100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia

Saya beruntung juga tidak memasukkan kitab suci sebagai salah satu buku yang mempengaruhi Indonesia, meski kitab suci pasti mempengaruhi negara yang berketuhanan mahaesa ini.

Minggu, 29 Maret 2020 | 07:05 WIB
0
369
100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia

Seorang teman menulis status di Facebook-nya kira-kira, "Membandingkan Nabi-manusia hanya dilakukan orang yang tak paham agama. Orang yang tak paham agama pula yang ngotot memperkarakan kasus tersebut."

Pangkal status itu rupanya Sukmawati yang membandingkan Nabi Muhammad dengan Presiden Soekarno. Kita tahu Sukmawati salah satu putri presiden pertama RI itu.

Saya jadi teringat buku Michael H. Hart berjudul "100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah". Banyak teman kuliah membaca buku itu pada tahun 1990-an.

Saya sendiri "malas" membacanya, entah mengapa. Tetapi dari mereka yang membacanya, saya tahu bahwa Hart memposisikan Nabi Muhammad di rangking satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah. Hart menempatkan Isaac Newton di nomor 2 dan Yesus Kristus di nomor 3. Hart juga memasukkan orang-orang seperti Karl Marx, Kong Hu Cu, John F. Kennedy, Umar bin Khatab, Alexander Agung, Albert Einstein, Mao Zedong, di antara 100 tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah.

Bukankah Hart membanding-bandingkan Muhammad dengan manusia? Mengapa kita tidak heboh, menuntut buku ditarik dari peredaran atau melaporkan Hart ke interpol, misalnya? Buku tersebut malah mengalami cetak ulang berkali-kali.

Hart memperlakukan Muhammad sebagai manusia biasa serupa manusia-manusia lain yang ada dalam bukunya. Bahwa Muhammad ialah manusia, itu karena dia hidup dalam sejarah, dalam dunia profan.

Toh, meski sering disebut manusia luar biasa atau manusia paripurna, Muhammad tetaplah manusia. Dengan segala keluarbiasaan atau kesempurnaannya itu, Hart menempatkan Muhammad sebagai manusia paling berpengaruh dalam sejarah jika dibandingkan dengan manusia-manusia lain.

Lalu, apakah kita tidak heboh, tetapi malah senang, lantaran Hart menempatkan Muhammad di posisi nomor wahid? Pertanyaan jahil itu muncul demi saya mengingat Arswendo Atmowiloto yang dibui gara-gara bikin survei yang juga jahil yang menempatkan Muhammad bukan di urutan pertama, melainkan di urutan ke-11, sebagai tokoh paling dikagumi pembaca Tabloid Monitor yang dikelolanya.

Kita semestinya memandang pernyataan Sukmawati sebagai pendapat atau pikiran. Bila kita punya pendapat atau pikiran berbeda, mari kita debat Sukma, bukan melarangnya berpendapat apalagi melaporkannya ke polisi. Mari kita perkarakan Sukma di hadapan majelis ilmu, bukan di hadapan majelis hakim.

Seorang ustad, misalnya, mendebat Sukma dengan menampilkan sampul buku '100 Tokoh' ini di media sosial seraya menuliskan kalimat "...Pak Soekarno ada di urutan berapa?", bukan melaporkannya ke polisi.

Saya memiliki buku "Books that Changed the World: the Most Influential Books in Human History". Saya juga memiliki edisi bahasa Indonesianya. Buku itu memasukkan Alquran bersama-sama buku lain, antaran lain Kama Sutra, The Republic, The Communist Manifesto, The Wealth of Nations, Lady Chatterley's Lover. Bukankah penulis buku ini, Andrew Taylor, menyejajarkan Alquran, buku yang "ditulis" Tuhan, dengan buku-buku yang ditulis manusia?

Bila jalan pikiran "jangan bandingkan nabi dengan manusia" kita ikuti, kita mungkin akan memperkarakan penulis buku "Books that Changed the World" itu karena ia telah membandingkan bahkan menyejajarkan buku karya Tuhan dengan buku-buku karya manusia.

Terinspirasi buku "Books that Changed the World", saya mengomandani penerbitan buku "45 Buku yang Mempengaruhi Indonesia". Di tengah kultur "sedikit-sedikit lapor polisi, lapor polisi sedikit-sedikit", saya kadang berpikir beruntung juga tidak memasukkan kitab suci sebagai salah satu buku yang mempengaruhi Indonesia, meski kitab suci pasti mempengaruhi negara yang berketuhanan mahaesa ini.

***