Maria delle Grazie di Milan, Italia.

Sebelumnya, sudah banyak lukisan menggambarkan peristiwa itu. Tapi berbeda dengan lainnya, Da Vinci menyandingkan Yudas di sisi terdekat Yesus. Lukisan dinding itu juga sudah beken jauh sebelum novelis Dan Brown menyebut dalam ‘Da Vinci Code’. Dan Brown menyebut lukisan itu memiliki banyak kode-kode rahasia, yang menjadi jawaban banyak pertanyaan di dunia.

Namun sesungguhnya Dan Brown tak merinci; Apa saja kode rahasia yang bisa menjadi jawaban itu? Pertanyaan dunia mengenai apa saja yang masuk kriteria? Apakah seorang tukang kayu seperti Jokowi menjadi Presiden, juga menjadi bagian rahasia dunia? Dan mengapa orang susah beryukur serta bersama, lebih memilih merecoki karena membenci?

Itu pertanyaan politis yang seolah dititipkan. Padal tidak. Sebagaimana apakah Gubernur Pontius Pilatus menjadi sumber ilham Indonesia di jaman pandemi; Untuk melakukan 3M, seperti mencuci tangan, memakai masker untuk tutup mulut, dan menjaga jarak?

Siapa coba gubernur atau pejabat negara yang tak suka cuci tangan dari tanggung jawab? Menutup mulut pakai masker atas korupsinya? Dan menjaga jarak dengan rakyatnya, dan lebih suka temu-virtual?

Yang pasti, di samping Mona Lisa, karya Da Vinci mengenai malam terakhir menjelang Paskah itu, memang sangat fenomenal. Dimulai sekitar tahun 1495-1496, dan dipesankan sebagai bagian dari rencana renovasi gereja dan bangunan konvennya, Leonardo menggambarkan secara dramatis kekhawatiran dan keraguan murid-murid Yesus. Inilah pertama kali konon seorang pelukis memasukkan drama ke dalam lukisan, dengan teknik tingkat tinggi dan sangat detail.

Tidak seperti Mona Lisa yang pernah dicuri dan dirusak, Il Cenacolo tak pernah dicuri. Bagaimana mau dicuri, karena lukisan ini tidak dibuat di atas kanvas dan dibingkai indah, melainkan dilukis di tembok gereja? Mau menggondol sekalian temboknya? Lha wong terakhir dalam Perang Dunia II, biara Santa Maria delle Grazie hancur lebur karena bom, namun tembok di mana Il Cenacolo berada masih tetap berdiri tegak.

Keberadaannya yang lebih dari 500 tahun, tentu telah mengalami berbagai perubahan teknikal. Dikarenakan metode yang digunakan, berbagai faktor lingkungan, dan kerusakan yang disengaja, sangat sedikit lukisan asli yang masih ada sampai sekarang, dari banyaknya upaya restorasi (yang terakhir diselesaikan tahun 1999).  

Jika ingin melihat lukisan indah ini, tentu kudu ke Milan, Italia. Kita hanya dimohon untuk rela merogoh kocek sebesar 15Euro, atau sebelum pandemi sekitaran Rp225ribu. Tiket harus dibeli beberapa minggu sebelumnya. Dan pengunjung diberi waktu 15 menit untuk menikmati lukisan tersebut.

Kehebatan lainnya, ini yang lebih penting ingin saya ceritakan. Bukan sekedar lukisan dibuat selama 7 tahun, dan menggambarkan 12 rasul serta Yesus sendiri yang sedang mengadakan perjamuan terakhir. Namun, mengenai cerita di baliknya, atau mungkin saja salah satu kode rahasia yang disebut Dan Brown dalam novelnya. 

Leonardo da Vinci, untuk menggambar 13 karakter, Yesus beserta 12 murid atau para rasul itu, membutuhkan model. Manusia hidup tentunya. Karena ini bukan saja proyek serius dari raja, namun karena mengenai Yesus, pada masa-masa tergenting.

Pertama-tama, Da Vinci memilih melukis sosok Yesus. 

