Puasa Digital

Hidup pun akan terasa tak bermakna, sehingga kematian tampak menjadi pilihan yang masuk akal.

Jumat, 1 April 2022 | 10:17 WIB
0
58
Puasa Digital
Ilustrasi manusia (Foto: rumahfilsafat.com)

Di berbagai forum, saya berbicara tentang puasa digital. Awalnya, banyak orang terkejut dengan ide ini. Namun, setelah berdiskusi lebih dalam, titik terang pun timbul. Kita tidak hanya perlu melakukan puasa secara tradisional, tetapi juga puasa digital.

Secara umum, puasa adalah sebentuk mati raga. Orang menahan segala bentuk nafsu dalam jangka waktu tertentu. Ada yang puasa makan, minum, seks, merokok, bergosip dan sebagainya. Tujuannya adalah mencapai kebebasan dari dorongan nafsu di dalam diri, sekaligus kesehatan tubuh yang lebih baik.

Puasa digital adalah saat-saat bebas dari dunia digital. Orang meninggalkan gawai, komputer dan segala sesuatu yang menghubungkannya ke dunia digital. Tidak ada lagi browsing di media sosial, mesin pencari dan sebagainya. Untuk beberapa saat, demi keseimbangan batin dan kesehatan tubuhnya, orang memutus diri dari dunia digital.

Setelah keluar dari dunia digital, dunia tubuh sudah menanti. Ada keluarga dan sahabat yang perlu disapa. Ada dunia yang amat luas untuk ditelusuri, mulai dari laut biru, pohon hijau, gunung menjulang sampai perkotaan yang kompleks. Semua menanti untuk disentuh, dan dicintai.

Mengapa?

Lima hal kiranya penting untuk diperhatikan. Pertama, dunia digital telah menciptakan kecanduan untuk banyak orang. Kecanduan orang berarti orang seolah tak bisa hidup, tanpa hubungan ke dunia digital. Ilusi ini begitu kuat, dan menjadi sumber derita bagi banyak orang.

Dua, kecanduan akan membuat orang stress. Dalam jangka panjang, depresi akan muncul. Tanpa alasan, kesedihan akan terus muncul dalam jangka panjang. Hidup pun akan terasa tak bermakna, sehingga kematian tampak menjadi pilihan yang masuk akal.

Tiga, puasa digital akan menciptakan ruang tenang. Mata dan otak akan beristirahat. Secara keseluruhan, tubuh akan menemukan ruang untuk relaks. Proses penyembuhan bisa terjadi, baik di tingkat tubuh maupun batin.

Empat, puasa digital akan membuat hidup manusia lebih bermutu. Waktu bersama keluarga dan sahabat akan bertambah. Kebahagiaan batin akan muncul di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Ketika ajal menjemput, penyesalan pun akan jauh lebih kecil.

Lima, ruang tenang adalah kunci kreativitas. Puasa digital akan kunci untuk menciptakan ruang tenang semacam itu. Batin bersih dari segala konsep yang membuat diri cemas dan takut. Ide-ide baru pun lahir, serta menantang untuk diwujudkan menjadi kenyataan.

Bagaimana?

Ada dua kemungkinan puasa digital. Yang pertama adalah mengambil satu hari dalam seminggu untuk keluar dari dunia digital. Hari Sabtu atau Minggu bisa menjadi pilihan yang masuk akal. Di berbagai tradisi spiritual, memang ada satu hari yang dijadikan ruang untuk tenang, dan menemukan keheningan di dalam diri.

Yang kedua adalah mengambil satu waktu khusus di dalam satu hari untuk puasa digital. Misalnya, setelah jam 7 malam, orang keluar sepenuhnya dari dunia digital. Tidak ada pesan ataupun surel yang dibalas. Semua harus menunggu keesokan harinya.

Di dunia yang begitu cepat dan tidak pasti, puasa digital adalah sebuah kebutuhan. Ruang tenang bukan lagi milik para pertapa, tetapi menjadi kebutuhan semua orang. Waktu kita hidup di dunia ini sebentar sekali. Apakah mau dihabiskan dengan menatap monitor gawai atau komputer sepanjang hari?

***