Bahan Makanan dan Makanan Terbuang (1)

Perbaiki sikap dan perlakuan kita terhadap bahaman makanan dan makanan. Beli makanan seperlunya, masak dan makan makanan secukupnya.

Minggu, 26 Juli 2020 | 07:18 WIB
0
42
Bahan Makanan dan Makanan Terbuang (1)
Makanan (Foto: suara.com)

Rata-rata konsumsi makanan masyarakat Indonesia per tahun sekitar 125 kilogram. Terdiri atas nasi 98 kilogram dan makanan lainnya 27 kilogram. Tapi tahukah Anda bahwa rata-rata food loss and waste – FLW (bahan makanan dan makanan yang tercecer dan terbuang) per orang warga Indonsia per tahun pada periode 2017 – 2018 sebanyak 300 kilogram?!

Menurut data P4G (Partnering for Green Growth and the Global Goals 2030), tahun 2018, average of food loss and waste Indonesia adalah yang tertinggi di dunia, 300 kilogram per tahun. Disusul Arab Saudi sekitar 250 kilogram, dan Amerika Serikat 188 kilogram. Food loss and waste itu terdiri atas buah dan sayuran yang gagal panen, tidak terpetik, bahan makanan yang tercecer saat dipanen, saat ditransportasikan, bahan makanan dan makanan yang busuk atau rusak, saat mengolah bahan makanan menjadi makanan, dan makanan yang tidak habis dimakan.

Artinya, jika kita punya cara atau alat yang bisa meminimalisir angka FLW, lebih berhati-hati dalam memperlakukan makanan, serta mengambil makanan secukupnya, maka sistem ketahanan pangan Indonesia akan naik 100%. Jika setiap kilogram makanan itu senilai Rp15.000, maka nilai makanan yang terbuang dalam setahun adalah Rp15.000 x 300 x 275 juta = Rp1.237,5 triliun. Lebih dari setengah Anggaran Belanja dalam APBN 2019! Setiap tahun kita membuang uang sebanyak itu.

Jika nilai FLW per tahun bisa diturunkan hingga 50% saja, artinya kita menghemat lebih dari Rp600 triliun per tahun. Angka yang cukup besar untuk bangun gedung sekolah, nombokin BPJS, bangun jembatan, nyantunin kaum miskin dan anak terlantar, beli kuota internet, dan lain-lain.

Dampak lanjutannya, angka imor akan menurun signifikan, hanya yang perlu-perlu saja yang tidak tersedia di Indonesia. Angka defisit perdagangan akan berkurang, bahkan neraca transaksi berjalan akan selalu surplus, meningkatkan nilai tukar Rupiah, dan seterusnya.

Caranya, cara dan alat-alat pertanian yang efektif, efisien, sesuai kondisi geografis Indonesia harus diciptakan. Kemudian alat dan sarana transportasi, pengolahan, serta penyimpanan untuk bahan makanan yang aman dan efisien harus dibuat. Pembangunan infrastruktur transportasi harus terus dilanjutkan. Tata perdagangan bahan makanan harus diperbaiki. Ini tantangan bagi para tukang insinyur dan ekonom Indonesia.

Dan satu lagi yang paling penting sekaligus paling sulit: memperbaiki sikap dan perlakuan kita terhadap bahaman makanan dan makanan. Beli makanan seperlunya, masak dan makan makanan secukupnya.

(Bersambung)

***