Ia pun melakukan observasi. Mengamati ratusan anak muda, untuk mencari pola wajah dan kepribadian yang cocok. Wajah yang tidak terlalu tercemar oleh dosa. Berminggu-minggu kemudian, ketemulah seseorang yang cocok untuk penggambaran Yesus. Seorang anak muda berusia 19 tahun, memiliki wajah polos dan tidak tercemar dosa. Ehm.

Selama enam bulan, Da Vinci melukis karakter ini dengan serius. Hingga kemudian, enam tahun berselang, Da vinci melanjutkan pekerjaannya. Da Vinci mencari tokoh-tokoh yang tepat untuk dilukis sebagai perlambang kesebelas rasul. Yudas Eskariot dikerjakan paling akhir. Mungkin saja Da Vinci ingin menggarap sangat serius karakter wajah yang menjadi kontras Yesus.  

Selama berminggu-minggu, Da Vinci mencari orang berwajah keras, bertampang penipu dan suka mengkhianati teman sendiri. Ehm, emangnya ada, ya, tipikal wajah orang baik dan buruk hati? Begitulah cara pandang waktu itu, sebagaimana diteruskan di Hollywood, wajah kayak gini karakternya kayak gitu. Hidung bengkok tipikal penjahat. Kalau jagoan, ya, mesti kayak Brad Pitt, atau setidaknya saya. 

Akhirnya ditemukanlah sosok lelaki di penjara bawah tanah Roma. Napi dengan hukuman mati sebagai penjahat dan pembunuh. Dalam kegelapan bawah tanah, Da Vinci melihat pria tak terurus, berewokan, rambut awul-awulan tak disisir. Seraut wajah yang ‘melukiskan’ sifat sangat kejam dan bejat. 

Atas seizin raja, napi itu pun dibawa ke Milan untuk dilukis. Selama enam bulan napi ini duduk di hadapan Da Vinci. Saat menyelesaikan sapuan terakhir, Da Vinci menyuruh pengawal membawa napi itu keluar. Saat itu, si napi mendadak melepaskan diri dari pengawal. Berlari menuju ke Da Vinci seraya menangis, “Oh, Da Vinci, pandanglah saya! Apakah anda tidak tahu siapa diri saya sebenarnya?” 

Dengan mata letih, Da Vinci mengamati wajah napi. Ia menggelengkan kepala, “Tidak, saya tidak pernah melihat anda sebelumnya, hingga anda diizinkan ke luar dari penjara bawah tanah Roma.”

Sambil menengadah, tahanan itu menangis, “Ya Tuhan, apakah saya sudah terjatuh begitu dalamnya?” 

Napi itu memandang kembali si pelukis, dan terus saja terisak, “Da Vinci, saya adalah anak muda yang pernah anda lukis 7 tahun lalu, sebagai perlambang Yesus!”

“Yak-awoh,…” mungkin begitu kesah Leonardo da Vinci. Saya tak berani memastikan, karena tidak di-tkp. 

Tapi, mungkin ini salah satu kode rahasia yang ingin disampaikan Dan Brown. Mungkin lho, ini juga Cuma tafsir. Tapi, tak ada kaitan wajah dengan watak. Hanya para pembuat film jadul saja yang memakai kriteria karakter dengan wajah. Pantesan, banyak orang ingin dikesankan berwajah agamis, religius, sampai perlu dengan gelar-gelar penuh iman. Nggak tahunya penjahat rupiah, atau penjahat kelamin. 

Sebagaimana model wajah Yesus ketika Da Vinci mengawali lukisannya. Cupu, culun punya, dan tak berdosa. Tetapi 7 tahun kemudian, ia yang kebetulan (lagi-lagi secara tak sengaja) dipilih Da Vinci sebagai model, namun untuk karakter yang berseberangan, Yudas Eskariot.

Metpaskah, mohon maaf lahir batin. Jangan lupa bercinta. 

@sunardianwirodono dari berbagai sumber, salah satunya dari aletia (tengkiyuk).

***